Menhut: Tren Karhutla saat El Nino Menurun, tapi Harus Tetap Waspada

- Menhut Raja Juli Antoni menyebut kemampuan Indonesia mengendalikan karhutla terus membaik, dengan penurunan luas kebakaran hingga 55,6 persen sejak El Nino 2015.
- Keberhasilan pengendalian karhutla disebut hasil kolaborasi lintas lembaga seperti BMKG, BNPB, TNI-Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat yang memandang karhutla sebagai tanggung jawab bersama.
- Hingga Mei 2026 tercatat sekitar 81 ribu hektare lahan terbakar; Menhut mengingatkan kewaspadaan harus ditingkatkan karena musim kemarau diprediksi lebih panjang dan kering.
Jakarta, IDN Times - Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, mengatakan, kemampuan Indonesia mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menunjukkan perbaikan dalam beberapa siklus El Nino terakhir.
Meski demikian, pemerintah tidak boleh lengah karena ancaman karhutla pada periode El Nino 2026-2027 masih cukup besar.
Hal ini disampaikan Menhut Raja Antoni dalam Rapat Koordinasi Khusus Pengendalian Karhutla Tahun 2026 di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
“Jika kita melihat perjalanan penanganan kebakaran hutan dan lahan dalam beberapa siklus El Nino terakhir, ada satu hal yang patut kita syukuri, kemampuan kita dalam mengendalikan karhutla terus menunjukkan perbaikan,” kata Raja Juli Antoni dalam keterangan tertulis.
1. Luas karhutla berhasil ditekan hingga 55,6 persen

Menhut mengatakan, pada El Nino 2015, luas karhutla tercatat sekitar 2,61 juta hektare, turun menjadi 1,64 juta hektare pada 2019, dan kembali menurun menjadi sekitar 1,16 juta hektare pada 2023.
“Dalam dua siklus El Nino terakhir, luas karhutla berhasil ditekan hingga 55,6 persen dibandingkan kondisi tahun 2015,” ujar Menhut.
2. Menhut sebut karhutla jadi masalah bersama

Menurut Menhut, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi yang kuat antar berbagai pihak, mulai dari BMKG, BNPB, TNI-Polri, pemerintah daerah, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, hingga seluruh masyarakat.
“Karhutla bukan semata persoalan kehutanan, bukan semata persoalan lingkungan hidup, dan bukan hanya persoalan daerah tertentu. Karhutla adalah masalah bersama yang dampaknya dirasakan oleh seluruh bangsa,” ujar Raja Antoni.
3. Hingga Mei 2026, luas karhutla tercatat sekitar 81 ribu hektare

Meski grafik karhutla pada siklus El Nino menunjukkan tren menurun, Menhut mengingatkan, kewaspadaan harus tetap ditingkatkan.
Hingga Mei 2026, luas karhutla tercatat sekitar 81 ribu hektare atau meningkat dibandingkan periode yang sama saat El Nino 2019 maupun 2023.
Selain itu, BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan lebih kering dengan puncak kemarau pada Juli hingga September.
“Pak Menko sudah mengatakan tadi, kita melakukan antisipasi yang dilakukan dengan kepala daerah melalukuan OMC dan membuat sekat kanal, kalau semua stake holder masih bekerja dengan baik juga dengan peran TNI Polri serta partisipasi masyarakat tentunya kita akan bisa memenangkan pertarungan melawan karhutla ini,” ujar Menhut.
Sementara itu, Menko Polkam Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, mengatakan, penanganan dan penganggulangan karhutla merupakan tanggung jawab seluruh pihak. Tidak hanya itu, setiap pejabat baik Kapolda, Kapolres hingga Panglima Kodam dapat digeser atau mempertaruhkan jabatannya dalam penanganan karhutla.
“Tetap berlaku (pemindahan jabatan), bukan hanya Kapolda, Kapolres, sampai panglima Kodam juga, danrem, tetap itu mempertaruhkan jabatannya tadi saya ingatkan,” ujar Djamari Chaniago.
Rakor turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Perhubungan Suntana, dan Wakil Menteri Kehutanan Rokhmad Marzuki.
















