Pro Kontra JPO Sarinah, Pramono: Saya Bertanggung jawab

- Pembangunan JPO Sarinah diutamakan untuk difabel
- Promono siap bertanggungjawab
- Pembangunan kembali JPO Sarinah menimbulkan paradoks urban
Jakarta, IDN Times - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui adanya pro kontra terkait pembangunan kembali jembatan penyeberangan orang (JPO) di Sarinah yang dibongkar di era Anies Baswedan.
"Memang saya juga sudah membaca pro-kontranya masyarakat yang apa kelompok pejalan kaki menginginkan lewat tetap jalan kaki di bawah," ucap Pramono di Jakarta Selatan, Jumat (9/1/2025).
1. Pembangunan JPO Sarinah diutamakan untuk difabel

Dia mengatakan pembangunan JPO Sarinah dikhususkan untuk difabel. Meski demikian, Pramono menegaskan jalan untuk pejalan kaki tetap dibuka sehingga ada alternatif.
"Jadi JPO Sarinah dalam kajian ini memang diperlukan terutama untuk difabel. Jadi itu salah satu alasan kemudian kenapa diadakan. Jalan kaki di bawahkan tetap dibuka kemudian di atas sebagai alternatif pilihan," katanya.
2. Promono siap bertanggung jawab

Pramono mengatakan pembangunan JPO Sarinah tidak menutup akses pejalan kaki yang lain. Dia siap bertanggungjawab pembangunan kembali JPO Sarinah yang menuai pro dan kontra tersebut.
"Jadi tetap, semua enggak ada yang ditutup sehingga dengan demikian urusan Sarinah terus terang keputusannya sebenarnya sudah dulu tetapi kan saya sebagai Gubernur sekarang saya bertanggung jawab untuk itu," ucapnya.
3. Pembangunan kembali JPO Sarinah menimbulkan paradoks urban

Sebelumnya aktivis Koalisi Pejalan Kaki, Fahmi Saimima mengatakan pembangunan kembali JPO Sarinah di era Gubernur Pramono Anung menimbulkan paradoks urban.
"Di tengah lokasi yang telah 'disembuhkan' oleh pelican crossing dan desain jalan berbasis keselamatan, keputusan menghidupkan kembali JPO justru mencerminkan kemunduran: seolah kota kembali memaksa pejalan kaki menyesuaikan diri pada kendaraan, bukan sebaliknya," tegas Fahmi yang sudah dikonfirmasi IDN Times, Jumat (9/1/2025).
Fahmi mengungkapkan sejarah JPO Sarinah yang sebenarnya sudah menjadi sejarah urban. Dia menerangkan JPO tersebut dibangun pada tahun 1968 era Gubernur Ali Sadikin.
"JPO Sarinah tercatat sebagai JPO pertama di Jakarta. JPO ini langsung mengakses lantai 2 Gedung Sarinah, dulu dibangun juga Skybridge pertama dari Sarinah menuju Djakarta Theater (Skyline)," terangnya.
















