Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Profesor Inggris Soroti Feminist Political Ecology di UI

WhatsApp Image 2026-02-04 at 23.32.05.jpeg
Profesor Rebecca Elmhirst dari University of Brighton, Inggris Raya dalam diskusi di agenda dalam Saparinah Distinguished Lecture di Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026) (IDN Times/Lia Hutasoit)
Intinya sih...
  • Profesor Rebecca Elmhirst menekankan pentingnya etika kerja kolektif dalam pendekatan feminist political ecology.
  • Feminist political ecology bukan hanya teori, tetapi praktik bersama dalam menghadapi krisis lingkungan, politik, dan sosial yang saling berkaitan.
  • Pendekatan ini memperkaya cara memahami relasi manusia dengan lingkungan melalui kolaborasi lintas komunitas dan disiplin.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Profesor Rebecca Elmhirst dari University of Brighton, Inggris Raya, menekankan pentingnya etika kerja kolektif dalam pendekatan feminist political ecology. Hal tersebut disampaikannya dalam agenda Saparinah Distinguished Lecture di Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).

Dalam pemaparannya, Rebecca menegaskan feminist political ecology bukan sekadar kerangka teori, melainkan praktik bersama dalam menghadapi krisis lingkungan, politik, dan sosial yang saling berkaitan.

“Jadi sebenarnya yang ingin saya bicarakan hari ini bukanlah tentang apa itu ekologi politik feminis, tetapi tentang apa yang dilakukan ekologi politik feminis dalam hal etika bagaimana kita bekerja sama. Itulah mengapa saya menyebut ini sebagai ruang pertemuan di masa-masa sulit,” kata Rebecca.

Menurut dia, tantangan global saat ini menuntut kolaborasi lintas komunitas dan disiplin. Kerja bersama menjadi fondasi utama untuk membangun solusi yang inklusif.

“Jadi, dengan cara ini, semakin kita bekerja sama, semakin kita terhubung, semakin besar peluang kita untuk benar-benar membangun sesuatu, terus membangun sesuatu dengan cara inklusif yang menghormati semua suara dan semua posisi,” ujarnya.

1. Feminist Political Ecology punya ragam pendekatan

WhatsApp Image 2026-02-04 at 23.32.06.jpeg
Profesor Rebecca Elmhirst dari University of Brighton, Inggris Raya dalam diskusi di agenda dalam Saparinah Distinguished Lecture di Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026) (IDN Times/Lia Hutasoit)

Rebecca merujuk pada buku "Contours of Feminist Political Ecology" untuk menjelaskan luasnya pendekatan dalam kajian ini. Ia menegaskan tidak ada definisi tunggal dalam feminist political ecology.

“Ini adalah kumpulan berbagai ide, orang-orang yang mendekati pertanyaan tentang gender, lingkungan, manusia, alam, politik, dari berbagai perspektif, sudut pandang, sejarah, dan geografi yang berbeda,” kata dia.

Pendekatan yang beragam tersebut memperkaya cara memahami relasi manusia dengan lingkungan.

2. Feminisme sebagai gerakan melawan seksisme

Doa bersama dan penyalaan lilin mendukung pengesahan RUU PPRT, Kamis (16/3/2023). (Dok/JALA PRT)
Doa bersama dan penyalaan lilin mendukung pengesahan RUU PPRT, Kamis (16/3/2023). (Dok/JALA PRT)

Dalam sesi tersebut, Rebecca juga mengulas makna feminisme dengan mengutip pemikiran "bell hooks." Ia menekankan feminisme bukan sekadar isu perempuan, melainkan perjuangan bersama.

“Feminisme adalah gerakan untuk mengakhiri seksisme, eksploitasi seksis, dan penindasan. Feminisme memperjelas bahwa masalahnya adalah seksisme. Dengan kata lain, ini adalah masalah bagi kita semua, bagi seluruh umat manusia.,” bebernya.

3. Politik pengetahuan dan peran komunitas

ilustrasi perempuan bekerja
ilustrasi perempuan bekerja (freepik.com/freepik)

Rebecca menyoroti pentingnya politik pengetahuan atau epistemic politics dalam produksi riset dan kebijakan lingkungan. Ia mempertanyakan siapa yang selama ini dianggap sebagai produsen pengetahuan.

“Siapa yang dianggap sebagai produsen pengetahuan? Hal ini memaksa kita untuk merenungkan posisi kita dalam politik pengetahuan yang rumit, khususnya memperhatikan suara dan pengalaman hidup siapa yang membentuk pemahaman kita tentang dunia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendekatan feminist political ecology banyak dibangun melalui kerja sama dengan komunitas di berbagai negara, termasuk Indonesia, Filipina, dan Inggris. Kolaborasi tersebut bertujuan mengembangkan pertanyaan riset yang berangkat dari pengalaman hidup masyarakat.

4. Pentingnya menjaga ruang dialog agar ruang kajian terjaga

Puluhan mahasiswa melakukan aksi peringati Internasional Womens Day. IDN Times/Alfi Ramadana
Puluhan mahasiswa melakukan aksi peringati Internasional Womens Day. IDN Times/Alfi Ramadana

Rebecca menyebut sejumlah alat analisis utama dalam feminist political ecology, antara lain pendekatan interseksionalitas, fokus pada kehidupan sehari-hari, serta konsep reproduksi sosial dan perawatan. Pendekatan ini digunakan untuk memahami relasi kuasa, kelas, gender, dan sejarah kolonial dalam pengelolaan sumber daya alam.

Ia menegaskan, ruang dialog harus terus dijaga agar kajian ini tetap hidup dan relevan.

“Jadi, ini tentang menjaga pintu tetap terbuka untuk ide-ide baru dan kekuatan percakapan ketika dilakukan bersama-sama,” kata dia.

Melalui kuliah tersebut, Rebecca menekankan feminist political ecology bukan hanya alat analisis akademik, tetapi juga praktik etis untuk membangun kerja kolektif yang adil dan berkelanjutan di tengah krisis global.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Latest in News

See More

413 Juta Pelanggan Naik Transjakarta Sepanjang 2025

06 Feb 2026, 22:59 WIBNews