Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Program SMK 4 Tahun Mulai Jalan, Buat Jurusan yang Dibutuhkan Pasar

Program SMK 4 Tahun Mulai Jalan, Buat Jurusan yang Dibutuhkan Pasar
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti (pakai peci) bersama Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, M. Qodari (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Program SMK 4 tahun resmi berjalan untuk mencetak lulusan siap kerja, termasuk yang bekerja sama dengan P2MI dan SMK Go Global bagi tenaga kerja luar negeri.
  • Pendidikan 4 tahun di SMK bersifat opsional, bisa diterapkan sejak awal atau ditambah satu tahun setelah lulus dari program tiga tahun.
  • Jurusan di SMK 4 tahun difokuskan pada kebutuhan pasar dan potensi lokal seperti perkopian, kelautan, serta perikanan agar lulusan mudah terserap dunia kerja.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, program Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melaksanakan pendidikan 4 tahun sudah mulai berjalan. SMK itu dibangun untuk mencetak generasi yang siap bekerja .

"Sudah jalan sebagian, SMK 4 tahun sekarang sudah mulai berjalan termasuk SMK yang kerja sama dengan P2MI, SMK Go Global yang diproyeksikan untuk mereka yang siap bekerja di luar negeri. Sudah mulai jalan, sudah mulai jalan dan nanti minggu depan, tanggal 19 saya ke Surabaya launching untuk 3.000 pemberangkatan lulusan SMK yang siap ke luar negeri," ujar Mu'ti di kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

1. Ada SMK negeri dan swasta

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti (pakai peci) bersama Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, M. Qodari (IDN Ti
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti (pakai peci) bersama Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, M. Qodari (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Mu'ti mengatakan, SMK 4 tahun itu ada di SMK negeri dan swasta. Menurutnya, tidak ada perbedaan status.

"Karena semua sekolah, negeri maupun swasta mendidik anak-anak Indonesia. Semua. Jadi kita gak membedakan negeri, swasta," kata dia.

2. Tidak wajib melaksanakan pendidikan 4 tahun

Seorang pejabat mengenakan pakaian adat berbicara di depan mikrofon didampingi beberapa orang dalam acara kunjungan di Kupang.
Mendikdasmen RI Abdul Mu'ti (tengah) saat berkunjung ke Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Dalam kesempatan itu, Abdul Mu'ti menyampaikan, pendidikan 4 tahun itu tidak bersifat wajib, hanya diperuntukkan bagi SMK yang mau saja.

"Gak wajib. Jadi yang 4 tahun itu skemanya ada dua, ada yang memang sejak awal sekolah itu memang dirancang untuk 4 tahun. Misalnya di Semarang itu ada SMK, dulu SMK Pembangunan namanya, itu sudah dirancang sejak awal memang SMK 4 tahun," ucap dia.

"Tapi ada yang misalnya dia mau selesai 3 tahun, sudah selesai. Kemudian ada lagi yang sudah selesai 3 tahun kemudian mau nambah 1 tahun. Nah, itu kita berikan skema-skema yang memungkinkan mereka untuk bisa belajar dan dengan kompetensinya, bisa bekerja baik di dalam maupun di luar negeri," sambungnya.

3. Jurusan yang jadi prioritas

Seorang pria mengenakan batik motif tenun dan peci hitam berbicara di depan mikrofon dalam acara di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Mendikdasmen RI Abdul Mu'ti saat berkunjung ke Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Lebih lanjut, Mu'ti mengatakan, nantinya SMK 4 tahun itu akan tersedia jurusan yang dibutuhkan oleh pasar. Sehingga lulusannya bisa langsung mendapat pekerjaan.

"Lebih banyak (jurusan) pada apa yang dibutuhkan oleh market. Karena itu skema kami SMK itu kan ada tiga. Jadi sekarang kita dorong SMK yang dia memang dikembangkan berbasis keunggulan lokal. Jadi misalnya daerah-daerah yang penghasil kopi, kita dorong supaya ada SMK yang membuka program tentang perkopian. Berikutnya juga misalnya yang kelautan, perikanan, itu nanti sejalan dengan kebutuhan nasional untuk swasembada," ujar dia.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More