Comscore Tracker

Rekam Jejak Gempa di Sulbar: 2 Kali Picu Gelombang Tsunami

Gempa pada 2021 di Sulbar terjadi saat pandemik COVID-19

Jakarta, IDN Times - Sulawesi Barat termasuk wilayah rentan digoyang gempa bumi. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, Sulbar sudah digoyang gempa besar sejak 1820. Bahkan, ketika itu gempa diikuti gelombang tsunami. 

Pada 15 Januari 2021, Sulbar digoyang gempa dengan kekuatan magnitudo 6,2. Data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban tewas mencapai 46 orang. Sedangkan 826 warga luka-luka. 

Bagaimana sejarah gempa dan tsunami di Sulbar? Apa yang perlu dilakukan warga Sulbar untuk mengantisipasi bila terjadi gempa susulan?

1. Sejarah gempa hingga tsunami di Sulbar

Rekam Jejak Gempa di Sulbar: 2 Kali Picu Gelombang TsunamiTangkapan layar video gempa bumi di Majene, Sulawesi Barat/Istimewa

Dalam sejarahnya, gempa yang membuat kerusakan dan gelombang tsunami di Sulbar terjadi pada 11 April 1976. Gempa dengan kekuatan 6,3 SR di Polewali Mandar menimbulkan tsunami dan menyebabkan 13 orang meninggal.

Pada 23 Februari 1969, gempa dengan kekuatan 6,9 SR dengan kedalaman 13 km juga
menyebabkan tsunami setinggi 4 meter yang menerjang Desa Maliaya, Taan, Tepalang, Kecamatan Malunda hingga 100 meter. Sebanyak 64 orang meninggal dan hilang, 97 lainnya luka-luka, dan 1.287 rumah rusak.

Kemudian, pada 8 Januari 1984, gempa M 6,7 menyebabkan ratusan korban jiwa di
Kabupaten Majene dan Mamuju.

Menurut Koordinator Bidang Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, episenter gempa Majene pada dua hari yang lalu sangat berdekatan dengan sumber gempa yang memicu tsunami pada 23 Februari 1969. Gempa yang berulang ini disebabkan bangkitnya sesar naik Mamuju (Mamuju Thrust). 

"Namun, saat itu (tahun 1969) pusat gempa bumi berada di laut sehingga menimbulkan gelombang tsunami. Sesar naik Mamuju ini sangat aktif. Dari sebaran gempa utama dan susulan yang terjadi pada 14-15 Januari ada tiga (gempa) yang bisa kita kenali sumbernya dan memiliki kesamaan dengan gempa masa lalu," ungkap Daryono melalui keterangan tertulis pada Sabtu (16/1/2021). 

Rekam Jejak Gempa di Sulbar: 2 Kali Picu Gelombang Tsunami(IDN Times/Sukma Shakti)

2. BMKG imbau warga hindari bangunan dan gedung tinggi karena gempa susulan masih mungkin terjadi

Rekam Jejak Gempa di Sulbar: 2 Kali Picu Gelombang TsunamiFoto aerial Rumah Sakit Mitra Manakarra yang rusak akibat gempa bumi magnitudo 6,2 di Mamuju, Sulawesi Barat, Sabtu (16/1/2021). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Sementara, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengimbau warga di Sulbar untuk menghindari bangunan dan gedung-gedung tinggi karena dikhawatirkan masih ada potensi gempa susulan. Saat ini mainshock atau gempa utama, terjadi pada 15 Januari 2021. Sehingga, gempa yang terjadi pada Kamis, 14 Januari 2021 statusnya merupakan gempa pembuka atau pendahuluan (foreshock). 

BMKG memperkirakan akan ada gempa susulan yang kekuatan magnitudonya sama seperti gempa pada Jumat kemarin. Sebab, gempa bumi yang tergolong merusak itu masih harus menuntaskan energi yang masih tersisa di patahan yang bergerak. 

"Sehingga, masih dibutuhkan kekuatan yang setara M 6,2 kurang lebihnya," ungkap Dwikorita ketika berbicara pada program breaking news di stasiun Metro TV, Sabtu pagi. 

Oleh sebab itu, ia wanti-wanti pada warga dan Pemprov untuk berjaga-jaga menghadapi kekuatan gempa susulan yang kekuatannya setara dengan yang terjadi pada Jumat kemarin. 

Baca Juga: BMKG Peringatkan Ada Potensi Gempa Susulan di Sulbar Hingga M 6,2

3. BMKG memperkirakan situasi bahaya masih bisa terjadi hingga beberapa bulan ke depan

Rekam Jejak Gempa di Sulbar: 2 Kali Picu Gelombang TsunamiSebuah mobil dan bangunan rusak akibat gempa bumi, di Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (15/1/2021). (ANTARA FOTO/Akbar Tado)

Dwikorita juga memperkirakan kondisi bahaya dan darurat diperlukan antara beberapa minggu hingga beberapa bulan ke depan. Hal itu didasarkan pada estimasi gempa-gempa yang sudah terjadi sebelumnya. 

"Tapi, ini baru perkiraan saja. Jadi, kita siap-siap saja selama beberapa minggu hingga beberapa bulan ke depan," kata Dwikorita. 

Saat ini, tim BMKG masih terus berkoordinasi dengan pemda untuk memperoleh data. 

Dwikorita juga meminta agar warga tidak menghuni atau berada di dekat bangunan yang sudah retak atau miring akibat gempa sebelumnya. Selain itu, warga yang bermukim di dekat pantai agar segera menjauh.

"Jadi, bila warga yang tinggal di dekat pantai merasakan guncangan gempa lagi, tidak perlu menunggu peringatan dini, maka langsung segera menuju ke tempat yang lebih tinggi," tutur dia. 

Oleh sebab itu, Dwikorita berharap warga yang tinggal di dekat pantai sudah menyiapkan jalur evakuasi dan membuat tempat evakuasi di tempat yang lebih aman. 

4. BNPB berusaha mencegah tidak muncul klaster baru COVID-19 di titik pengungsian

Rekam Jejak Gempa di Sulbar: 2 Kali Picu Gelombang TsunamiSejumlah warga mengungsi di dataran tinggi di Mamuju Sulawesi Barat, Jumat (15/1/2021). (ANTARA FOTO/Akbar Tado)

Gempa bumi di Sulbar terjadi ketika pandemik COVID-19 semakin memburuk. Situasi di titik pengungsian bila tidak diatur berpotensi menimbulkan klaster baru.

BNPB membuat upaya pencegahan dengan tidak mengizinkan sembarang orang masuk ke titik pengungsian yang dihuni warga usai terjadi gempa bumi di Sulbar.

"Jadi, kami memberlakukan protokol kesehatan yang ketat. Kami membagikan masker bagi para pengungsi, sehingga diharapkan bisa dipakai di lokasi pengungsian. Selain itu, kami juga membagi lokasi pengungsi bagi pengungsi yang rentan dan tidak (terhadap COVID-19). Hanya orang sehat yang diizinkan ke titik lokasi pengungsian," ungkap Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Raditya Jati dalam jumpa pers, Sabtu. 

Berdasarkan data BNPB yang dirilis hari ini, ada sekitar 15 ribu warga di Kabupaten Majene yang mengungsi akibat rumah yang mereka huni hancur dihantam gempa bumi berkekuatan M 6,2. Di Kabupaten Majene, ada 10 titik pengungsian. Sedangkan, di Kabupaten Mamuju terdapat 5 titik pengungsian. 

Sementara, total korban meninggal dunia terus bertambah. Pada hari ini, korban tewas mencapai 46 jiwa. Sedangkan, 826 orang mengalami luka. 

Selain itu, jaringan listrik di Kabupaten Majene sebagian sudah menyala. Sedangkan, di daerah Mamuju, jaringan listrik masih padam. Artinya, para pengungsi terpaksa harus menginap di tenda dalam keadaan gelap gulita.

https://www.youtube.com/embed/y3DVEMXKA1g

Baca Juga: Ini Strategi BNPB Cegah Klaster COVID-19 di Titik Pengungsian Sulbar

Topic:

  • Rochmanudin
  • Jumawan Syahrudin

Berita Terkini Lainnya