Israel Dituduh Lakukan Aneksasi Lewat Permukiman Baru Dekat Yerusalem

- Lokasi proyek lebih dekat ke Yerusalem Timur, bukan Tepi Barat
- Tudingan aneksasi melalui pintu belakang oleh Peace Now dan Palestina
- Pemerintah Israel mempercepat ekspansi di wilayah pendudukan Tepi Barat
Jakarta, IDN Times – Pemerintah Israel kembali menuai sorotan tajam setelah rencana pembangunan ribuan unit rumah baru di dekat Yerusalem terungkap ke publik pada Senin (16/2/2026). Proyek kontroversial yang digagas Kementerian Perumahan dan Konstruksi Israel ini secara teknis memperluas batas kota Yerusalem ke wilayah pendudukan Tepi Barat untuk pertama kalinya sejak Perang Enam Hari 1967.
Pengembangan perumahan itu secara administratif terafiliasi pada permukiman Geva Binyamin atau dikenal sebagai Adam. Namun, para pengkritik dan organisasi pemantau hak asasi manusia menilai skema administratif itu hanyalah taktik pencaplokan tanah.
1. Lokasi proyek lebih dekat ke Yerusalem Timur

Rencana pembangunan mencakup sekitar 2.780 hingga 2.800 unit rumah dengan investasi proyek diperkirakan mencapai 120 juta shekel atau sekitar 38,7 juta dolar AS (Rp652 miliar). Secara resmi, otoritas Israel melabeli proyek itu sebagai perluasan dari permukiman Geva Binyamin yang terletak di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan lokasi fisik proyek justru berada di sisi tembok pemisah yang menempel langsung dengan Yerusalem, bukan di sisi Tepi Barat tempat Geva Binyamin berada. Area pembangunan itu terpisah jalan raya dan tembok keamanan dari permukiman induknya, sehingga tidak memiliki koneksi geografis langsung.
Wilayah konstruksi tersebut justru terhubung langsung dengan permukiman Neve Yaakov yang berada di Yerusalem Timur. Perumahan yang ditujukan bagi komunitas Yahudi Ultra-Ortodoks itu akan meningkatkan kehadiran Israel di area sengketa tersebut.
2. Tudingan aneksasi melalui pintu belakang

Kelompok pengawas permukiman Peace Now memperingatkan dampak politik dari rencana tersebut. Lembaga asal Israel itu menilai tidak ada hubungan fungsional antara proyek baru dengan permukiman induknya di Adam, melainkan murni perluasan wilayah Yerusalem ke arah Tepi Barat.
"Permukiman baru ini akan berfungsi sepenuhnya sebagai lingkungan Yerusalem, dan penunjukannya sebagai 'lingkungan' permukiman Adam hanyalah dalih yang dimaksudkan untuk menyembunyikan langkah yang secara efektif menerapkan kedaulatan Israel ke wilayah Tepi Barat," ungkap Peace Now, dilansir The New Arab.
Gubernur Yerusalem dari pihak Palestina mengutuk rencana itu dan menyebutnya sebagai upaya pencaplokan terang-terangan untuk mengubah karakter demografis Yerusalem. Manuver Tel Aviv dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional karena komunitas global tidak mengakui kedaulatan Israel atas Yerusalem Timur maupun Tepi Barat.
3. Tren percepatan pendudukan dan kekerasan di Tepi Barat

Pemerintah sayap kanan Israel di bawah Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu telah mempercepat ekspansi di wilayah pendudukan. Sepanjang tahun 2025 saja, rekor 28.163 unit rumah telah disetujui di seluruh wilayah Tepi Barat.
Saat ini terdapat lebih dari 200 ribu warga Israel tinggal di Yerusalem Timur yang dianeksasi secara sepihak. Sementara itu, lebih dari 500 ribu pemukim lainnya mendiami berbagai wilayah di Tepi Barat yang dianggap ilegal oleh hukum internasional.
"Jika dibangun, dan orang-orang tinggal di sana, mereka akan tinggal di sana sebagai warga Yerusalem," ujar Aviv Tatarsky, peneliti dari LSM Ir Amim, dilansir CNA.
Pengumuman proyek hunian itu muncul beriringan dengan persetujuan pendaftaran tanah Tepi Barat sebagai properti negara oleh Israel. PBB mencatat lonjakan pengusiran warga Palestina akibat kekerasan pemukim yang mencapai angka tertinggi sejak perang Gaza dimulai.


















