Jembatan yang Dibangun TNI di Tapanuli Tengah Rusak Lagi Kena Banjir

- Sekolah dan rumah warga di Tapanuli Tengah kembali terkena lumpur banjir
- Sedimentasi lumpur setinggi 2,5 meter tutup area sawah di Tapanuli Tengah
- TNI kerahkan 80 alutsista selama penanggulangan banjir Sumatra
Jakarta, IDN Times - Kepala Staf Umum TNI, Letnan Jenderal Richard Tampubolon, mengisahkan perjuangan anak buahnya di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, yang terpaksa bekerja dua kali untuk membangun jembatan, lantaran tersapu banjir susulan. Momen itu terjadi pada Senin (16/2/2026).
"Hujan dengan intensitas tinggi pada Senin kemarin menyebabkan jembatan-jembatan yang dalam proses pembangunan kembali dibawa oleh banjir," ujar Richard, ketika berbicara dalam rapat evaluasi pemulihan bencana di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (18/2/2026).
Ia kemudian berangkat menuju ke Tapanuli Tengah pada Selasa, 17 Februari 2025. Berdasarkan diskusi dengan tim Kementerian Pekerjaan Umum, Richard menyebut, pembangunan jembatan di Tapanuli Tengah harus sejalan dengan perbaikan di area hulu. Sebab, bila hujan masih terjadi, maka jembatan sulit dibangun di sana.
"Karena bila terus terjadi hujan selama berhari-hari dengan intensitas tinggi, maka ini akan mengganggu proses pembangunan (jembatan)," kata jenderal bintang tiga itu.
Oleh sebab itu, Richard membutuhkan putusan dari Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, sebagai pimpinan rapat agar perbaikan hulu dan pembangunan jembatan bisa berjalan secara paralel.
Di sisi lain, Richard mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pekerjaan Umum yang membantu membersihkan jalan dari bekas material longsor susulan. Dengan begitu, akses bagi mobilitas prajurit TNI masih tetap terbuka.
1. Sekolah dan rumah warga di Tapanuli Tengah kembali kena lumpur banjir

Lebih lanjut, Richard mengatakan, sekolah dan rumah-rumah warga yang sudah sempat dibersihkan di Tapanuli Tengah oleh prajurit TNI kembali dipenuhi lumpur dari banjir susulan. Alhasil, prajurit TNI di lapangan kembali membersihkan rumah dan sekolah yang sempat bersih itu.
"Karena kena banjir lagi, terpaksa (kena) lumpur lagi dan dikerjakan secara bersama-sama oleh prajurit TNI, relawan, hingga anggota kepolisian. Sehingga, aktivitas pendidikan dan lalu lintas logistik dapat berjalan," katanya.
2. Sedimentasi lumpur setinggi 2,5 meter tutup area sawah di Tapanuli Tengah

Di forum itu, Richard juga berbagi informasi kepada Menteri Pertanian, Amran Sulaiman. Ia mengatakan banjir susulan juga menghantam area persawahan milik warga. Sisa sedimentasi lumpur banjir dapat mencapai 2,5 meter.
"Di dalam sedimen lumpur itu juga terdapat batu. Kalau langsung ditanam kembali tidak akan maksimal," katanya.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, Richard mengusulkan sebaiknya tidak dilakukan optimalisasi di area persawahan yang terdampak banjir. Sebab, biaya dan anggaran yang ada tidak akan cukup mengangkat lumpur yang menutupi area persawahan itu.
"Kalau bisa, sesuai saran dari teman-teman di lapangan, program yang diusulkan adalah cetak sawah. Jadi, dengan anggaran yang banyak, mereka bisa angkat lumpur dan batu, baru kemudian masuk ke fase penanaman," tutur dia.
3. TNI kerahkan 80 alutsista selama penanggulangan banjir Sumatra

Sementara, berdasarkan laporan dari Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, selama penanggulangan bencana di Sumatra, TNI telah mengerahkan 80 alutsista yang mencakup pesawat, helikopter, hingga kapal.
Di sisi lain, mengutip data dari dashboard Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal akibat banjir Sumatra mencapai 1.206 jiwa. Angka itu diperkirakan bisa terus bertambah lantaran masih ada 141 warga lainnya yang dilaporkan hilang.


















