Persiapan Armuzna, Jemaah Haji Diminta Puasa Main HP

- Persiapan fasilitas di kawasan Armuzna mencapai 95 persen, mencakup tenda, AC, toilet, dan tempat salat yang telah dicek rutin oleh PPIH untuk memastikan kesiapan puncak haji.
- PPIH membentuk Tim Khusus Mina berisi petugas veteran guna mengawal jemaah saat melontar jumrah dan memberikan bantuan darurat agar pelaksanaan ibadah berjalan lancar.
- Ulama mengimbau jemaah menahan diri dari penggunaan ponsel saat wukuf di Arafah agar fokus berdoa dan berzikir, memanfaatkan waktu mustajab tanpa gangguan digital.
Makkah, IDN Times — Menjelang puncak haji di kawasan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi terus mematangkan kesiapan operasional yang kini telah mencapai 95 persen. Selain memastikan infrastruktur fisik tenda dan pendingin ruangan siap pakai, aspek spiritual jemaah haji Indonesia juga menjadi sorotan utama. Ulama dan petugas secara khusus mengimbau jemaah untuk menyimpan tenaga dan mulai "puasa" bermain handphone (HP) saat wukuf agar fokus bermunajat.
1. Fasilitas tenda Armuzna rampung 95 persen

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI melalui Kepala Satuan Operasi Armuzna PPIH Arab Saudi 2026, Surnadi, memastikan bahwa progres persiapan infrastruktur di Arafah dan Mina sudah hampir tuntas seratus persen.
"Dari mulai tenda yang mana sudah digelar semuanya, kemudian sarana di dalamnya seperti kasur sudah digelar semuanya," lapor Surnadi usai pengarahan di Hotel Dayf Al-Arkan, Makkah, Senin (18/5/2026). Fasilitas vital lainnya seperti pendingin ruangan (AC), toilet, dan tempat salat juga telah dicek secara berkala sejak pekan lalu. Jika ada kekurangan, pihak PPIH langsung mendesak pihak Syarikah (penyedia layanan Saudi) untuk segera memenuhinya.
Demi kelancaran operasional ini, Kepala Bidang Pelindungan Jemaah PPIH, Kolonel (Purn) Muftiono, memperingatkan seluruh petugas haji untuk menjaga kedisiplinan tingkat tinggi. "Jangan sekali-kali meninggalkan tugas," tegasnya optimis, mengingat proses rekrutmen, diklat, dan mitigasi tahun ini dilakukan jauh lebih matang.
2. Pembentukan "Timsus Mina"

Menyadari tingginya potensi kelelahan fisik pada fase melontar jumrah, PPIH tahun ini menghadirkan inovasi baru dengan membentuk Tim Khusus (Timsus) Mina.
Koordinator Bidang Satop Armuzna dan Pelindungan Jemaah, Harun Arrasyid, menjelaskan bahwa tim elit ini akan diberangkatkan lebih awal. "Timsus Mina ini akan bergerak sejak tanggal 7 Dzulhijjah. Tidak ke Arafah, tapi langsung ke Mina," ungkapnya.
Timsus ini mayoritas diisi oleh veteran petugas Pelindungan Jemaah (Linjam). Mereka bertugas siaga menyambut jemaah yang mengikuti skema murur, mengawal pergerakan dari tenda ke area lempar jumrah lantai 3, dan memberikan pertolongan darurat pada malam 10 Dzulhijjah. "Harapannya saat jemaah ke sana, terdapat petugas-petugas yang masih fresh karena sudah datang duluan," tambah Harun.
Secara teknis, pergerakan ini dibagi menjadi tiga komando: Satgas Arafah dikawal oleh Daker Bandara, Satgas Muzdalifah oleh Daker Makkah, dan Satgas Mina ditangani oleh Daker Madinah. Mengingat durasi Armuzna yang bisa memakan waktu hingga tujuh hari, jemaah diimbau kuat menjaga stamina dan tidak banyak keluar hotel sebelum waktunya.
3. Puasa ponsel dan gawai lain dari siang hingga maghrib di Arafah

Di luar persiapan fisik, persiapan spiritual di Padang Arafah juga menjadi perhatian khusus. Musyrif Diny (Pembimbing Keagamaan), KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, secara tegas meminta jemaah untuk meletakkan gawai mereka saat wukuf berlangsung.
"Jadi ketika di Arafah nanti, kita sudah menghindari dari main handphone pada waktu jam 12 siang sampai Maghrib. Yaumul Arafah itu supaya kita gunakan dengan sebaik-baiknya untuk doa, berzikir, atau baca selawat," imbau Kiai Kafabihi.
Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri ini mengingatkan bahwa Arafah adalah tempat dan waktu yang sangat mustajab (terkabulnya doa), sebuah privilese yang tidak bisa didapatkan di Tanah Air.
Ia juga melarang keras kebiasaan jemaah yang kerap sibuk melakukan panggilan video (video call) untuk pamer atau melakukan live streaming saat wukuf. Menurutnya, video call hanya boleh dilakukan jika tujuannya singkat, sekadar agar keluarga di Tanah Air bisa mengamini doa yang dipanjatkan dari Padang Arafah. Selebihnya, waktu harus dihabiskan untuk bermunajat secara khusyuk kepada Sang Pencipta.



















