Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

TNI Terlibat Kontak Tembak dengan OPM di Nduga, Dua Orang Tewas

3 min read
TNI Terlibat Kontak Tembak dengan OPM di Nduga, Dua Orang Tewas
Tim satgas Yonif 9 Marinir terlibat kontak tembak dengan anggota OPM Kodap IV/Sorong Raya di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. (Dokumentasi TNI Habema)
  • Kontak tembak antara Satgas Rajawali VI TNI Habema dan KKB Kodap III/Ndugama-Nderakma terjadi saat patroli di Kampung Nonggoloit, Nduga, pada 23 Oktober 2026; dua anggota OPM tewas.
  • TNI mengamankan senapan angin, busur, senjata tajam, perangkat komunikasi, dokumen, atribut kelompok, serta uang tunai Rp88 juta; identitas dua korban masih diperiksa.
  • Koops TNI Habema mengajak anggota OPM meninggalkan kekerasan dan kembali ke masyarakat, sementara Panglima TNI sebelumnya memerintahkan penindakan tegas terhadap OPM.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pangkoops TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto mengakui terjadi kontak tembak pada Jumat, 23 Oktober 2026 di sekitar Kampung Nonggoloit, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Akibatnya, dua anggota OPM itu tewas. Jenderal bintang satu itu pun menyayangkan adanya korban jiwa dalam kontak tembak tersebut.

"Kami menyayangkan adanya korban jiwa dalam peristiwa ini. Setiap nyawa memiliki nilai yang harus dihormati," ungkap Riyanto di dalam keterangan pada Sabtu (24/10/2026).

"Tujuan utama kami adalah menjaga keamanan agar masyarakat dapat menjalani kehidupannya tanpa rasa takut," imbuhnya.

Riyanto memastikan penanganan terhadap dua jenazah itu akan dilaksanakan secara layak dan bermanfaat.

  1. 1. Kontak tembak terjadi saat tim sedang melakukan patroli wilayah

    OPM, TNI Habema
    Barang bukti yang diamankan usai terjadi kontak dengan anggota KKB Kodap III/Ndugama-Nderakma di Kampung Nonggoloit, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Jumat, 23 Oktober 2026. (Dokumentasi Koops TNI Habema)

    Lebih lanjut, kata Riyanto, pasukan yang terlibat kontak tembak yakni personel Satgas Rajawali VI Den 1 Koops TNI Habema. Anggota OPM yang terlibat kontak tembak merupakan KKB Kodap III/Ndugama-Nderakma. Kontak tembak terjadi saat tim melakukan patroli kewilayahan.

    "Dari laporan yang diterima terungkap kontak tembak terjadi saat tim patroli wilayah menindaklanjuti informasi mengenai keberadaan KKB di sekitar pemukiman masyarakat. Saat dilakukan pemeriksaan, kelompok tersebut dilaporkan melepaskan tembakan ke arah aparat sehingga terjadi baku tembak," ungkap Riyanto.

    Usai terjadi kontak tembak, anggota OPM lainnya melarikan diri. Sementara, personel TNI Habema masih melakukan identifikasi terhadap dua anggota OPM yang tewas.

    Personel TNI juga mengamankan sejumlah barang, antara lain dua pucuk senapan angin, busur dan anak panah, senjata tajam, 18 unit telepon seluler, perangkat komunikasi HT, dokumen, atribut kelompok, dan uang tunai senilai Rp88 juta. Riyanto memastikan setiap tindakan dilakukan oleh prajurit TNI secara selektif dan terukur.

    "Setiap tindakan prajurit dilakukan secara terukur, profesional dan sesuai aturan pelibatan. Kami memprioritaskan keselamatan masyarakat di atas segalanya," tutur dia.

  2. 2. Koops TNI Habema imbau anggota OPM lainnya untuk kembali ke NKRI

    OPM, senjata, TNI, Papua
    Empat anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) ketika menyerahkan empat pucuk senjata kepada Pangkoops TNI Habema Brigjen TNI Riyanto. (Dokumentasi Puspen TNI)

    Brigjen TNI Riyanto juga mengajak seluruh pihak untuk meninggalkan kekerasan karena nantinya berhadapan dengan aparat keamanan.

    "Kepada saudara-saudara kita yang masih berada di hutan dan pegunungan, jalan untuk kembali kepada keluarga dan masyarakat tetap terbuka, hentikan kekerasan dan bersama-sama membangun kehidupan yang lebih baik bagi generasi Papua," kata Riyanto.

    Sebelumnya, Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III pernah menyebut 59 nggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) memilih kembali ke Indonesia selama pelaksanaan operasi di Papua pada Semester I Tahun 2026. Selain itu, ada pula 54 anggota OPM yang diklaim diamankan dengan cara harmonis dan menitikberatkan pada pembangunan daerah dan masyarakat.

  3. 3. Panglima TNI sudah perintahkan agar anggota OPM ditindak tegas

    Agus Subiyanto, TNI
    Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto ketika menghadiri festival band TNI. (Dokumentasi Puspen TNI)

    Sementara, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto sebelumnya pernah memerintahkan agar anggota OPM ditindak tegas lantaran kerap menyerang warga sipil. Dalam pandangannya, OPM merupakan kelompok separatis dan hal itu tak boleh dibiarkan.

    Pernyataan itu disampaikan Agus untuk merespons pertanyaan soal adanya protes dari anggota OPM yang menuding TNI membombardir organisasi tersebut menggunakan pesawat Super Tucano. Alutsista itu disebut OPM digunakan dalam operasi militer di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan.

    "OPM kan separatis ya maka harus ditumpas. Tak boleh ada separatis di negara kita," ungkap Agus di area Pancoran, Jakarta Selatan pada Minggu, 27 September 2026.

    Ia menambahkan masalah di Bumi Cendrawasih, khususnya terkait penanganan OPM, bukan menjadi tanggung jawab TNI semata. Jenderal bintang empat itu mendorong agar semua pihak ikut terlibat dalam penanganan di Papua agar masalah di sana bisa dituntaskan. Ia menilai bila hanya TNI yang terlibat mengurus Papua akan dipersepsikan tentara melakukan militerisime.

    "Kalau konotasinya hanya TNI nanti (dianggap melakukan) kekerasan. Padahal, TNI di sana itu melakukan operasi teritorial secara masif, mengurus gereja, hingga melakukan pengeboran untuk mendapatkan air bersih," kata mantan KSAD itu.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More