Cerita Dua Ibu Hamil Bertahan Ikut Pembekalan Bela Negara Kopdes

- Dua peserta SPPI, Wahyuni Fitri dan Berlianti Hasibuan, tetap mengikuti pembekalan bela negara meski sedang hamil delapan minggu di Pusdikkes Puskesad, Jakarta Timur.
- Dari total 229 peserta perempuan di pelatihan tersebut, hanya dua yang hamil dan mendapat perlakuan khusus tanpa kegiatan fisik berat selama program berlangsung.
- Komandan satuan pendidikan menegaskan kurikulum telah disesuaikan dengan arahan Kemhan, menghapus latihan militer taktis dan fokus pada disiplin serta kekompakan peserta.
Jakarta, IDN Times - Wahyuni Fitri (30) dan Berlianti Hasibuan (30) merupakan dua peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang tetap bertahan dan melanjutkan program pembekalan bela negara dan manajerial untuk calon manajer Koperasi Desa Merah Putih meski dalam keadaan hamil. Keduanya mengaku tengah hamil selama delapan minggu.
Sementara, Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah memulangkan 32 peserta perempuan yang ikut latihan dasar militer dalam keadaan hamil. Keputusan itu diambil usai lima peserta meninggal dunia ketika mengikuti latihan dasar (latsar) militer.
Wahyuni sendiri memilih tetap bertahan karena sudah melewati serangkaian tes untuk bisa mendapatkan pekerjaan sebagai calon pengelola koperasi. Keduanya menjalani penggemblengan di Pusat Pendidikan Pusat Kesehatan TNI di area Kramat Jati, Jakarta Timur.
"Kami kan sudah menjalani tes beberapa tahap. Kemarin itu kan kami sudah dinyatakan lulus. Kalau sudah dinyatakan lulus kan tinggal mengikuti latsarmil, makanya kami tetap mengikuti latsarmil ini," kata Wahyuni di Pusdikkes Puskesad, Kramat Jati, Jakarta Timur pada Selasa (30/6/2026).
Perempuan asal Riau itu mengaku sudah tahu kondisi kehamilannya sebelum masuk latsarmil. Lantaran hal tersebut, komandan satuan di Pusdikkes Puskesad memberikan perlakuan khusus dalam aktivitasnya selama satu bulan berada di sana.
"Kami tidak diikutkan kegiatan di lapangan. Namun, kami tetap belajar seperti rekan-rekan biasa," kata dia.
Pusdikkes Puskesad juga memasangkan tanda khusus di lengan sebelah kanan berwarna biru dongker yang menunjukkan Wahyuni dan Berlianti dalam kondisi hamil.
1. Meski hamil tetap ikut kegiatan dari subuh hingga pukul 21.00 WIB

Ketika IDN Times tanyakan apa saja rutinitasnya selama berada di pusat pendidikan, Wahyuni mengatakan, tidak ada pembedaan dengan peserta lain yang tidak hamil. Kegiatan setiap harinya dimulai pukul 04.30 WIB. Lalu, dilanjutkan senam pagi.
"Ketika senam pagi kan ada kegiatan fisik, tapi kami tetap hadir di lapangan, sama-sama mengikuti kegiatan. Lalu, dilanjutkan dengan salat subuh dan mandi," kata dia.
Kegiatan dilanjutkan dengan sarapan, pembersihan, apel pagi. Lalu, kegiatan di kelas.
"Kegiatan terakhir ditandai dengan apel malam setelah salat Isya. Pada jam 21.00 sudah istirahat," kata dia.
2. Ada 229 peserta SPPI di Pusat Pendidikan Kesehatan Puskes AD dan semua perempuan

Ketika ditanyakan apakah ada keluhan yang dirasakan selama di satuan pendidikan lantaran dalam kondisi hamil, Wahyuni mengaku tak merasakannya. Dia menilai, salah satu penyebabnya lantaran diterima dengan baik selama mengikuti pendidikan.
"Kami kan tiap hari tidak dibiarkan sendiri. Bukan hanya satu atau dua pembina tetapi seluruh pembina selalu memastikan keadaan kami apakah dalam kondisi baik. Jadi, tidak ada keluhan," kata dia.
Berdasarkan keterangan dari komandan satuan pendidikan, ada 229 peserta yang digembleng di Pusat Pendidikan Kesehatan Puskes TNI AD. Semua peserta di sana merupakan perempuan. Hanya dua dari 229 peserta yang dicatat dalam kondisi hamil.
Selain itu, terdapat 12 peserta dengan keadaan khusus yakni memiliki riwayat penyakit dan tiga peserta sedang dirawat di rumah sakit.
3. Komandan satuan pendidikan sebut kurikulum sudah disesuaikan dengan permintaan Kemhan

Sementara, Komandan Satuan Pendidikan Pusdikkes Pusat Kesehatan TNI AD, Letnan Kolonel Ckm Said Jauhari, mengatakan, di tempatnya bertugas sudah ada penyesuaian materi yang diberikan kepada ratusan peserta. Salah satu bentuk penyesuaian yaitu tidak ada lagi latihan militer taktis.
"Jadi, kegiatan di lapangan hanya kegiatan yang bersifat membina disiplin seperti PBB atau baris berbaris dan penghormatan militer. Itu untuk melatih kekompakan dan kedisiplinan mereka," kata Said.
Kegiatan di lapangan pun terlihat dibatasi pada siang hari. IDN Times yang berada di lokasi, melihat kegiatan baris berbaris dilakukan di dalam kelas. Mereka diajarkan untuk bisa berbaris dan mengikuti instruksi dari pelatih.
Senada dengan cerita dua peserta yang hamil, rutinitas peserta setiap hari dimulai dari pukul 04.30 WIB dan berakhir pukul 20.00 WIB.
"Kami cek kembali ke barak pada pukul 22.00 WIB untuk memastikan mereka sudah istirahat total dan tak ada aktivitas lagi," kata dia.
















