Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Demo BEM UI di Bundaran HI Hari Ini, Ribuan Personel Gabungan Dikerahkan

Demo BEM UI di Bundaran HI Hari Ini, Ribuan Personel Gabungan Dikerahkan
Pedagang asongan jajakan dagangan di Demo Mahasiswa pada Kamis (21/4/2022). (IDN Times/Ilman Nafi'an)
  • Polda Metro Jaya mengerahkan 9.242 personel gabungan untuk mengamankan 31 aksi, termasuk demonstrasi BEM UI di Bundaran HI, serta 16 kegiatan masyarakat.

  • Polisi mengarahkan pengamanan yang humanis dan terukur, dengan penegakan hukum sebagai langkah terakhir; personel juga diminta mengantisipasi benda berbahaya dan mendokumentasikan situasi.

  • BEM UI menggelar aksi bertema #MerebutKemerdekaan sambil menyoroti kedaulatan, keadilan, ekonomi, dan represivitas aparat, serta menyampaikan delapan tuntutan kepada pemerintah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Polda Metro Jaya mengerahkan ribuan personel gabungan untuk mengamankan aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat (Jakpus) hari ini, Selasa (18/8/2026).

Kabid Humas Polda Metro Jaya mengatakan, terdapat total 31 aksi termasuk aksi BEM UI dan 16 kegiatan masyarakat yang tersebar di Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

"Personel yang sudah dipersiapkan 9.242 personel untuk seluruh kegiatan penyampaian aspirasi di depan publik, begitu juga dengan kegiatan-kegiatan masyarakat lainnya. Ini terdiri dari Polda Metro Jaya 5.670 personel, Polres jajaran 222 personel, TNI 1.500 personel, dan BKO Mabes Polri 1.850 personel," kata Budi di Polda Metro Jaya, Selasa.

Ribuan personel pengamanan aksi dan kegiatan masyarakat itu pun telah digelar di Lapangan Presisi Polda Metro Jaya, Selasa pagi ini. Apel tersebut dipimpin langsung Karo Ops Polda Metro Jaya, Kombes Laode Aries El Fathar.

Dalam arahannya, Laode mengimbau anggota agar pengamanan unjuk rasa berjalan aman, tertib, dan tidak boleh menimbulkan kerusuhan maupun kerusakan fasilitas umum.

“Kita semua yang bertugas jangan mudah terpancing emosi, kendalikan diri, laksanakan tugas dengan humanis, sabar, dan terukur, serta menjadikan penegakan hukum adalah langkah terakhir, ultimum remedium,” ujarnya.

Ia juga meminta personel intelijen agar mempelajari secara detail titik kumpul massa, fasilitas umum yang dipakai, dan kendaraan yang digunakan, serta dokumentasikan semua narasi yang ada di jalan, baik teriakan maupun tulisan, dan segera laporkan ke pimpinan pada kesempatan pertama.

“Untuk personel Reskrim sebagai Satgas Gakkum, bila menemukan peserta yang membawa alat berbahaya agar segera diamankan dari awal dan dokumentasikan serta jangan bergerak sendiri-sendiri, tetapi harus berkelompok buddy system, jangan sampai terlepas dari ikatan tim,” ujarnya.

Untuk pasukan Samapta, juga diminta untuk mengikuti setiap instruksi pimpinan serta memastikan tindakan tetap terukur. “Pemeriksaan kelengkapan alut dan alsus anggota pada pelaksanaan apel pasukan agar dilakukan dengan ketat, didokumentasikan baik video maupun foto. Tetapi saran saya diperbanyak video. Silakan rekan-rekan Provos cek anggota, tidak ada yang membawa senjata api. Tetap SOP dalam menghadapi aksi unjuk rasa adalah sifatnya pelayanan, bukan menghadapi,” ujarnya.

Sebelumnya, BEM UI telah mengumumkan bakal menggelar demo dengan tema #MerebutKemerdekaan di Bundaran HI, Jakarta Selatan pada Selasa (18/8/2026).

Rencana aksi ini dibenarkan oleh Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan. “Sehari setelah seremoni kenegaraan itu digelar, kami turun ke jalan bukan untuk merayakan, tapi untuk bertanya dengan lantang: kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan?” kata Athof dalam keterangan tertulisnya kepada IDN Times, Senin (17/8/2026).

Athof menilai, kedaulatan Indonesia saat ini digadaikan lewat perjanjian dagang yang tunduk pada kepentingan asing. Sementara di dalam negeri sendiri suara rakyat dibungkam dan pemuda-pemudi ditangkap sewenang-wenang.

BEM UI juga menyoroti hukum yang hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Selain itu, kemakmuran jadi ilusi ketika lapangan kerja langka, pendidikan dan kesehatan gratis yang dijanjikan konstitusi tak kunjung hadir, sementara kekayaan negeri ini menumpuk di segelintir tangan.

“Ini bukan sekadar krisis ekonomi. Ini krisis kedaulatan. Pemerintahan Prabowo-Gibran telah menunjukkan wajah kekuasaan yang gemar berpidato tentang kedaulatan, tapi lupa menegakkannya,” ujarnya.

Republik yang dijanjikan berdaulat, adil, dan makmur, kini dinilai justru direduksi jadi slogan tahunan tanpa substansi. Aparat juga sibuk mengamankan kekuasaan ketimbang mengamankan hak rakyat untuk didengar.

“Kepada warga Jakarta, kami mohon maaf atas kemacetan besok. Namun ingat: kemacetan lalu lintas ini hanya beberapa jam, sedangkan kemacetan struktural, kemacetan lapangan kerja, dan kemacetan keadilan yang dipaksakan sudah delapan puluh satu tahun dan terus memburuk,” ujar dia.

Atas nama rakyat yang belum merdeka sepenuhnya, berikut delapan poin tuntutan BEM UI yang bakal disuarakan:

1. Hentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri

2. Hentikan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)

3. Wujudkan reforma agraria sejati

4. Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM

5. Evaluasi total PSN serta hentikan MBG dan KDMP

6. Hentikan pemusatan kekuasaan, pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), dan kembalikan otonomi daerah

7. Tetapkan status bencana nasional untuk daerah Sumatra dan Flores serta percepat pemulihan wilayah terdampak bencana

8. Hentikan represifitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta bubarkan YON TP

“Ini hanya awalan. Mahasiswa, buruh, petani, guru, pedagang, dan seluruh rakyat yang merasa republik ini sedang dikhianati cita-citanya sendiri, mari kita rebut kembali kemerdekaan yang sesungguhnya,” ujar dia.

Kemerdekaan kata Athof, tidak akan diberikan oleh negara setiap tahun lewat upacara. Ia harus dijemput paksa oleh kekuatan rakyat yang bersatu.

“Pupus harapan bahwa kekuasaan akan berubah dengan sendirinya. Selama republik dibiarkan menjadi milik segelintir orang, kemerdekaan hanya akan menjadi kata dalam pidato. Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia! Hidup Perempuan yang terus melawan! Merdeka!,” teriaknya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More