Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Wahyu Muryadi: Gus Dur adalah Pemimpin yang Tak Alergi Kritik

Wahyu Muryadi: Gus Dur adalah Pemimpin yang Tak Alergi Kritik
Gus Dur(instagram.com/jaringangusdurian)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Wahyu Muryadi menilai Gus Dur sebagai pemimpin terbuka yang tidak alergi kritik, bahkan dari lawan politik, dan selalu siap berdialog dengan siapa pun tanpa memandang latar belakang.
  • Gus Dur dikenal santai menghadapi kritik tajam, termasuk dari Amien Rais, menunjukkan sikap nothing personal serta komitmen terhadap kebebasan berekspresi dan aspirasi publik.
  • Dalam menghadapi konflik seperti di Papua dan Aceh, Gus Dur lebih memilih pendekatan dialog damai daripada tindakan represif, menegaskan keyakinannya bahwa negara tak boleh menekan masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Mantan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dinilai sebagai sosok pemimpin yang terbuka terhadap kritik dan perbedan pandangan. 

Hal tersebut disampaikan oleh Wahyu Muryadi, Mantan Juru Bicara Gus Dur, sekaligus Kepala Protokol kala itu, saat diwawancarai oleh IDN Times, Jumat (26/6/2026). 

Menurut Wahyu, Gus Dur dikenal sebagai pemimpin yang tidak alergi menerima masukan, bahkan kritik tajam dari lawan politik sekalipun. 

Sikap itu dinilai menjadi salah satu ciri khas kepemimpinan Gus Dur selama 21 bulan menjabat sebagai presiden.

Table of Content

1. Gus Dur terbuka bertemu dengan siapa saja

1. Gus Dur terbuka bertemu dengan siapa saja

Wahyu Muryadi: Gus Dur adalah Pemimpin yang Tak Alergi Kritik
Gus Dur (paling kiri) menjadi panelis diskusi bersama Romo Mangun (paling kanan) di Bentara Budaya Yogyakarta pada 22 Januari 1994 (gusdur.net)

Wahyu mengatakan, salah satu karakter paling menonjol dari Gus Dur adalah keterbukaannya untuk bertemu dengan siapa pun, tanpa memandang latar belakang. 

Menurut dia, Gus Dur tidak pernah membatasi dirinya hanya pada lingkaran elite politik atau pejabat negara. Ia juga terbuka berdialog dengan aktivis, tokoh masyarakat, diplomat, hingga media. 

Terlebih, sebagai Kepala Biro Protokol Istana kala itu, Wahyu menyebut banyak pihak merasa memiliki hal penting yang harus langsung disampaikan kepada presiden. 

“Acara-acaranya untuk dimampat-mampatkan karena saking banyaknya. Saking banyaknya daya tampung intelektual dan spiritual beliau kan luar biasa. Dan semuanya, saya kan kepala protokolnya waktu itu, semua kalau mau ketemu, merasa yang paling penting untuk menemui. ‘Saya membawa sesuatu yang sangat penting untuk Presiden’. Pendek kata, semua orang itu gak di-stop (sama Gus Dur),” ungkap Wahyu.

2. Kritik dari Amien Rais pun diterima dengan santai

Wahyu Muryadi: Gus Dur adalah Pemimpin yang Tak Alergi Kritik
Presiden Gus Dur dan Amien Rais (commons.wikimedia.org/National Information and Communication Agency Republic of Indonesia)

Sikap terbuka Gus Dur juga terlibat dari caranya menerima kritik, termasuk dari tokoh politik yang kerap berseberangan dengannya, yakni Amien Rais

Wahyu mengungkapkan, Amien Rais sempat beberapa kali datang ke Istana untuk menyampaikan kritik maupun masukan kepada Gus Dur. 

“Waktu menjabat ya, Amien Rais kan beberapa kali datang ke Istana. Untuk berbagai keperluan, termasuk alasannya mengingatkan ini, mengingatkan itu. Amien Rais kan selalu manusia yang selalu dengan pengingatan. Dan bagi Gus Dur, ya santai aja, ya diterima,” ungkap Wahyu. 

Ia pun menambahkan, hal tersebut juga didukung karena Gus Dur dan Amien Rais memiliki riwayat yang cukup lama sebagai pemimpin gerakan Poros Tengah saat itu. 

Meski kritik yang disampaikan terkadang keras, Gus Dur tetap menerimanya dengan santai. 

“Makanya ketika Amin datang ya terima apapun itu walaupun pahit itu kritiknya. Enaknya Gus Dur Itu nothing personal kok sama siapapun ya santai aja. Dia gak cocok dalam hal ini, habis itu selesai,” tambah dia.

3. Gus Dur mempersilakan masyarakat menyampaikan aspirasi

Wahyu Muryadi: Gus Dur adalah Pemimpin yang Tak Alergi Kritik
Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (nu.or.id)

Wahyu turut mengungkapkan, Gus Dur merupakan sosok yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dan hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat. 

Ia mengatakan, Gus Dur tidak pernah anti terhadap demonstrasi maupun kritik publik. 

“Silakan demo, silakan ajukan aspirasi, ekspresinya,” kata Wahyu menirukan pesan Gus Dur. 

Bahkan, di tengah tekanan politik yang besar, Gus Dur tetap memilih merespons kritik dengan tenang dan kerap menyelipkan humor. 

“Itu orang kok minta saya mundur. Loh, saya gak ngeliat kok disuruh mundur. Silakan, kalau Anda mau saya mundur, bukan pada saya yang ngomong, sama MPR yang angkat saya,” tiru Wahyu.

4. Gus Dur percaya negara tidak boleh menekan masyarakat

Wahyu Muryadi: Gus Dur adalah Pemimpin yang Tak Alergi Kritik
Gus Dur gelar "open house" di Istana (sumber: instagram.com/jaringangusdurian)

Lebih jauh, Wahyu menjelaskan Gus Dur memiliki pandangan kuat terkait negara dan masyarakat yang tidak boleh saling dibenturkan. 

Menurut dia, Gus Dur meyakini negara tidak boleh menggunakan kekuasaan secara berlebihan terhadap rakyat. 

“Konsep beliau itu selalu antara state dan society itu gak boleh dibenturkan. State ga boleh mentang-mentang terus menekan masyarakat,” jelas Wahyu. 

Sebaliknya, masyarakat juga harus diberi ruang untuk didengar. 

“Tapi masyarakat juga harus didengar dan ada beberapa wilayah-wilayah yang menurut Gus Dur tuh negara gak boleh campur tangan, biar semuanya diberikan kepada masyarakat, ” imbuh Wahyu.

5. Gus Dur lebih memilih dialog ketimbang pendekatan represif

Wahyu Muryadi: Gus Dur adalah Pemimpin yang Tak Alergi Kritik
Potret Gus Dur (Foto: Dok. Liputan 6)

Komitmen Gus Dur terhadap dialog juga terlihat dalam pendekatannya menghadapi konflik, termasuk saat berkunjung ke Papua.

Kala itu, ada kekhawatiran soal potensi ancaman keamanan dari masyarakat setempat. Akan tetapi, Gus Dur tetap memilih datang dan mengutamakan dialog. 

“Waktu di Papua misalnya, ada saran untuk tidak usah ke sana karena ada pasukan-pasukan suku Papua yang sudah menyiapkan panah, tombak, dan seterusnya,” kata Wahyu. 

Namun, Gus Dur tetap pada pendiriannya. 

“Gus Dur bilang ‘Udah, saya terus ke Papua. Mereka adalah rakyat kita. Saya perintahkan jangan ada satu butir peluru pun yang ditembakkan’. Di Bandara saat itu kami deg-degan turun, jangan-jangan kena panah kita kan? Ya, pokoknya ternyata itu masyarakat suku adat yang nari-nari nyambut, selamat datang pada Gus Dur semuanya,” beber Wahyu. 

Momen serupa juga dirasakan Wahyu ketika mengawal kunjungan Gus Dur ke Aceh. Ia menyebut, Gus Dur berpesan kepada aparat keamanan untuk tidak berlebihan dalam mengawal dirinya. 

“Jangan terlalu berlebihan mengawal dan menjaga saya. Mereka kan saudara-saudara kita juga. Jangan sampai ada kekerasan, pokoknya biarkan mereka bicara sama saya,” tiru Wahyu.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwifantya Aquina
EditorDwifantya Aquina

Related Articles

See More