Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

WANSUS Satu Abad Rahmi Hatta: Teladan Bagi Istri Pejabat Jangan Hedon

WANSUS 1 Abad Rahmi Hatta: Teladan Bagi Istri Pejabat Jangan Hedon
Gemala Hatta, putri kedua Muhammad Hatta menceritakan sosok Rahmi Hatta ke Gen Z dan Millenial. (IDN Times/Amir Faisol)
Intinya sih...
  • Rahmi Hatta, istri Wakil Presiden pertama RI, dikenal sebagai sosok yang mulia, humanis, dan humoris.
  • Rahmi Hatta merupakan penggemar Wastra Nusantara dengan koleksi 780 helai kain dan kebaya.
  • Putri Rahmi Hatta mengatakan ibunya dapat menjadi teladan bagi para istri pejabat pemerintah dalam berbusana dan hidup sederhana.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sosok Siti Rahmiati Hatta, istri Wakil Presiden pertama RI, Muhammad Hatta, dikenal berhati mulia, humanis, dan humoris. Rahmi Hatta merupakan teladan bagi para istri pejabat.

Meutia Hatta, putri pertama Rahmi Hatta, dalam acara "Peringatan 100 Tahun Hari Lahir Almarhum Rahmi Hatta" menceritakan sosok sang ibunda yang sangat mencintai Indonesia, dengan segala keragaman budaya yang dimiliki.

Rahmi Hatta merupakan penggemar Wastra Nusantara. Bahkan hingga hari ini masih ada 780 helai kain dan kebaya yang tersimpan rapi. Keluarga memutuskan menggelar pameran koleksi kebaya dan kain Rahmi Hatta dalam rangka peringatan satu abad kelahirannya.

"Kami baru tahu bahwa ternyata setelah kami membagi-bagikan baju ibu dan segalanya yang perlu diberikan kepada orang, ternyata masih ada 780 items pieces kebaya kain dan sebagainya," kata Meutia Hatta di Jakarta, Senin (16/2/2026).

Rahmi Hatta dikenal sebagai sosok yang pandai dalam berbusana. Ia pandai mencocokkan busana yang harus dikenakan dalam setiap acara yang akan dikunjungi. Meutia mengatakan, cara berpakaian sang ibunda dapat menjadi teladan bagi istri-istri pejabat pemerintah saat ini.

Meutia juga berharap suatu hari negara membangun museum di setiap provinsi yang dapat menampilkan busana-busana istri Presiden dan Wakil Presiden hingga gubernur, agar menjadi teladan bagi perempuan Indonesia.

"Terutama yang istri pejabat, bagaimana berpakaian yang terhormat dan anggun, gitu, dan membuat rasa hormat orang terhadap mereka, bukan sekadar asal pakaian atau salah tempat untuk berdandan," kata Meutia.

Sementara, putri kedua Bung Hatta dan Rahmi Hatta, Gemala Hatta, mengatakan, pejabat dan istri pejabat harus hidup sederhana dan bisa menjaga perasaan rakyatnya.

"Ya harus tahu dirilah. Jadi kalau jadi pejabat kita masuk ke daerah yang umum jangan bajunya yang mewah-mewah, itu kan menyakitkan hati. Kita harus tahu di mana kita berada, gitu aja," kata dia, saat ditemui di kediaman Bung Hatta, Jalan Diponegoro Nomor 57, Jakarta Pusat.

Pada "Peringatan 100 Tahun Hari Lahir Almarhum Rahmi Hatta", IDN Times berkesempatan melakukan wawancara khusus bersama Gemala Hatta, putri kedua Bung Hatta dan Rahmi Hatta. Berikut wawancara selengkapnya.

Dalam pandangan Ibu, apa yang bisa Gen Z dan milenial kenang dari Ibu Rahmi Hatta, ibu wakil presiden pertama Republik Indonesia?

Yang bisa diketahui dan bisa dikenang Gen Z dan milenial ini, barangkali belum banyak yang tahu, jadi Ibu Rahmi Hatta, ayahnya orang Jawa, ibunya orang Aceh. Lahirnya 16 Februari 1926. Jadi hari ini pas 16 Februari tapi 2026 atau 100 tahun. Jadi kalau ibu saya hidup hari ini 100 tahun atau satu abad.

Nah, jadi yang perlu diketahui, ya, beliau waktu muda seorang gadis manis yang patuh sama orang tuanya, dan waktu itu membantu para pejuang. Jadi suatu saat Ibu Rahmi bawa baki minuman dibagikan kepada para teman-teman pejuang itu.

Nah, kemudian Bung Hatta melihat sepintas Ibu Rahmi, tapi ya cuma lihat saja. Nah, kemudian 18 November 1945 itu akhirnya mereka menikah, ya kan, di Mega Mendung (Bogor). Tapi yang mencomblangi itu Bung Karno. Jadi Bung Karno melihat wakil kepresidenan kok gak punya istri.

Sedangkan beliau kan sudah menikah ya kan, dengan Ibu Fatmawati, begitu. Kemudian sebelum kejadian itu (Bung Hatta dan Rahmi menikah) memang Bung Karno mendatangi rumah nenek saya malam hari. Mungkin sekitar pukul 10 lewat ya. Kaget nenek saya buka pintu, kok ada Bung Karno. "No" itu panggilan anak-anak nenek saya, yaitu ibu saya sama adiknya Raharti itu adalah "Om No".

Terus ada apa datang malam-malam, nenek saya heran, kok malam. Terus Bung Karno bilang, saya mau melamar. Melamar untuk siapa? Melamar perempuan mana? Yang cantik di Bandung kan banyak, untuk siapa? Untuk Hatta. Terus siapa yang mau dipilih dari perempuan-perempuan cantik itu? Ternyata yang dipilih Rahmi.

Hah? Nenek saya kaget kan, dan dijawab, ya sudah saya mesti tanya dulu sama anaknya karena Ibu Rahmi itu kan beda 24 tahun sama ayah. Ayah saya 43, Ibu Rahmi 19. Beda jauh kan.

Dan waktu itu ibu saya karena perang sudah tidak sekolah lagi. Terus nenek saya masuk, bicara. Ibu saya juga ditanya Bung Karno minta kamu jadi istrinya Hatta. Adiknya teriak, 'hah jangan, dia sudah tua'.

Terus Ibu saya terdiam, dan pikir ya sudah laki-laki yang pandai, jadi akhirnya mengangguk begitu. Ibu saya ngangguk, akhirnya ya terjadilah. Jadi betul-betul gak pakai pacaran, jadi kenalnya di dalam rumah tangga dicomblangi. Karena waktu itu kan sibuk, tiga bulan setelah kemerdekaan baru nikah.

Beliau menjadi istri wakil presiden di umur 19 tahun, usia yang sangat muda. Apa kontribusi beliau kepada Bung Hatta?

Ibu saya gak pernah ikut campur urusan negara. Ibu saya pantang, karena Bung Hatta terlalu pandai diatur sama orang lain. Beliau punya pendapat sendiri, punya kebijakan sendiri.

Jadi Ibu Rahmi tidak mengganggu apapun. Jadi tidak mengganggu intervensi atau apa, bukan seperti perempuan lain yang menyetel suaminya harus gimana. Ayah saya sudah pintar sendiri, sehingga dia sudah tahu apa yang harus dilakukan buat rakyat dan negaranya.

Bahkan ibu saya banyak belajar dari ayah, karena ayah kan bayangkan beda 24 tahun, dan ayah kan pernah dipenjara. Di Belanda juga aktivis kan, kemudian ayah juga di Boven Digul dipenjara di Papua.

Kemudian dibuang di Banda Neira enam tahun, sampai kemudian Jepang menjemput Bung Hatta untuk kembali ke Batavia. Tapi kan lewat Surabaya dulu. Dan waktu ayah kembali dari Boven Digul dan Banda Neira, ayah tidak langsung di Jakarta, tapi berdiam dulu di Sukabumi sekian lama, baru kemudian tentara Belanda jemput, baru dibawa ke Batavia, Jakarta.

Kesibukan beliau dulu waktu mendampingi Bung Hatta seperti apa?

Ya waktu itu sebagai ibu rumah tangga saja, mendampingi (Bung Hatta) kalau ada acara. Kadang-kadang misalkan di IKADA ada pameran apa yang ibu mesti buka, gunting pita. Ibu pidato juga bahkan ibu pernah memotivasi pemuda lewat RRI ya, radio untuk pro kepada pemerintah gitu.

Jadi dia bukan berpangku tangan saja, tapi juga ada di depan corong radio, dia mengumandangkan supaya perempuan-perempuan Indonesia itu bangkit untuk tetap menjaga kesatuan NKRI.

Dengan maksud, tentu dia memberitahu para suami mereka supaya tetap kiblatnya pada NKRI, bukan kepada pro yang lain. Jadi waktu itu, ada keadaan genting, saya lupa persis tahunnya, tapi ada foto, di mana Ibu Rahmi di depan corong radio sedang membangkitkan semangat masyarakat pendengar, gitu.

Jadi dia begitu caranya, jadi tidak mengintervensi Bung Hatta, tidak ikut campur tangan urusan negara sama sekali, gak ada. Ayah saya juga bukan tipe orang yang seperti itu. Jadi dia punya kebijakan sendiri, dia tegas pada pendapatnya, dan dia dengar apa saran-saran orang, sangat didengar, tapi dia tidak disetir oleh siapa pun.

Makanya, ayah tidak pernah mendengarkan ABS (Asal Bapak Senang), itu gak ada. Karena dia langsung turun sendiri melihat kondisi rakyatnya kayak bagaimana. Jadi kalau dibilang itu melarat atau sudah senang ya, ayah turun langsung ke lapangan, melihat kondisinya bagaimana yang sesungguhnya.

Ibu Rahmi Hatta melahirkan tiga srikandi hebat di bidangnya masing-masing. Apa yang ingin Ibu Gemala bagikan kepada keluarga di Indonesia?

Tentunya setiap keluarga punya rumusannya sendiri ya, jadi yang penting bahwa dari kecil itu diajar karakter bukan membeo, jadi di rumah itu katakan yang benar itu benar, yang salah itu salah.

Jadi ibu saya, misalkan, diprotes sama anak-anaknya, ya dengar. Ya bukan berarti bahwa ibu sama saya tidak pernah beradu pendapat, tapi kan saya bilang nih gini-gini, ibu saya lalu bilang gini-gini ya, terus saya dengar, oh maksudnya apa, jadi cari penyesuaian.

Jadi di dalam rumah tangga itu anak-anak tuh jangan dimatikan inspirasinya, tapi dia harus dibiarkan juga bicara. Jadi ayah selalu sebagai pendengar yang baik. Jadi kadang-kadang kita, kakak Meutia cerita apa, saya cerita apa, gitu, terus ayah kadang-kadang ketawa atau ayah bagaimana gitu, ya.

Ya kita dibiarkan untuk tumbuh dengan diri kita masing-masing. Jadi orang tuanya menyalurkan saja, tapi tidak pernah misalkan ayah politik, kamu politik, gak, gak gitu. Ayah ekonomi, kamu ekonomi, gak juga. Jadi masing-masing bergaul dengan kesukaannya sendiri.

Jadi waktu saya masuk FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) ya gak apa-apa. Terus waktu saya dapat beasiswa ke Australia, ya gak apa-apa juga. Ya alhamdulillah gitu, kan karena ayah gak bisa membiayai saya sekolah di Australia. Jadi hal-hal seperti begitu ya ayah sama ibu tuh mengerti, mengerti ini, kakak Mutia juga ambil antropologi kan, jadi dia di UI Fakultas Sosiologi.

Tadi saya melihat di mini museum, Ibu Rahmi ternyata juga kolektor parfum?

Iya ibu saya senang parfum. Biasanya parfum itu suka dapat dari temannya pulang dari luar negeri, atau hadiah ulang tahun, gitu. Kan temannya banyak, jadi otomatis ibu ada yang gak beli, ada yang beli ya, tergantung. Tetapi juga banyak parfum dalam negeri, terutama tentang Melati. Melati kan tumbuh di daerah tropis ya.

Jadi waktu itu ada kelompok-kelompok yang temannya ibu yang di Tebet, saya lupa apa itu, dia membuat dalam baki kecil-kecil. Jadi ibu beli sampai banyak, terus kalau ada teman ulang tahun dikasih-kasih, gitu. Jadi ya ibu beli, senang, banyak banget beli ya, ini untuk dikasih-kasih.

Setiap ke luar negeri beliau selalu bawa parfum ya?

Gak, ini dari Indonesia. Jadi teman ibu itu orang Indonesia yang di Tebet kan, Jalan Tebet. Apa namanya, lupa saya. Nah, dia membuat banyak minyak wangi yang khas Indonesia.

Dalam sambutan tadi Ibu bercerita kalau Ibu Rahmi mengajarkan anak-anak disiplin, termasuk dalam table manner dan sebagainya. Bisa diceritakan?

Dari kecil, dari mulai kita bisa duduk di meja makan. Sebelumnya kita gak boleh duduk di meja makan kalau masih berantakan makannya. Jadi mulai duduk di dalam, mulai di meja makan, kita harus rapi. Jadi waktu kecil itu kita ke dalam rumah pakai kaos kaki, karena di Istana dulu kan kami anak kecil gak boleh pakai sandal ke dalam Istana.

Jadi Istana itu jadi tempat sakral, seperti kalau Anda salat, kan pasti harus wudu dulu, ada tata tertib, terus ada tiker sembahyang. Nah, itu ada tata tertib begitu juga. Jadi kalau kita mau masuk ke dalam ruang makan, ya itu pakaian dirapikan, rambut dirapikan, gak boleh (berantakan), jadi yang ngasuh kita tuh tegas cuci tangan, cuci kaki, terus pakai kaos kaki.

Gak pernah kita masuk ke ruang Istana telanjang kaki, pakai sandal, gak pernah. Karena setiap waktu kan siapa tahu ada seseorang yang ikut datang ke meja makan, terus kalau lihat anaknya berantakan kan yang malu orang tua, padahal itu Istana marmer kan, ya kan, gak pantes gitu. Jadi harus menjaga diri.

Jadi kalau kita masuk ke dalam Istana ya kaki kita udah pakai sepatu, pakai kaos kaki, terus rambut juga dirapikan, pakai bando atau dijepit pakai pita. Itu yang asuh yang ngerjain. Terus kita duduk harus rapi, diajarkan bagaimana cara motong daging segala macam diajari.

Jadi orang boleh miskin dari dasar, tapi dia harus belajar seperti Pak Harto kan, dia ngaku dia orang gak mampu, tapi kan kita lihat cara dia makan rapi, segala rupa, nah itu belajar.

Jangan karena kita kaya, terus kampungan, gak boleh, bukan kayanya kampungan atau miskinnya kampungan, bukan cuma gayanya dia tuh, bukan gaya orang yang tertib, karena orang kan melihat dari situ.

Berarti pelajaran dari Ibu Rahmi itu kepada para pejabat dan istri agar tetap rendah hati dalam bersikap?

Ya harus tahu dirilah. Jadi kalau jadi pejabat kita masuk ke daerah yang umum jangan bajunya yang mewah-mewah, itu kan menyakitkan hati. Dan juga kalau memang ya kita tahu di mana, kita berada gitu aja.

Jadi jangan sampai menyinggung perasaan masyarakat yang menderita. Itu sama sekali bukan gaya Bung Hatta. Bung Hatta ke mana-mana itu, naik haji saja pakai uang sendiri. Dan kami tidak boleh naik mobilnya Bung Hatta, tidak boleh, karena itu bensinnya bensin negara. Kita diatur, gitu.

Jadi kamu hanya boleh bisa naik mobil ayah kalau kamu ikut sama ayah, gitu. Jadi sopir juga gak berani lancang. Biar pun kita beranak tiga, itu mobil Wakil Presiden. Jadi mobil dinas, ya untuk dinas. Kalau ayah pergi sendiri kami hanya masuk mobil dinas ayah kalau ayah ibu ada di dalam mobil itu. Kalau gak, gak, dan kami biasa naik bus juga pernah ke sekolah.

Nilai apa yang bisa generasi sekarang, Gen Z dan milenial petik dari Ibu Rahmi Hatta?

Saya kira mereka harus belajar sejarah ya, karena jangan sampai negara kita ini kecolongan jatuh ke orang asing, dan kita merasa leha-leha saja, gak apa-apa. Sekarang itu pejabat kok begitu banyaknya bisa dibeli, dan itu kan salah yang harus jadi polisi jaga negara, malahan kok jadinya pro pada suatu faktor yang gak pantas untuk disebut.

Nah, itu kan menyakitkan bangsa, dan bukan begitu maksudnya. Kalau Jenderal Sudirman hidup atau Pak Hoegeng hidup pasti sedih sekali.

Jadi kita gak mengharapkan negara ini jatuh ke tangan orang-orang yang hanya mau cari kekayaan dengan cara pintas disuap, disogok, mengubah kebijakan demi kepentingan mereka, itu sangat tidak manusiawi.

Dan sekarang kalau mereka kiblatnya seperti begitu mau jadi apa Indonesia ke depan, karena Bung Hatta dan Bung Karno mendirikan Indonesia dan para pejuang lain betul-betul supaya untuk dinikmati generasi mendatang.

Saya ambil contoh Cina, dia punya nikel dia punya banyak kekayaan alam, dia gak mau pakai langsung sedikit-sedikit, malahan dia beli dari negara tetangga, dengan harapan nanti pada tahun sekian negara tetangga kehabisan baru mereka akan menjual. Itu kan pemikiran sangat jitu, jadi bukan karena punya uang diumbar-umbar.

Jadi kebijakan pemerintah sekarang datangkan investor segala rupa, boleh digali, itu kan mulai dari Jokowi, itu sial banget sorry to say. Tapi itu benar-benar saya sampai terkaget-kaget jadi menyuruh investor datang sebanyak-banyaknya.

Bung Hatta dengan pabrik semen yang ada di Gresik itu dia memanggil orang Amerika untuk bantu menjadi ekspatriat untuk bangsa Indonesia, setelah lima tahun mereka harus pergi karena ilmunya sudah ditelurkan kepada anak-anak bangsa Indonesia.

Harus begitu, jadi yang pintar tetap anak bangsa, jadi belajar dari mentor-mentornya, pulang menjadi pintar, dan si pintar ini mendidik lagi anak bangsa. Jadi anak bangsa bertingkat-tingkat jadi makin pintar, makin pintar, bukan kemudian dijual bangsa negara ini kepada orang lain.

Ada transfer of knowledge gitu ya?

Ya transfer of knowledge itu Bung Hatta sangat kental. Jadi tidak boleh kayak begitu itu, semen Gresik itu contoh konkret bagaimana orang yang tadinya gak bisa diajari. Jadi sebetulnya apapun yang ada di bumi ini, di bumi Indonesia, itu kalau dikeluarkan itu pakai kalkulasi, jadi jangan diumbar.

Terus sekarang, partai-partai zamannya Jokowi kan sinting ya, bagaimana yang namanya partai-partai gak mengerti terus ormas-ormas gak mengerti boleh mengelola segala isi kekayaan alam.

Gak bisa dong kalau kita gak bisa mengelolanya hancur terus, akhirnya kita panggil orang-orang bangsa lain, ya akhirnya kan kita diduduki sama mereka terus-menerus, cara berpikirnya ini gak logis gitu.

Koperasi yang diberikan izin tambang menurut pandangan Ibu seperti apa?

Ya gak benarlah. Orang mengelola itu harus ada ilmunya, kalau dia gak ngerti. Kalau dia memang bidang itu dan mengerti itu lain cerita. Kalau saya gak ngerti pertanian tiba-tiba, 'udah kamu mengolah itu sekian hektare'. Berapa pun dikasih kalau kita gak ngerti, mati itu.

Jadi harusnya pakai pendekatan keilmuan dan kalau kita gak mampu, panggil ahli-ahli itu untuk mendidik kita, bukan dia terus-menerus di tempat kita. Kita dididik sama dia setelah itu pergi, terima kasih, ini gajimu. Kitalah yang harus pintar dan pintarnya kita turunkan ke generasi berikutnya. Jadi jangan terus dengan cara tidak berpikir logis, kemudian kekayaan alam ini diumbar sama orang-orang yang tidak sah, gitu ya.

Bagaimana bisa dibilang sah? Ya seperti bagaimana Indonesia tuh sangat kaya raya, kok bisa Singapura yang gak punya apa-apa kok malahan GNP (Produk Nasional Bruto)-nya lebih tinggi dari kita tuh, bagaimana gitu. Nah, ini kan gak benar. Mereka punya apa? Singapura gak ada apa-apa, tapi bagaimana pintarnya mereka dengan otak mereka, jadi malahan sekarang negara itu negara yang anda bisa lihat penduduknya kaya, ya.

Sedangkan Indonesia begitu juga yang kita lihat saya pernah ke Qatar ya, oh di Dubai. Dubai saya lebih lama di Dubai. Di Dubai itu kan banyak orang-orang asing datang, tapi orang-orang asing itu tidak bisa membeli tanah, dia hanya bisa bekerja di situ, dan untuk membeli tanah itu tidak mudah. Sama sekali tidak mudah, dan banyak aturan yang tetap tetap penduduk itu dinomorsatukan.

Bahwa mereka boleh penduduk aslinya sedikit, yang pendatang banyak, itu memang terjadi di sana, tapi mereka dilimitasi banyak banget, dan kalau anda lihat seperti di Dubai dan juga di Qatar itu mereka tuh sekolah gratis, semua gratis, pendidikan sampai universitas pun gratis, mau sekolah di luar negeri mana pun bisa.

Jadi, itu artinya memajukan anak bangsa, padahal mereka cuma punya apa dulu, gak punya apa-apa. Terus begitu minyaknya ketemu, menjadi sangat kaya, tapi juga gak bombastis, tetap ada aturannya.

Kalau misalnya Ibu Rahmi masih hidup sekarang, apa kontribusi yang beliau bisa lakukan di pemerintahan yang sekarang?

Ibu saya memang bukan orang politik, dia hanya ibu rumah tangga saja, tapi tentu pesannya bagaimana mendidik anak-anak bangsa dengan sebaik-baiknya.

Jadi kalau di rumah kami itu, membaca itu satu keharusan. Jadi membaca sejarah, membaca cerita bangsa-bangsa, sehingga kita dari kecil sudah ngerti tentang cerita-cerita macam-macam, Mahabharata kita menguasai, mengerti Panji Semirang, Mahabharata segala rupa wayang-wayang itu. Jadi kita bisa senang banget cerita-cerita Hindu segala rupa, gak masalah, itu kan ada nilai moralnya.

Share
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
Umi Kalsum
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More

8 Orang Tewas akibat Ledakan Toko Kembang Api di China

17 Feb 2026, 07:12 WIBNews