Anggota DPR: Pengiriman TNI ke Gaza di Bawah BoP Berisiko Tinggi

- Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin menilai, rencana pengiriman prajurit TNI dalam pasukan ISF di bawah kendali BoP berisiko tinggi.
- Menurut TB Hasanuddin, langkah tersebut idak menguntungkan, baik dari sisi politik maupun militer.
- BoP didominasi AS bukan bersifat kolektif kolegial
Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin menilai, rencana pengiriman prajurit TNI dalam pasukan International Stabilization Force (ISF) di bawah kendali Dewan Perdamaian Gaza (Board of Peace/BoP) berisiko tinggi. Ia mengatakan, langkah ini idak menguntungkan, baik dari sisi politik maupun militer.
“Soal rencana pengiriman prajurit TNI dalam pasukan ISF di bawah BoP, saya melihat ini sebagai partisipasi Indonesia dalam eksperimen pemerintah Amerika Serikat (AS) yang sangat berisiko tinggi dan menelan biaya tidak sedikit,” ujar TB Hasanuddin kepada wartawan, Senin (16/2/2026).
1. BoP didominasi AS bukan bersifat kolektif kolegial

Menurutnya, terdapat beberapa aspek penting yang harus menjadi perhatian serius pemerintah. Pertama, mandat ISF belum jelas.
Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2803 yang disetujui pada November 2025 memang menyebutkan peran ISF membantu BoP untuk mendukung gencatan senjata dan demiliterisasi di Gaza. Namun, dalam perkembangannya, BoP justru menjadi organisasi yang secara struktural didominasi oleh satu negara, yaitu AS, dan bukan bersifat kolektif kolegial.
Selain itu, dalam piagam pendiriannya, BoP tidak spesifik menyebutkan soal perdamaian Gaza. Kondisi ini dinilai berbahaya karena ISF dapat menjadi seperti “cek kosong” bagi pihak yang mendominasi BoP, sehingga mandatnya bisa diubah sesuai kepentingan tertentu.
“Hal ini menjadi pertanyaan, apakah ISF benar-benar mewakili kepentingan negara pengirim atau hanya menjadi instrumen pihak tertentu di Gaza. Pemerintah kita harus mempelajari betul mandatnya,” kata dia.
2. Ungkap syarat penting misi perdamaian

Kedua, aspek penerimaan dari pihak-pihak yang berkonflik di Gaza terhadap ISF. TB Hasanuddin, yang pernah terlibat sebagai kontingen RI dalam Pasukan Perdamaian PBB di Irak dan Kuwait menekankan, persetujuan seluruh pihak yang berkonflik merupakan syarat utama dalam sebuah misi perdamaian.
Sebab, ia mengatakan, tanpa adanya persetujuan tersebut, pasukan perdamaian berpotensi terseret dalam pusaran konflik bersenjata. Selama ini, BoP yang menjadi pengendali ISF tidak menempatkan perwakilan Palestina di dalamnya, sementara Israel justru telah masuk.
"Bahkan, seorang pemimpin senior Hamas baru-baru ini menyatakan tidak setuju atas kehadiran ISF BoP di Palestina dan mengklaim telah berkomunikasi dengan pemerintah Indonesia terkait sikap tersebut,” ungkapnya.
3. ISF dinilai belum memiliki legitimasi

Menurut dia, perkembangan ini menunjukkan, ISF bentukan BoP belum memiliki legitimasi menyeluruh dari para pihak yang berkonflik dan bahkan terkesan condong ke salah satu pihak.
“Artinya, jika dipaksakan tanpa persetujuan semua pihak, partisipasi TNI dalam ISF memiliki risiko sangat tinggi. Bukan tidak mungkin prajurit TNI akan berada di tengah reeskalasi konflik bersenjata, dan ini taruhannya adalah nyawa,” ujarnya.
Ketiga, selain berbahaya, eksperimen ISF ini juga tidak murah. Di tengah kondisi ekonomi domestik yang masih menghadapi berbagai tantangan, pengiriman pasukan untuk misi yang belum jelas dinilai berpotensi membebani keuangan negara.
“Kita sepakat bahwa kemerdekaan Palestina adalah amanat konstitusi kita. Namun hal tersebut harus ditempuh dengan cara-cara yang sesuai hukum dan norma internasional, tidak menimbulkan risiko bagi WNI, khususnya prajurit TNI, dan yang paling penting tepat sasaran untuk mendukung kemerdekaan Palestina,” kata TB Hasanuddin.
Diketahui, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyampaikan, Indonesia mempersiapkan untuk mengirim pasukan keamanan ke Gaza, Palestina, melalui International Stabilization Force (ISF). Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut, jumlahnya sekitar 8.000 tentara TNI.


















