Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

4 Aktivis Global Sumud Dibebaskan Usai Sebulan Ditahan di Libya

4 Aktivis Global Sumud Dibebaskan Usai Sebulan Ditahan di Libya
bendera Libya (pixabay.com/jorono)
Intinya Sih
  • Empat aktivis Global Sumud Flotilla dibebaskan setelah sebulan ditahan di Libya, sementara enam lainnya masih menunggu pembebasan dalam waktu dekat.
  • Pemerintah Italia menyambut baik pembebasan dua warganya, Centrone dan Alberizia, yang kini berada di bawah perlindungan konsulat Italia di Benghazi sebelum dipulangkan ke Roma.
  • Para aktivis GSF ditangkap saat konvoi bantuan menuju Gaza, wilayah yang masih diblokade Israel sejak 2007 dan sering menjadi sasaran pencegatan terhadap misi kemanusiaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kelompok Global Sumud Flotilla (GSF) mengatakan bahwa empat aktivis pro-Palestina yang ditahan di Libya selama 1 bulan telah dibebaskan. Mereka termasuk di antara 10 aktivis yang ditangkap saat mengikuti konvoi darat yang membawa bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza.

Dalam pernyataan pada Rabu (24/6/2026), organisasi tersebut mengatakan bahwa Achraf Khoja dari Tunisia, Matias Rodriguez dari Uruguay, serta Domenico Centrone dan Leonarda Alberizia dari Italia, telah tiba di Tunis. Enam orang lainnya diperkirakan akan dibebaskan dalam 24 jam ke depan, dikutip Al Jazeera.

1. Pemerintah Italia sambut baik pembebasan warganya

ilustrasi kota Italia
ilustrasi kota Italia (unsplash.com/Daniel Sharp)

Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani menyambut baik kabar pembebasan warga negaranya tersebut. Ia mengatakan bahwa Centrone dan Alberizia, bersama dengan Rodriguez juga memiliki kewarganegaraan Italia, telah diserahkan kepada konsul Italia di Benghazi. Melalui pernyataan di akun media sosial X miliknya, Tajani mengatakan bahwa ketiganya akan kembali ke Italia pada Rabu.

Pada Mei lalu, Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, mengecam perlakuan terhadap para aktivis GSF yang ditahan oleh Israel. Kecaman itu muncul setelah seorang menteri Israel mengunggah video yang memperlihatkan para aktivis dalam keadaan tangan terikat dan dipaksa berlutut. Rekaman tersebut memicu kecaman luas dari berbagai pemerintah di dunia, termasuk Australia, Kanada dan Spanyol.

2. Para aktivis telah ditahan sejak 24 Mei 2026

armada Global Sumud Flotilla
armada Global Sumud Flotilla (Codas, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Dilansir Roya News, kesepuluh aktivis tersebut merupakan anggota Global Sumud Land Convoy, yang berangkat dari Mauritania sebagai bagian dari konvoi darat yang terkoordinasi dengan misi bantuan melalui jalur laut di bawah inisiatif GSF. Mereka ditahan sejak 24 Mei saat rombongan tersebut mendekati kota Sirte untuk membahas jalur aman menuju Gaza dengan pihak berwenang Libya.

"Setelah mengalami penghilangan paksa selama 2–9 hari, mereka diinterogasi oleh jaksa sebelum diperintahkan menjalani penahanan praperadilan sambil menunggu penyelidikan atas tuduhan 'berkumpul tanpa izin'," kata Amnesty International saat itu.

GSF mengatakan bahwa para aktivis tersebut melakukan mogok makan sebagai protes atas penahanan mereka.

3. Israel selalu cegat armada GSF yang menuju Gaza

kehancuran di Jalur Gaza akibat serangan militer Israel
kehancuran di Jalur Gaza akibat serangan militer Israel (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Jalur Gaza telah berada di bawah blokade Israel sejak 2007. Setelah perang meletus pada Oktober 2023, wilayah Palestina tersebut mengalami kelangkaan makanan, obat-obatan dan kebutuhan pokok lainnya. Israel terkadang juga menghentikan sepenuhnya pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.

GSF telah beberapa kali mengirimkan kapal-kapal bantuan menuju Gaza dalam upaya menembus blokade tersebut. Namun, armada tersebut berulang kali dicegat oleh pasukan Israel dan para aktivis yang terlibat ditangkap. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengecam inisiatif tersebut, dengan menyebutnya sebagai skema jahat yang bertujuan mendukung kelompok Hamas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More