Jakarta, IDN Times - Israel dilaporkan kembali menyerang Lebanon untuk membasmi Hizbullah pada Jumat (19/6/2026) malam waktu setempat. Serangan itu dilakukan tidak lama usai Israel menyepakati gencatan senjata bersama Hizbullah pada Jumat pukul 16.00 sore waktu setempat. Kesepakatan itu tercapai berkat mediasi Amerika Serikat dan Qatar.
Usai Gencatan Senjata, Israel Kembali Serang Lebanon

- Israel kembali menyerang Lebanon hanya beberapa jam setelah gencatan senjata dengan Hizbullah, menargetkan wilayah Jezzine, Tyre, dan Nabatieh hingga menewaskan puluhan orang.
- Serangan tersebut memicu frustrasi Amerika Serikat karena Israel mengabaikan peringatan Presiden Donald Trump untuk menghentikan agresi terhadap Hizbullah di Lebanon.
- Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan Israel akan terus menyerang Hizbullah dan mempertahankan kendali di Lebanon selatan demi keamanan pasukan serta warga Israel.
Media Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan, serangan terbaru Israel pada Jumat menyasar dua wilayah di Lebanon selatan, yakni Jezzine dan Tyre. Kedua wilayah itu diduga menjadi markas Hizbullah. Namun, seorang jurnalis AFP melaporkan bahwa serangan Israel juga menghantam Kota Nabatieh.
1. Serangan Israel menewaskan 47 orang

Pemerintah Lebanon melaporkan, serangan terbaru Israel pada Jumat malam kemarin menewaskan setidaknya 47 orang. Di sisi lain, pasukan pertahanan Israel (IDF) melaporkan empat tentara mereka juga tewas dalam agresi itu.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan, IDF sukses menyerang lebih dari 80 target yang berkaitan dengan Hizbullah dalam serangan pada Jumat. Netanyahu menambahkan, IDF juga berhasil membunuh puluhan anggota Hizbullah dalam serangan tersebut. Namun, ia tidak menjelaskan jumlah pasti anggota Hizbullah yang berhasil dibunuh IDF.
Serangan Israel ke Lebanon berlanjut pada Sabtu (20/6/2026) pagi waktu setempat. Dilansir Euronews, IDF kala itu meluncurkan serangan ke Kota Arabsalim hingga menewaskan setidaknya lima orang.
2. Serangan Israel ke Lebanon bikin AS frustrasi

Serangan terbaru Israel ke Lebanon ini membuat AS frustrasi. Sebab, Presiden AS, Donald Trump, sudah berulang kali mewanti-wanti Israel untuk berhenti menyerang Hizbullah di Lebanon. Namun, Israel tampak tidak menghiraukan keinginan Trump.
Netanyahu, justru menyebut serangan Israel ke Lebanon pada Jumat malam dan Sabtu pagi merupakan balasan untuk Hizbullah. Sebab, merekalah yang lebih dulu melanggar gencatan senjata dengan cara menyerang pasukan Israel.
“Menyusul serangan kriminal Hizbullah yang merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata, saya menginstruksikan IDF tadi malam untuk menyerang mereka dengan kekuatan penuh,” kata Netanyahu dilansir Times of Israel.
3. Netanyahu menegaskan akan tetap menyerang Hizbullah

Oleh karena itu, Netanyahu menegaskan akan tetap menyerang Hizbullah sampai mereka menyerah. Sebab, pihaknya tidak akan membiarkan Hizbullah terus menyerang pasukan Israel yang bertugas di Lebanon selatan. Ia juga menegaskan pasukan Israel akan tetap menguasai Lebanon selatan meski sudah ada gencatan senjata.
“Israel tidak akan mentolerir serangan terhadap tentara kami atau wilayah kami. Kami akan menuntut harga yang sangat mahal dari Hizbullah atas serangan tersebut. Israel akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon selatan selama diperlukan untuk melindungi masyarakat di utara,” tegas Netanyahu.













![[QUIZ] Tebak Nama Presiden Negara Peserta Piala Dunia 2026 Saat Ini, Bisa Jawab?](https://image.idntimes.com/post/20260626/upload_eb303502a2c25570fd881db56061c870_42c4a4ab-ef89-471a-80da-777dc3f4c599.jpg)




