Iran Pasang Ranjau di Pulau Kharg Antisipasi Operasi Darat AS

- Iran memperkuat pertahanan Pulau Kharg dengan ranjau dan rudal portabel sebagai respons terhadap ancaman operasi darat Amerika Serikat yang ingin menekan Teheran membuka Selat Hormuz.
- Teheran mengancam akan menyerang infrastruktur vital negara tetangga yang membantu AS, serta membuka front baru di Selat Bab al-Mandeb bersama kelompok Houthi di Yaman.
- Negara-negara Teluk mendesak AS membatalkan operasi darat karena khawatir konflik meluas dan merusak infrastruktur energi, namun Gedung Putih tetap bersikeras menekan Iran secara militer.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran mulai memasang ranjau darat dan sistem rudal portabel di Pulau Kharg. Menurut laporan CNN pada Rabu (25/3/2026), langkah ini diambil menyusul ancaman operasi darat Amerika Serikat (AS).
Presiden AS Donald Trump dilaporkan berencana merebut wilayah tersebut untuk menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz. Pulau seluas sepertiga wilayah Manhattan itu merupakan jantung ekonomi yang memproses hampir 90 persen ekspor minyak mentah Iran.
1. AS datangkan ribuan tentara tambahan di kawasan

AS telah mengerahkan pasukan besar-besaran ke kawasan Timur Tengah untuk mendukung rencana tersebut. Sekitar 2 ribu tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS dilaporkan segera merapat ke kawasan konflik.
Mereka akan bergabung dengan 2.500 Marinir AS yang sudah berada di tiga kapal perang amfibi. Unit ekspedisi ini memiliki rekam jejak operasi darat dan spesialisasi dalam misi pendaratan serta serangan cepat dari laut.
Merespons ancaman tersebut, Teheran langsung menyiagakan sistem pertahanan udara tambahan berupa rudal panggul atau MANPADS. Garis pantai yang berpotensi menjadi titik pendaratan juga dipenuhi ranjau antipersonel dan antikendaraan lapis baja.
Mantan Komandan Sekutu Tertinggi NATO Laksamana Purnawirawan James Stavridis memperingatkan besarnya risiko jatuhnya korban jiwa bagi pasukan AS dalam operasi tersebut. Oleh karena itu, sejumlah analis militer lebih menyarankan strategi blokade laut guna mengganggu aktivitas akses ekspor Iran.
2. Iran ancam negara tetangga yang bantu AS

Pemimpin parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengeluarkan ancaman balasan yang ditujukan ke negara-negara tetangga. Ia menegaskan bahwa Teheran tidak akan segan menghancurkan infrastruktur vital negara kawasan yang terbukti membantu operasi militer AS.
"Pasukan Iran memantau pergerakan musuh, dan jika mereka mengambil langkah apa pun, kami akan menyerang infrastruktur vital di negara regional tersebut secara terus-menerus," ujar Ghalibaf, dilansir Al Jazeera.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengancam akan membuka front pertempuran baru di Selat Bab al-Mandeb. Jalur yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden dilintasi kargo barang bernilai hingga 1 triliun dolar AS (sekitar Rp16,9 kuadriliun) setiap tahunnya.
Kelompok Houthi di Yaman menyatakan kesiapannya untuk membantu menutup selat selebar 32 kilometer tersebut. Sebelumnya, penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah berhasil menghentikan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
3. Sekutu AS khawatir akan operasi darat ke Pulau Kharg

Sekutu AS di kawasan Teluk telah mendesak pemerintahan Trump untuk membatalkan rencana operasi darat. Mereka khawatir pendudukan Pulau Kharg justru akan memperpanjang konflik dan memicu eskalasi yang lebih brutal.
Serangan balasan dari Iran dinilai sangat berisiko merusak infrastruktur energi negara-negara Teluk. Para pemimpin Teluk menyarankan agar Washington cukup memfokuskan serangannya untuk melumpuhkan program rudal balistik milik Iran.
Di sisi lain, Gedung Putih tetap bersikeras menuntut Teheran agar mau menerima kekalahan militer mereka. Pemerintah AS mengancam akan ada serangan yang lebih menghancurkan.
"Presiden Trump tidak menggertak, dan dia siap untuk melepaskan neraka," tutur Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, dilansir Al Jazeera.


















