AS Ambil Alih Kapal Tanker di Dekat Venezuela, Ketegangan Memuncak

- Operasi udara AS menguasai kapal tanker Skipper dekat Venezuela.
- Kapal Skipper terlibat dalam distribusi minyak yang melanggar sanksi internasional.
- Reaksi internasional termasuk solidaritas dari Rusia dan dukungan oposisi Caracas.
Jakarta, IDN Times - Operasi militer Amerika Serikat terhadap kapal tanker Skipper memicu reaksi keras dari Caracas dan memperluas tekanan Washington terhadap pemerintahan Nicolás Maduro.
Berdasarkan laporan Al Jazeera, Gedung Putih menilai langkah itu sebagai tindakan penegakan sanksi terhadap pengiriman minyak gelap, sementara Venezuela menganggapnya serangan terhadap kedaulatan negara.
1. Operasi udara yang dikonfirmasi langsung Gedung Putih

Video resmi yang dirilis Kejaksaan Agung AS, dikutip oleh The Guardian dan BBC, memperlihatkan personel bersenjata turun dari helikopter dan menguasai geladak Skipper. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa kapal tersebut akan dibawa ke pelabuhan AS dan muatan minyaknya akan disita setelah prosedur hukum dijalankan.
Caracas menanggapi dengan menyebut tindakan itu sebagai “pembajakan internasional”, sebuah ungkapan yang kembali ditegaskan Maduro dalam pidato publiknya.
2. Riwayat Skipper dalam jaringan minyak yang melanggar sanksi

Menurut Al Jazeera dan BBC, kapal Skipper sudah berada dalam daftar sanksi sejak 2022 karena dugaan keterlibatan dalam distribusi minyak untuk Iran, Hezbollah, dan jaringan Quds Force. Firma keamanan maritim Vanguard memverifikasi identitas Skipper lewat citra satelit dan data AIS.
Penyitaan kapal ini juga berbarengan dengan keputusan Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi baru terhadap enam kapal tambahan serta kerabat dekat Maduro, dilansir BBC.
3. Dampak geopolitik: Dari Moskow hingga oposisi Caracas

Reaksi internasional ikut menguat. Presiden Vladimir Putin menyatakan “solidaritas” kepada Venezuela dalam panggilan telepon dengan Maduro, menurut pernyataan resmi Kremlin yang dikutip Al Jazeera. Di sisi sebaliknya, tokoh oposisi María Corina Machado justru mendukung penyitaan kapal dan menyebutnya langkah penting untuk menekan apa yang ia gambarkan sebagai rezim kriminal, dilansir.
Berdasarkan keterangan BBC, Ketegangan regional meningkat seiring pengerahan armada AS di Karibia, termasuk kapal induk USS Gerald Ford.


















