Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

AS Blokir Citra Satelit Wilayah Konflik Iran, Khawatir Diserang Balik

AS Blokir Citra Satelit Wilayah Konflik Iran, Khawatir Diserang Balik
citra satelit (unsplash.com/USGS)
Intinya Sih
  • Pemerintah AS meminta Planet Labs menghentikan publikasi citra satelit di wilayah konflik Timur Tengah untuk mencegah Iran memanfaatkannya dalam serangan balasan terhadap pasukan AS dan sekutunya.
  • Kebijakan pemblokiran ini berdampak pada jurnalis dan akademisi karena akses data satelit menjadi terbatas, meski Planet Labs berupaya menyeimbangkan kebutuhan keamanan dan kepentingan publik.
  • Ketegangan meningkat setelah serangan udara AS-Israel ke Iran, diikuti ultimatum Presiden Donald Trump agar Teheran membuka Selat Hormuz dalam 48 jam atau menghadapi serangan besar-besaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) meminta perusahaan citra satelit Planet Labs untuk menghentikan publikasi citra satelit wilayah konflik Timur Tengah. Planet Labs, pada Sabtu (4/4/2026), menyatakan bahwa pihaknya telah setuju memberlakukan pemblokiran tanpa batas waktu yang ditentukan.

Pemblokiran mencakup seluruh wilayah Iran, pangkalan negara sekutu, hingga negara-negara Teluk. Langkah ini merupakan imbas dari peperangan yang sedang berlangsung antara AS, Israel, dan Iran.

1. Iran dapat memanfaatkan citra satelit untuk serangan balasan

misil Iran. (unsplash.com/Moslem Danesh)
misil Iran. (unsplash.com/Moslem Danesh)

Planet Labs menyatakan pembatasan citra satelit telah berlaku surut sejak 9 Maret 2026. Perusahaan yang berbasis di California ini awalnya hanya memberlakukan penundaan rilis gambar selama 14 hari.

Kini, penyedia layanan tersebut beralih menggunakan model akses terkelola untuk mendistribusikan foto. Mereka hanya akan merilis gambar secara kasus per kasus demi kepentingan publik atau misi yang mendesak.

Kebijakan ini diambil untuk mencegah Iran memanfaatkan data satelit komersial guna menyerang posisi pasukan AS. Pasalnya, citra satelit memang kerap digunakan untuk mengidentifikasi target dan memandu senjata.

Selain Planet Labs, perusahaan penyedia citra satelit Vantor juga telah menerapkan pembatasan akses serupa. Mereka ikut membatasi permintaan foto udara baru di kawasan operasi militer yang sedang aktif.

2. Pemblokiran akan berdampak pada jurnalis dan akademisi

ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)
ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)

Undang-undang AS memperbolehkan pembatasan operasi perusahaan citra satelit komersial demi menjaga keamanan nasional. Berdasarkan aturan main, para penyedia citra satelit harus menerapkan protokol pembatasan agar terhindar dari sanksi pemerintah.

Dalam situasi normal, kumpulan citra satelit biasanya bisa diakses klien hanya dalam hitungan jam. Kini, pemblokiran diprediksi akan mempersulit para jurnalis dan akademisi yang ingin memantau jalannya konflik.

Planet Labs menegaskan bahwa mereka berupaya mencari jalan tengah terbaik di tengah krisis. Pihak perusahaan memprediksi pembatasan akan terus diberlakukan hingga konflik benar-benar berakhir.

"Ini adalah keadaan luar biasa, dan kami melakukan semua yang kami bisa untuk menyeimbangkan kebutuhan pemangku kepentingan," tutur pihak Planet Labs, dilansir Al Jazeera.

3. Trump ultimatum Iran untuk buka Selat Hormuz

kapal di Selat Hormuz
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Konflik di Timur Tengah pecah setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara gabungan ke wilayah Iran pada akhir Februari lalu. Militer Iran lantas membalas dengan menembakkan rentetan misil ke arah Israel dan negara-negara Teluk.

Presiden AS Donald Trump telah memberikan ultimatum waktu 48 jam kepada pemerintah Iran. Trump mendesak Teheran untuk segera membuat kesepakatan dan membuka Selat Hormuz.

Apabila tenggat waktu dilewati, Trump mengancam akan menghancurkan berbagai fasilitas energi dan infrastruktur vital Iran. Sementara itu, militer Iran mengecam ancaman Trump dan menyebutnya sebagai tindakan yang ceroboh dan bodoh.

"Makna sederhana dari pesan ini adalah pintu neraka akan terbuka untuk Anda," ujar juru bicara militer Iran, Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, dilansir Al Jazeera.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More