Lebih dari 20 Serangan Targetkan Fasilitas Kesehatan Iran sejak Maret

- WHO melaporkan lebih dari 20 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Iran sejak Maret 2026, menewaskan sedikitnya sembilan orang dan merusak layanan medis di beberapa kota termasuk Teheran.
- Serangan drone menghantam gudang bantuan di Bushehr, menghancurkan kendaraan darurat dan kontainer bantuan; IFRC menegaskan pentingnya perlindungan fasilitas kemanusiaan sesuai Konvensi Jenewa.
- AS dan Israel melancarkan serangan besar ke Iran sejak Februari 2026, menewaskan ribuan warga sipil; ancaman Trump untuk menggempur Iran hingga 'Zaman Batu' menuai kritik hukum internasional.
Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Iran telah mengalami lebih dari 20 serangan yang menargetkan fasilitas layanan kesehatannya sejak awal Maret 2026, di tengah gempuran Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap negara tersebut.
“Sejak 1 Maret, WHO telah memverifikasi lebih dari 20 serangan terhadap layanan kesehatan di Iran, yang mengakibatkan sedikitnya sembilan kematian, termasuk seorang tenaga kesehatan bidang penyakit menular dan seorang anggota Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran,” tulis Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, di platform media sosial X pada Jumat (3/4/2026).
Ia mencatat bahwa dalam beberapa hari terakhir, sejumlah serangan terhadap fasilitas kesehatan dilaporkan terjadi di Teheran, yang menargetkan Institut Pasteur, Rumah Sakit Jiwa Delaram Sina, dan fasilitas farmasi Tofigh Daru.
“Konflik di Iran dan kawasan ini secara keseluruhan berdampak pada penyelenggaraan layanan kesehatan serta keselamatan tenaga medis, pasien, dan warga sipil yang berada di fasilitas kesehatan. Perdamaian adalah obat terbaik,” tambah Ghebreyesus.
1. Sejumlah rumah sakit alami kerusakan signifikan

Kepala WHO itu mengatakan bahwa Institut Pasteur, fasilitas medis tertua di iran, mengalami kerusakan signifikan setelah diserang pada Kamis (2/4/2026). Namun, kantor berita Iran, ISNA, melaporkan bahwa layanan di fasilitas tersebut tidak terganggu oleh serangan-serangan tersebut, seraya menambahkan bahwa produksi vaksin dan serum akan tetap berlanjut.
“Untungnya, tidak ada satu pun karyawan Institut Pasteur Iran yang terluka dalam serangan terbaru oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis,” kata Ghebreyesus.
Ia menambahkan bahwa Rumah Sakit Jiwa Delaram Sina dan fasilitas farmasi Tofigh Daru juga mengalami kerusakan akibat serangan, tapi tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Sementara itu, ledakan juga terjadi di dekat Rumah Sakit Imam Ali di provinsi Khuzestan, menyebabkan fasilitas tersebut dievakuasi dan layanan dihentikan.
2. Serangan drone hantam gudang bantuan di Iran selatan

Dilansir dari The Straits Times, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) melaporkan serangan drone menghantam sebuah gudang yang menyimpan kontainer bantuan dan kendaraan darurat di provinsi Bushehr pada Jumat pagi. Akibatnya, dua kontainer, dua bus dan sejumlah kendaraan darurat hancur.
“Komunitas di semua pihak sudah membayar harga yang mahal sejak eskalasi permusuhan. Pekerja kemanusiaan, ambulans, pasokan bantuan, dan fasilitas kemanusiaan harus dihormati dan dilindungi,” tulis IFRC di X.
Menurut Bulan Sabit Merah Iran, sebanyak 307 fasilitas kesehatan, medis dan layanan darurat telah mengalami kerusakan akibat perang. Padahal, fasilitas layanan kesehatan merupakan tempat yang dilindungi berdasarkan Konvensi Jenewa.
Israel sendiri berulang kali menyerang rumah sakit di Gaza selama 2 tahun pengeboman di wilayah tersebut sejak Oktober 2023. Mereka berdalih bahwa fasilitas-fasilitas tersebut digunakan oleh kelompok perlawanan Palestina, Hamas.
3. AS ancam gempur Iran hingga negara itu kembali ke Zaman Batu

Perang terbaru di Iran dimulai ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap negara tersebut pada 28 Februari 2026. Teheran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Sejauh ini, lebih dari 2 ribu orang telah tewas di Iran, sementara ribuan lokasi sipil, termasuk rumah sakit, sekolah, universitas dan pabrik farmasi, diserang oleh Israel dan AS.
Baru-baru ini, Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan mengancam akan membombardir Iran hingga membuat negara itu kembali Zaman Batu. Pernyataan itu diperkuat oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam unggahannya di X yang berbunyi: “Kembali ke Zaman Batu.”
Janina Dill, profesor keamanan global di Universitas Oxford, mengatakan bahwa jika ancaman zaman batu dari Trump menyiratkan bahwa AS akan menghancurkan struktur dan bangunan yang menjadi ciri masyarakat modern, maka hal itu ilegal karena berarti mengarahkan serangan terhadap objek sipil. Hukum internasional sendiri melarang serangan terhadap infrastuktur sipil secara sengaja selama perang.
“Pernyataan bahwa semua itu tetap akan menjadi sasaran secara menyeluruh berarti pengumuman adanya pelanggaran sistematis dan serius terhadap hukum perang yang telah lama berlaku,” ujar Dill, dilansir dari Al Jazeera.


















