Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

AS Sebut Iran Masih Punya Ribuan Rudal buat Lanjutkan Perang

AS Sebut Iran Masih Punya Ribuan Rudal buat Lanjutkan Perang
potret rudal (unsplash.com/Gabriel Vasiliu)
Intinya Sih
  • Laporan intelijen AS menyebut Iran masih memiliki ribuan rudal meski sebagian besar persenjataannya hancur akibat serangan AS dan Israel pada Februari 2026.
  • Pejabat AS khawatir Iran akan memanfaatkan gencatan senjata dua pekan untuk memproduksi lebih banyak rudal, meski kondisi ekonomi dan fasilitas produksinya belum pulih.
  • Perang antara Iran, AS, dan Israel mereda setelah Presiden Donald Trump menyetujui gencatan senjata dua pekan yang disambut positif oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat menyebut Iran kini masih punya ribuan senjata rudal untuk melanjutkan perang. Kabar ini dimuat dalam laporan Wall Street Journal (WSJ) yang mengutip hasil investigasi agen intelijen dan pernyataan sejumlah pejabat AS pada Sabtu (11/4/2026).

Investigasi tersebut dilakukan untuk merespons pernyataan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, beberapa waktu lalu. Dalam pernyataannya, Hegseth mengklaim sebagian besar senjata yang dimiliki Iran untuk berperang sudah hancur sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu.  

1. Iran bisa manfaatkan gencatan senjata untuk memproduksi lebih banyak rudal

Rudal Iran.
potret rudal Iran (unsplash.com/Moslem Daneshzadeh)

Sejumlah pejabat AS khawatir Iran akan memanfaatkan momen gencatan senjata dengan AS dan Israel untuk memproduksi lebih banyak rudal. Sebab, menurut mereka, waktu gencatan senjata dua pekan yang diberikan AS kepada Iran sangat cukup untuk membangun kembali persediaan rudal.

Kendati begitu, seorang pejabat Israel mengatakan, Iran kini masih belum bisa memproduksi lebih banyak rudal. Sebab, kondisi keuangan mereka belum stabil usai mengalami banyak kerugian karena diserang AS dan Israel. Terlebih, banyak fasilitas produksi senjata Iran yang rusak imbas diserang kedua negara tersebut.

2. AS dan Israel kerap menyerang fasilitas kritis milik Iran

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
ilustrasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran (pexels.com/Saifee Art)

Sebagai informasi, selama berperang dengan Iran, AS dan Israel memang kerap menyerang fasilitas-fasilitas kritis. Beberapa di antaranya, seperti fasilitas energi dan fasilitas produksi senjata. Fasilitas produksi senjata ini sangat berperan penting bagi Iran untuk membantu mereka memproduksi senjata agar bisa melawan AS dan Israel.

Pada akhir Maret lalu, pasukan militer Israel (IDF) mengklaim berhasil meluncurkan serangan udara ke 40 situs produksi senjata milik Iran. Serangan ini dilakukan agar Iran kehabisan senjata untuk menyerang mereka. Jika situs-situs tadi diserang, produksi senjata Iran akan berkurang sehingga kekuatan untuk menyerang AS dan Israel akan menurun. Situs-situs yang sudah diserang Israel tadi dikabarkan memproduksi berbagai jenis senjata, mulai dari rudal balistik hingga mesin peluncur rudal. 

3. Perang antara Iran dengan AS dan Israel kini sudah mereda

Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
ilustrasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Perang antara Iran dengan AS dan Israel sendiri kini sudah mereda. Sebab, Presiden AS, Donald Trump, sudah menyepakati gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan pada Selasa (7/4/2026) lalu. Gencatan senjata ini akhirnya disepakati usai AS dan Israel membombardir Iran selama lebih dari satu bulan. 

Gencatan senjata ini lantas disambut baik oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Netanyahu mengatakan, meski hanya bersifat sementara, gencatan senjata tersebut sangat berguna bagi AS, Israel, dan Iran untuk mengakhiri perang agar tidak berlarut-larut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More