Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Fokus Panggung Global, Lemahnya Kehadiran Indonesia di ASEAN Dikritik

Fokus Panggung Global, Lemahnya Kehadiran Indonesia di ASEAN Dikritik
ilustrasi ASEAN (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Intinya Sih
  • Dino Patti Djalal menilai perhatian Indonesia terhadap ASEAN menurun di era Presiden Prabowo, dengan fokus diplomasi lebih condong ke panggung global dibanding kawasan Asia Tenggara.
  • Minimnya kunjungan Presiden Prabowo ke negara ASEAN dan kurangnya respons terhadap isu regional dinilai dapat merusak kredibilitas serta pengaruh strategis Indonesia di kawasan.
  • Dino menekankan KTT ASEAN mendatang sebagai momentum penting bagi Indonesia untuk menunjukkan kembali kepemimpinan dan peran aktif dalam isu-isu strategis Asia Tenggara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menyoroti menurunnya perhatian Indonesia terhadap kawasan Asia Tenggara di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai hal ini berpotensi merugikan posisi strategis Indonesia di kawasan.

Menurut Dino, terdapat persepsi kuat pemerintah saat ini lebih fokus pada panggung global dibandingkan kawasan ASEAN.

“Ada persepsi yang sangat kuat bahwa Presiden Prabowo jauh lebih tertarik pada panggung global ketimbang Asia Tenggara,” ujarnya dalam video yang diunggah FPCI, Minggu (12/4/2026).

Ia menilai, perubahan arah ini berbeda dengan tradisi diplomasi Indonesia sebelumnya yang selalu menempatkan ASEAN sebagai prioritas utama.

1. Minim kunjungan dan respons regional

Fokus Panggung Global, Lemahnya Kehadiran Indonesia di ASEAN Dikritik
Ilustrasi ASEAN. (IDN Times/Sonya Michaella)

Dino juga menyoroti minimnya kunjungan Presiden Prabowo ke negara-negara ASEAN. Dari puluhan kunjungan luar negeri, hanya sebagian kecil yang dilakukan ke kawasan Asia Tenggara.

“Dalam 18 bulan terakhir, Presiden Prabowo telah melakukan 49 kali kunjungan keluar negeri, namun hanya 4 negara ASEAN yang dikunjungi,” katanya.

Selain itu, ia menilai Indonesia juga kurang responsif terhadap konflik di kawasan, seperti konflik Thailand-Kamboja dan situasi di Myanmar.

“Pemerintah Indonesia juga tidak memberikan pernyataan apapun, sehingga banyak menimbulkan tanda tanya di kalangan negara-negara ASEAN,” ujar Dino.

2. Risiko bagi kredibilitas Indonesia

Fokus Panggung Global, Lemahnya Kehadiran Indonesia di ASEAN Dikritik
Ilustrasi ASEAN Indonesia 2023 (IDN Times/Trio Hamdani)

Menurut Dino, kondisi ini memunculkan persepsi bahwa Indonesia mulai menjauh dari ASEAN. Persepsi tersebut, benar atau tidak, dapat berdampak pada kredibilitas Indonesia.

“Tidaklah mengherankan kalau timbul anggapan bahwa pemerintah Indonesia di era Prabowo cuek bebek terhadap ASEAN,” katanya.

Ia menegaskan, ASEAN tetap menjadi kawasan di mana Indonesia memiliki pengaruh paling besar dibandingkan wilayah lain.

“ASEAN bisa berjalan tanpa Indonesia, tapi ASEAN tidak mungkin kuat tanpa Indonesia,” ujarnya.

3. Momentum KTT ASEAN dan peran strategis RI

Ilustrasi ASEAN. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Ilustrasi ASEAN. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Dino menilai KTT ASEAN mendatang menjadi momentum penting untuk menunjukkan kembali kepemimpinan Indonesia di kawasan.

“KTT ASEAN di Cebu bulan Mei mendatang menjadi momen penting untuk menunjukkan bahwa Indonesia is back in ASEAN,” katanya.

Ia juga mendorong Indonesia aktif dalam berbagai isu strategis, mulai dari konflik kawasan hingga penyelesaian Code of Conduct Laut China Selatan.

“Kita harus menjadikan ASEAN benteng ketahanan Asia Tenggara,” ujarnya.

Menurut Dino, Indonesia tidak perlu menjadi dominan, tetapi harus menjadi penggerak utama ASEAN.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in News

See More