Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ketegangan Paus Leo XIV vs Trump, Ini Kronologinya!

Ketegangan Paus Leo XIV vs Trump, Ini Kronologinya!
Paus Leo XIV (Fotografía oficial de la Presidencia de Colombia, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Paus Leo XIV mengkritik keras perang AS dan Israel melawan Iran, menegaskan ajaran agama tak boleh digunakan untuk membenarkan kekerasan di tengah konflik geopolitik yang memanas.
  • Donald Trump merespons dengan serangan personal terhadap Paus Leo, menudingnya berpihak pada sayap kiri dan menolak pandangan Vatikan soal Iran serta kebijakan luar negeri Amerika.
  • Paus Leo tetap tenang menghadapi tekanan politik, menegaskan dirinya bukan politisi dan terus menyerukan pesan damai di tengah meningkatnya ketegangan global antara kekuatan militer dan moralitas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Ketegangan tak biasa muncul antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Gereja Katolik dunia, Paus Leo XIV, di tengah memanasnya konflik Iran. Kritik moral dari Vatikan terhadap perang justru berujung pada serangan balik dari Trump.

Konflik ini bermula dari pernyataan Paus Leo yang menyinggung perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Dalam khotbahnya, Paus menegaskan, ajaran agama tidak dapat digunakan untuk membenarkan kekerasan.

Pernyataan tersebut muncul di tengah situasi geopolitik yang memanas sejak 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran. Teheran membalas dengan serangan ke Israel dan aset Amerika di kawasan Teluk, bahkan menutup Selat Hormuz.

Langkah Iran itu memicu kekhawatiran global, terutama terkait distribusi minyak dunia dan potensi krisis energi. Meski sempat ada gencatan senjata, konflik belum menunjukkan tanda mereda.

Perdebatan antara Trump dan Paus Leo berkembang menjadi polemik terbuka. Hal ini memperlihatkan benturan dalam memandang perang.

1. Kritik Paus Leo atas kekerasan perang

Paus Leo XIV
Paus Leo XIV (Edgar Beltrán, The Pillar, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Paus Leo pertama kali menyampaikan kritiknya pada 29 Maret 2026, bertepatan dengan Minggu Palma. Dalam pernyataannya, dia menekankan ajaran Yesus menolak perang dalam bentuk apa pun.

"Inilah Tuhan kita: Yesus, Raja Damai, yang menolak perang, yang tak bisa digunakan siapa pun untuk membenarkan perang," ujar Paus Leo, dilansir dari CNN, Kamis (16/4/2026).

Dia juga menyinggung soal doa yang tidak akan didengar jika dilakukan oleh pihak yang terlibat dalam kekerasan. Pernyataannya memperkuat pesan moral Vatikan terhadap konflik yang sedang berlangsung.

"Dia tidak mendengarkan doa-doa orang-orang yang berperang, tetapi menolaknya, dengan berkata: 'Meskipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan: tanganmu penuh dengan darah'," katanya, mengutip kitab Yesaya.

Meski tidak menyebut secara langsung pihak tertentu, pernyataan tersebut muncul dalam konteks perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

2. Trump balas dengan serangan personal ke Paus Leo XIV

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di bandara selepas turun dari Pesawat Air Force One.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di bandara selepas turun dari Pesawat Air Force One. (commons.wikimedia.org/U.S. Air National Guard)

Respons Trump datang pada 12 April dengan nada yang jauh lebih keras. Dia tidak hanya menanggapi kritik, tetapi juga menyerang legitimasi Paus Leo.

"Leo seharusnya bersyukur karena, seperti yang semua orang tahu, dia adalah kejutan yang tak terduga," kata Trump.

Dia bahkan menyebut posisi Paus Leo berkaitan dengan faktor politik, termasuk latar belakangnya sebagai warga Amerika Serikat. Trump juga menegaskan ketidaksetujuannya terhadap pandangan Paus terkait Iran.

"Saya tak ingin seorang Paus yang mengira tak apa-apa Iran punya senjata nuklir," ujarnya.

Trump juga memperluas kritiknya dengan menyinggung isu lain, termasuk kebijakan Amerika Serikat terhadap Venezuela, serta menyebut Paus sebagai bagian dari sayap kiri radikal.

"Leo harus memperbaiki perilakunya sebagai Paus, menggunakan akal sehat, berhenti melayani sayap kiri radikal, dan fokus menjadi Paus yang hebat, bukan malah menjadi politisi," kata Trump.

3. Paus Leo XIV tak gentar lawan Trump

Paus Leo XIV saat audiensi dengan media (12 Mei 2025) (Edgar Beltrán, The Pillar, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Paus Leo XIV saat audiensi dengan media (12 Mei 2025) (Edgar Beltrán, The Pillar, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Menanggapi serangan tersebut, Paus Leo memilih untuk tidak terlibat dalam polemik terbuka. Dia menegaskan tidak takut terhadap tekanan politik.

"Saya tidak takut terhadap pemerintahan Trump, ataupun untuk menyuarakan pesan Injil dengan lantang," ujarnya.

Saat ditanya soal kritik Trump, Paus hanya memberikan respons singkat, menegaskan tak mau terjebak dalam konflik politik.

"Ironis, bahkan dari nama platformnya saja. Tidak perlu saya tambahkan lagi. Saya bukan seorang politisi," katanya, menegaskan posisinya sebagai pemimpin spiritual.

Paus juga kembali menyoroti dampak perang secara umum. "Hati Tuhan terkoyak karena perang, kekerasan, ketidakadilan, dan kebohongan," ujarnya.

Ketegangan belum mereda setelah Trump kembali melontarkan pernyataan melalui media sosialnya pada 15 April. Ia menyoroti angka korban sipil di Iran sebagai pembenaran sikapnya.

"Tolong sampaikan ke Paus Leo, Iran sudah membunuh setidaknya 42 ribu warga sipil tak berdosa dan tak bersenjata dalam dua bulan terakhir," kata Trump.

Pernyataan ini merujuk pada angka korban dalam demonstrasi di Iran, meski data tersebut disebut tidak dapat diverifikasi oleh lembaga independen.

Pernyataan Trump menunjukkan bagaimana konflik geopolitik juga merambah ranah narasi publik dan moral, termasuk dalam hubungan dengan tokoh agama global. Di tengah perang yang belum menunjukkan tanda berakhir, perdebatan antara Trump dan Paus Leo mencerminkan perbedaan tajam dalam cara melihat konflik—antara pendekatan kekuatan dan seruan perdamaian.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in News

See More