China Larang Handle Pintu Tersembunyi di EV Mulai 2027, Ini Alasannya!

- Aturan keselamatan baru China lebih rinci, termasuk ruang cekung minimal 6 cm x 2 cm x 2,5 cm di bagian luar pintu dan tanda cara membuka pintu di dalam mobil.
- Gagang pintu Tesla berada dalam pengawasan regulator internasional, dengan investigasi terhadap pegangan pintu elektrik Tesla oleh Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional AS (NHTSA).
- China bergeser dari pembeli menjadi pembuat standar otomotif dunia, memimpin upaya penyesuaian produsen mobil China dan menentukan standar teknologi kendaraan baru secara global.
Jakarta, IDN Times - China resmi melarang penggunaan handle atau gagang pintu tersembunyi pada kendaraan listrik (EV) mulai 1 Januari 2027. Langkah ini menjadikan Negeri Tirai Bambu sebagai negara pertama yang menghentikan desain kontroversial yang dipopulerkan oleh Tesla milik Elon Musk tersebut, demi alasan keamanan.
Kebijakan ini menyusul sejumlah insiden fatal, termasuk kecelakaan EV Xiaomi, di mana pintu gagal terbuka akibat pemadaman listrik.
Berdasarkan peraturan keselamatan baru yang dikeluarkan oleh Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi pada Senin (2/2/2026), setiap mobil yang dijual wajib memiliki mekanisme pembuka mekanis di sisi dalam dan luar pintu, dilansir BBC.
1. Aturan keselamatan baru China lebih rinci
Aturan baru juga mengharuskan setiap pintu penumpang, kecuali bagasi, memiliki ruang cekung minimal 6 cm x 2 cm x 2,5 cm di bagian luar untuk akses handle pintu. Di dalam mobil juga harus terdapat tanda berukuran minimal 1 cm x 0,7 cm yang menjelaskan cara membuka pintu.
Kendaraan yang telah disetujui otoritas dan mendekati tahap pemasaran di China, diberi waktu dua tahun untuk menyesuaikan desain. Gagang pintu tersembunyi sendiri banyak digunakan pada kendaraan energi baru (NEV). Ini termasuk mobil listrik, mobil hibrida, dan mobil bertenaga sel bahan bakar, yang fiturnya terdapat pada sekitar 60 persen dari 100 mobil listrik terlaris.
2. Gagang pintu Tesla berada dalam pengawasan regulator internasional

Meski aturan ini hanya berlaku untuk model yang dijual di China, tetapi dominasi pasar otomotif negara tersebut diprediksi akan memberikan dampak global. Saat ini, fitur gagang pintu Tesla berada dalam pengawasan ketat regulator keselamatan Amerika Serikat (AS), langkah serupa juga sedang dipertimbangkan oleh otoritas Eropa.
Pada November lalu, Badan Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional AS (NHTSA) meluncurkan investigasi terhadap pegangan pintu elektrik Tesla. Ini setelah menerima laporan bahwa fitur tersebut dapat tiba-tiba gagal berfungsi dan menyebabkan penumpang, termasuk anak-anak, terjebak di dalam kendaraan. NHTSA mencatat 9 keluhan terkait Tesla Model Y produksi 2021, dengan 4 kasus memaksa pemilik memecahkan kaca untuk menyelamatkan penumpang.
3. China bergeser dari pembeli menjadi pembuat standar otomotif dunia

Dampak perubahan ini diperkirakan tidak merata, sementara biaya implementasinya masih belum pasti. Seorang sumber yang mengetahui proses desain di sebuah produsen kendaraan listrik China mengatakan biayanya dapat melebihi 100 juta yuan (sekitar Rp241,2 miliar) per model.
Produsen mobil China, yang lebih awal menangkap sinyal perubahan regulasi, memimpin upaya penyesuaian. Sejumlah model, termasuk Galaxy M9 dari Geely Automobile Holdings dan Seal 06 dari BYD, telah kembali menggunakan gagang pintu konvensional. Sebaliknya, sebagian besar produsen mobil asing belum mengungkapkan bagaimana mereka akan menyesuaikan desain pintu kendaraan mereka untuk pasar China.
Pendiri perusahaan konsultan Automobility yang berbasis di Shanghai, Bill Russo, mengatakan China tidak lagi hanya sebagai pasar terbesar kendaraan listrik. Namun, kini mulai menentukan standar dan aturan tentang bagaimana teknologi kendaraan baru dikembangkan dan diatur secara global.
"China jauh lebih maju dalam komersialisasi beberapa teknologi canggih, dalam elektrifikasi, dan menurut saya akan lebih maju lagi dalam teknologi kendaraan otonom. China akan memainkan peran yang sangat besar dalam melangkah lebih maju dari negara-negara lain di dunia dalam menetapkan standar regulasi," kata Russo, dikutip dari The Straits Times.



















