Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Cari Asal-Usul COVID-19, Tim WHO Kunjungi Lab

Cari Asal-Usul COVID-19, Tim WHO Kunjungi Lab
Tempat laboratorium yang dikunjungi oleh WHO untuk mencari asal-usul COVID-19. (Twitter.com/SamsonM34475947)

Wuhan, IDN Times - Sebuah tim dari WHO telah mengunjungi laboratorium Wuhan Institute of Virology untuk mencari asal-usul virus COVID-19 yang sudah menyebar ke seluruh negara di dunia. Kedatangan tim tersebut telah dijaga sangat ketat oleh para petugas keamanan setempat. Bagaimana awal ceritanya?

1. Berawal dari sebuah teori konspirasi yang menyebutkan kebocoran virus COVID-19 dari laboratorium di Wuhan

Dilansir dari Aljazeera.com, sebuah tim penyelidik yang bekerja sama atas WHO telah mengunjungi laboratorium penelitian virus di Wuhan Institute of Virology di Wuhan, Tiongkok dan telah dijadwalkan untuk bertemu dengan ahli virologi terkemuka di Tiongkok, karena terus mencari petunjuk tentang asal-usul adanya virus COVID-19. Tim tersebut dipimpin oleh ahli virus dari WHO, Peter Ben Embarek yang tiba di lokasi itu pada hari Rabu, 3 Februari 2021, pagi waktu setempat. Salah satu anggota tim sekaligus Presiden EcoHealth Alliance, Peter Daszak, mengatakan ia telah menantikan hari yang sangat produktif dengan bertemu orang-orang penting dan menanyakan semua pertanyaan penting terkait virus COVID-19.

Penyelidikan ini berawal dari adanya sebuah teori konspirasi yang mengklaim kebocoran virus COVID-19 dari laboratorium yang diketahui merupakan pemicu wabah virus COVID-19 pertama pada akhir tahun 2019 lalu. Sebagian besar ilmuwan menolak hipotesis tersebut, tetapi beberapa diantaranya telah berspekulasi bahwa virus yang didapat dari alam liar dapat muncul dalam eksperimen di laboratorium untuk menguji risiko limpahan manusia serta kemudian menularkan ke anggota staf yang terinfeksi.

Beberapa ilmuwan juga telah meminta Tiongkok untuk merilis rincian semua sampel virus COVID-19 yang dipelajari di laboratorium, untuk melihat mana yang paling mirip dengan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan penyakit pernapasan.

2. Laboratorium tersebut dibuat setelah peristiwa epidemi virus SARS yang terjadi pada tahun 2002 dan 2003 lalu

Ilustrasi virus COVID-19. (Pixabay.com/PIRO4D)
Ilustrasi virus COVID-19. (Pixabay.com/PIRO4D)

Laboratorium Wuhan Institute of Virology didirikan setelah peristiwa epidemi sindrom pernapasan akut (SARS), yang sempat melanda Tiongkok dan beberapa negara di Asia lainnya pada tahun 2002 dan 2003 lalu. Secara khusus, tim lab Wuhan yang dipimpin oleh ahli virology, Shi Zhengli, yang dikenal sebagai "wanita kelelawar" Tiongkok selama bertahun-tahun terjun dalam perburuan virus di gua kelelawar, saat ini telah fokus pada virus COVID-19 yang disebabkan oleh kelelawar, persis seperti yang diyakini disebabkan oleh pandemi saat ini.

Kelelawar merupakan reservoir utama virus dan meskipun tidak menderita karena resistensi alami, kelelawar juga dikenal sebagai pembawa banyak patogen infeksius yang merusak bagi manusia, termasuk ebola, rabies, SARS, dan sindrom pernapasan di kawasan Timur Tengah (MERS). Konsensus ilmiah saat ini adalah bahwa SARS-CoV-2, virus dibalik pandemi COVID-19, juga berevolusi pada kelelawar dan kemudian menyebar ke manusia, berpotensi dengan inang hewan perantara.

Hal ini membuat pekerjaan laboratorium seperti di Wuhan semakin penting, karena memahami bagaimana virus berevolusi dan menyebar dari kelelawar ke manusia dapat lebih memungkinkan para ilmuwan untuk melawan infeksi di masa depan.

Ini juga berarti bahwa laboratorium semacam itu kemungkinan menjadi tuan rumah bagi sejumlah patogen yang berpotensi mematikan dan harus ekstra hati-hati. 

3. Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya menuding Tiongkok sebagai awal dari masalah COVID-19 yang sudah menyebar luas

Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Instagram.com/realdonaldtrump)
Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Instagram.com/realdonaldtrump)

Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bersama para pendukungnya menuding Tiongkok dengan sengaja membocorkan virus COVID-19 sehingga tersebar luas di seluruh negara di dunia. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat saat itu, Mike Pompeo, juga bersikeras pada tahun lalu bahwa ada bukti signifikan bahwa virus itu berasal dari laboratorium, sementara di sisi lain tidak merilis bukti dan mengakui bahwa tidak ada kepastian.

Selama awal-awal pandemi COVID-19, Tiongkok telah menghadapi berbagai kritikan di dalam dan luar negeri karena mengecilkan wabah virus tersebut serta menyembunyikan informasi ketika virus COVID-19 pertama kali ditemukan di Wuhan pada bulan Desember 2019 lalu yang menyebabkan kekhawatiran semakin meningkat.

Tiongkok sendiri juga bertekad untuk fokus pada pemulihannya dari wabah virus COVID-19 dan tim WHO telah mengunjungi pameran propaganda untuk merayakan pemulihan Tiongkok dari pandemi di Wuhan pada hari Sabtu, 30 Januari 2021, lalu. Sampai saat ini, jumlah kasus COVID-19 di seluruh dunia sampai tanggal 3 Februari 2021 untuk sementara mencapai 104.435.174 kasus dengan rincian 2.263.886 kasus berakhir meninggal dunia serta 76.324.092 kasus berakhir sembuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Christ Bastian Waruwu
EditorChrist Bastian Waruwu
Follow Us

Latest in News

See More

#NW Ukraina Siap Kirim Pakar Maritim untuk Buka Blokade Selat Hormuz

04 Apr 2026, 20:33 WIBNews