Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Iran Tolak Tawaran Gencatan Senjata 48 Jam dari AS

Iran Tolak Tawaran Gencatan Senjata 48 Jam dari AS
bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)
Intinya Sih
  • Iran menolak tawaran gencatan senjata 48 jam dari AS meski serangan gabungan AS-Israel telah menewaskan ribuan orang sejak akhir Februari 2026.
  • Upaya mediasi oleh Pakistan, Turki, dan Mesir belum berhasil karena Iran menilai tuntutan AS tidak dapat diterima serta mengajukan syarat penarikan pasukan dan kompensasi kerusakan.
  • Militer Iran menembak jatuh dua pesawat tempur AS dan melancarkan serangan balasan ke Israel yang memicu kebakaran di Negev serta kerusakan di beberapa kota.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Iran mengatakan pihaknya menolak tawaran Amerika Serikat (AS) untuk melakukan gencatan senjata selama 48 jam. Sejak 28 Februari 2026, AS bersama Israel telah menggempur Iran, menewaskan lebih dari 2 ribu orang di negara tersebut.

Menurut kantor berita Fars, AS mengusulkan gencatan senjata tersebut melalui negara ketiga pada Kamis (2/4/2026). Seorang pejabat mengatakan bahwa tawaran itu muncul setelah meningkatnya ketegangan dan tantangan yang dihadapi oleh pasukan AS di kawasan Timur Tengah.

"Upaya diplomatik AS untuk menghentikan pertempuran telah meningkat, terutama setelah adanya laporan serangan terhadap depot militer AS di Pulau Bubiyan di Kuwait," kata pejabat tersebut, dikutip dari Anadolu.

Awal pekan ini, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan Iran lah yang meminta gencatan senjata. Namun, Teheran membantah klaim tersebut.

1. Upaya mediasi gencatan masih menemui jalan buntu

serangan Israel di ibu kota Iran, Teheran, dalam perang pada Juni 2025
serangan Israel di ibu kota Iran, Teheran, dalam perang pada Juni 2025 (Mehr News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ), upaya Pakistan untuk memediasi gencatan senjata menemui jalan buntu setelah Iran menolak bertemu dengan pejabat AS di Islamabad karena menilai tuntutan Washington tidak dapat diterima.

Teheran mengajukan sejumlah syarat tersendiri untuk mengakhiri konflik, di antaranya AS harus menarik seluruh pasukannya dari pangkalan-pangkalan di Timur Tengah serta memberikan kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan pada sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur penting lainnya.

WSJ juga melaporkan bahwa Turki dan Mesir tengah menjajaki alternatif lain untuk melanjutkan upaya mediasi, termasuk mempertimbangkan lokasi baru seperti Doha atau Istanbul. Namun, Qatar menolak berperan sebagai mediator utama dalam kemungkinan perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran.

2. Iran tembak jatuh 2 pesawat tempur AS

ilustrasi jet militer (pixabay.com/jmd1)
ilustrasi jet militer (pixabay.com/jmd1)

Iran kemungkinan besar telah siap dengan konflik jangka panjang. Menurut asesmen intelijen AS yang dilaporkan oleh CNN, militer Iran masih memiliki sekitar setengah dari peluncur rudal dan setengah dari drone kamikaze. Hal ini bertentangan dengan klaim Trump dan pemerintah Israel yang berulang kali menyatakan telah menghancurkan kemampuan pertahanan Iran.

Pada Jumat (3/4/2026), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menembak jatuh jet tempur AS F-15E di wilayah barat daya negara itu. Baik militer AS maupun Iran melancarkan pencarian terhadap dua pilot yang selamat. Salah satunya telah berhasil diselamatkan oleh pasukan AS, sementara satunya lagi masih dalam proses pencarian.

Tak lama berselang, pesawat tempur AS lainnya, A‑10 Warthog, juga ditembak jatuh di kawasan Teluk Persia saat melakukan operasi pencarian terhadap jet F‑15E. Sang pilot berhasil keluar dengan kursi lontar dan diselamatkan.

3. Serangan Iran picu kebakaran di Negev, Israel

serangan rudal Iran terhadap Israel (x.com/@IRIran_Military)
serangan rudal Iran terhadap Israel (x.com/@IRIran_Military)

Dilansir dari Al Jazeera, Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran (HRANA) mencatat sedikitnya 206 serangan dilancarkan terhadap Iran pada Kamis dan Jumat, menewaskan sedikitnya satu warga sipil. Serangan tersebut terjadi di 13 provinsi dalam waktu 24 jam.

Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS itu menyebutkan bahwa serangan AS-Israel sejauh ini telah menewaskan 1.607 warga sipil, 1.213 personel militer, dan 711 orang yang status militernya tidak diketahui, sejak perang meletus pada 28 Februari. Jumlah ini lebih dari rendah dari yang dilaporkan oleh pemerintah Iran, yakni 2.076 kematian.

Sementara itu, serangan balasan Iran terhadap Israel memicu kebakaran di sebuah lokasi industri di Negev. Beberapa bangunan juga mengalami kerusakan di Rosh Haayin dan Petah Tikvah, Israel tengah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More