Roket Terkuat China Gagal Terbang Stabil Sesaat Setelah Peluncuran

- Roket Tianlong-3 buatan Space Pioneer gagal terbang stabil sesaat setelah diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan, dan penyebab gangguan masih diselidiki oleh tim teknis perusahaan.
- Tianlong-3 dirancang sebagai pesaing Falcon 9 dengan kemampuan reusable, mampu membawa hingga 22 ton ke orbit rendah, serta menggunakan bahan bakar kerosene berbasis batubara yang lebih ekonomis.
- Roket ini dikembangkan untuk mendukung konstelasi satelit Qianfan dan proyek megakonstelasi China lainnya, dengan target ribuan satelit di orbit sebelum 2030 guna memperkuat posisi negara di luar angkasa.
Jakarta, IDN Times – Roket terkuat buatan perusahaan swasta China, Tianlong-3, gagal menjalankan misi tak lama setelah diluncurkan pada Jumat (3/4/2026). Peluncuran dilakukan dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di Gurun Gobi pada pukul 12:17 waktu setempat.
Gangguan terjadi segera setelah roket mengudara, sehingga jalannya misi tak sesuai rencana awal. Space Pioneer mengakui adanya masalah tersebut dan menyebut penyebab pastinya masih dalam proses penyelidikan.
Perusahaan itu juga menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh mitra kerja. Mereka menegaskan tengah berkolaborasi dengan tim teknis dan para ahli untuk memastikan keberhasilan lengkap misi peluncuran berikutnya.
1. Tianlong-3 dirancang sebagai pesaing Falcon 9

Dilansir dari SCMP, Tianlong-3 merupakan roket yang dikembangkan oleh Space Pioneer, perusahaan rintisan yang berbasis di Beijing. Roket ini diposisikan sebagai pesaing langsung Falcon 9 milik SpaceX dengan kemampuan reusable atau dapat digunakan kembali.
Secara spesifikasi, roket ini memiliki tinggi 72 meter dan diameter 3,8 meter. Tianlong-3 mampu membawa muatan hingga 22 ton ke orbit Bumi rendah (low Earth orbit atau LEO) serta mengangkut sampai 36 satelit dalam satu kali peluncuran.
Selain itu, roket ini menggunakan bahan bakar oksigen cair dan kerosene. Sistem ini serupa dengan yang diterapkan pada Falcon 9.
2. Tianlong-3 gunakan bahan bakar berbasis batubara

Perbedaan utama Tianlong-3 terletak pada penggunaan kerosene berbasis batubara sebagai bahan bakar. Pendekatan ini diterapkan untuk mengurangi penumpukan karbon yang kerap mengganggu kinerja mesin roket dan membatasi frekuensi penggunaan ulang.
Bahan bakar tersebut dikembangkan oleh sejumlah perusahaan milik negara. Kinerjanya disebut setara dengan kerosene konvensional, namun lebih murah karena memanfaatkan cadangan batubara China yang melimpah.
Penggunaan bahan bakar ini bukan hal baru. Teknologi tersebut sebelumnya telah diuji dalam peluncuran Tianlong-2 pada 2023.
3. Tianlong-3 ditujukan dukung konstelasi satelit besar

Tahap pertama roket dilengkapi sirip grid dan kaki pendaratan. Desain ini memungkinkan bagian tersebut digunakan kembali hingga setidaknya 10 kali.
Tianlong-3 dikembangkan untuk mendukung peluncuran satelit dalam konstelasi broadband China bernama Qianfan. Hingga kini, baru 108 satelit yang berhasil ditempatkan di orbit, sementara targetnya mencapai sekitar 1.300 satelit pada akhir 2027 dan lebih dari 15 ribu satelit pada 2030.
China juga telah mengajukan rencana ke International Telecommunication Union (ITU) untuk meluncurkan lebih dari 200 ribu satelit. Langkah ini bertujuan memperluas kehadiran negara tersebut di luar angkasa.
Dilansir dari NDTV, Program pengembangan roket ini sempat mengalami insiden pada 2024. Dalam uji statis api, tahap pertama roket tiba-tiba lepas landas akibat kegagalan struktur pada sambungan dan kelemahan di bagian ekor.
Setelah insiden itu, lebih dari 100 perbaikan teknis dilakukan oleh para insinyur. Sekitar satu tahun kemudian, tahap pertama yang telah didesain ulang berhasil menjalani uji statis di landasan peluncuran lepas pantai di provinsi Shandong.
Peluncuran Tianlong-3 sendiri sempat mengalami beberapa penundaan. Pada November tahun lalu, roket ini terlihat berada di landasan bersama Zhuque-3 milik LandSpace dan Long March 12A milik pemerintah.
Ketiga roket tersebut dirancang untuk mendukung pembangunan berbagai megakonstelasi satelit China, termasuk proyek Guowang dengan sekitar 13 ribu satelit serta Qianfan yang didukung pemerintah kota Shanghai.
Sementara itu, SpaceX masih memimpin dengan lebih dari 10 ribu satelit Starlink di orbit dan rencana mencapai 42 ribu satelit. Zhuque-3 dan Long March 12A sendiri telah berhasil mencapai orbit pada akhir tahun lalu, meski upaya pemulihan tahap pertama keduanya belum berhasil.



















