"Kita akan memberi mereka sedikit tamparan agar mereka mengerti bahwa kita tidak main-main. Hal itu telah meredakan kekhawatiran di dalam pemerintahan bahwa bentrokan yang kembali terjadi akan segera memicu lonjakan harga minyak yang besar," kata pejabat tersebut.
Demi Selat Hormuz, AS Siap Hadapi Perang Panjang dengan Iran

- Pemerintah AS menyatakan siap menghadapi perang panjang dengan Iran demi menjaga kebebasan pelayaran di Selat Hormuz setelah serangan rudal dan drone Iran terhadap kapal komersial.
- Iran membalas serangan udara AS dengan menyerang pangkalan militer Amerika di Kuwait dan Bahrain, serta mengancam akan meluncurkan serangan yang lebih besar jika diserang kembali.
- Presiden Donald Trump mengklaim Iran ingin melanjutkan negosiasi meski hubungan kedua negara memanas, namun ia meragukan kesediaan Teheran untuk menghormati kesepakatan baru.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat menyatakan siap untuk menghadapi perang berkepanjangan dengan Iran untuk terus menjamin hak bebas berlayar di Selat Hormuz. Kabar itu disampaikan seorang pejabat AS anonim kepada Axios yang dikutip Jerusalem Post, Kamis (9/7/2026).
1. AS dan Iran kembali terlibat baku serang

Saat ini, AS dan Iran kembali terlibat serangan. Baku serang ini dipicu serangan Iran di Selat Hormuz pada Selasa (7/7/2026) lalu. Kala itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintas di Selat Hormuz.
Serangan terbaru AS ke Iran terjadi pada Rabu (8/7/2026) malam waktu setempat. Kala itu, AS menyerang tiga wilayah di Iran, yakni Pulau Qesh, Bandar Abbas, dan Sirik. Serangan AS ke Iran baru berhenti pada Kamis pagi waktu setempat. Pemerintah Iran melaporkan 14 orang tewas dalam serangan tersebut.
2. Iran langsung membalas serangan AS

Merespons serangan AS, Iran tentu tidak mau tinggal diam. IRGC langsung melakukan serangan balasan ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Rabu dan Kamis. Bahkan, IRGC mengancam akan meluncurkan serangan yang lebih besar terhadap AS jika mereka kembali menyerang.
"Amerika (Serikat) masih belum belajar bahwa intimidasi dan pelanggaran janji bukanlah hal yang gratis lagi," kata Ketua Parlemen Iran, Muhammad Bagher Ghalibaf, dalam sebuah unggahan di media sosial X yang ikut merespons serangan terbaru Negeri Paman Sam ke Iran.
3. Donald Trump menyebut Iran sangat ingin melakukan negosiasi dengan AS

Meski Iran mengancam akan melakukan serangan lebih besar, Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa Iran ingin melanjutkan negosiasi. Sebab, Trump kini sudah menghentikan proses negosiasi lanjutan dengan Iran. Padahal, kedua negara rencananya akan melanjutkan proses negosiasi di Doha, Qatar, usai proses upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei selesai.
“Mereka hanya punya sedikit yang tersisa dan mereka sangat ingin mencapai kesepakatan. Saya tidak yakin apakah mereka layak untuk membuat kesepakatan. Saya tidak yakin mereka akan menghormati kesepakatan itu. Itulah masalahnya,” kata Trump kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One setelah menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki.


















