Wabah Salmonella dari Mi Instan Serang Inggris dan 13 Negara

- Wabah Salmonella Stanley ST2045 dari mi instan menginfeksi 106 orang di 14 negara Eropa sejak November 2025 hingga Juni 2026, dengan 49 pasien dirawat tanpa korban jiwa.
- Penyelidikan EFSA dan ECDC menelusuri sumber kontaminasi ke pabrik Euro Food Service di Ukraina, menemukan beberapa strain Salmonella pada berbagai varian rasa mi instan merek Reeva.
- Reeva Foods menarik produk terkontaminasi dan otoritas pangan memperingatkan konsumen agar membuang atau mengembalikan mi instan terkait karena risiko infeksi masih bisa muncul akibat masa simpan panjang.
Jakarta, IDN Times – Kasus keracunan makanan massal berskala internasional kembali dilaporkan melanda kawasan Eropa baru-baru ini. Wabah bakteri Salmonella yang dikaitkan dengan produk mi instan berperisa telah menginfeksi 106 orang di 14 negara, termasuk Inggris dan 13 negara Uni Eropa.
Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) bersama Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) menyebut strain Salmonella Stanley berkode ST2045 sebagai penyebab utama infeksi yang berlangsung sejak November 2025 hingga Juni 2026 ini. Anak-anak dan dewasa muda menjadi kelompok yang paling banyak terdampak, dengan 49 orang di antaranya harus dirawat di rumah sakit. Sejauh ini, tidak ada laporan korban jiwa akibat wabah tersebut.
1. Pelacakan sumber kontaminasi di Ukraina

Penyelidikan bersama EFSA dan ECDC menunjukkan bahwa produk mi instan tersebut diproduksi oleh Euro Food Service, sebuah produsen manufaktur yang berbasis di Ukraina. Varian rasa yang terlibat meliputi ayam, ayam pedas, daging sapi, bebek, udang, kari, dan sayuran.
Produk ini didistribusikan melalui grosir di Polandia sejak Januari, sebelum akhirnya beredar di rak-rak toko di Jerman, Lithuania, Denmark, Republik Ceko, hingga Inggris.
Selain strain Stanley, pengujian laboratorium di Lithuania dan Estonia juga menemukan strain Salmonella lain seperti Richmond, Newport, dan Senftenberg pada merek mi yang sama. Dilansir dari Times of India, temuan multi-strain ini mengindikasikan adanya beberapa titik kegagalan atau kontaminasi pada bahan baku di fasilitas produksi, bukan hanya satu kejadian tunggal.
2. Respons produsen dan penarikan produk

Menanggapi situasi ini, Reeva Foods selaku pemilik merek mengonfirmasi adanya dugaan deteksi bakteri pada batch spesifik mi instan yang diproduksi oleh mitra manufakturnya di Ukraina tersebut. Mereka langsung meluncurkan investigasi internal dan menarik produk terkait dari peredaran.
“Keselamatan konsumen kami adalah prioritas utama kami,” sebut pihak Reeva Foods dalam pernyataannya, dikutip Sky News.
Denmark menjadi negara pertama yang mendeteksi klaster kasus ini pada Maret lalu, yang kemudian diikuti oleh laporan dari Austria, Republik Ceko, Estonia, Prancis, Jerman, Hungaria, Latvia, Lithuania, Belanda, Norwegia, Polandia, Swedia, dan Inggris setelah dilakukan pencocokan genetik.
3. Imbauan keamanan bagi konsumen

Badan keamanan pangan di negara-negara terdampak kini telah menarik seluruh produk mi instan yang dicurigai dari pasar. Kendati demikian, EFSA dan ECDC memperingatkan bahwa potensi kemunculan kasus baru masih ada. Hal ini karena mi instan memiliki masa simpan yang panjang dan sering kali disimpan oleh konsumen di dapur selama berbulan-bulan sebelum dikonsumsi.
Gejala infeksi Salmonella umumnya meliputi diare, kram perut, demam, dan muntah. Walau sebagian besar orang dewasa sehat bisa sembuh tanpa pengobatan, anak-anak, lansia, dan orang dengan imun lemah memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi.
Masyarakat yang terlanjur membeli produk dari merek dan batch yang ditarik diimbau untuk segera membuang atau mengembalikannya ke toko, serta selalu memasak mi instan hingga matang sepenuhnya sesuai petunjuk label.
















