Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dino Djalal: 3 Reality Check Kebijakan Luar Negeri RI, Kurangi Exposure ke Trump

Dino Djalal: 3 Reality Check Kebijakan Luar Negeri RI, Kurangi Exposure ke Trump
Founder FPCI Dino Patti Djalal membuka CIFP 2025. (IDN Times/Marcheilla Ariesta).
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Dino Patti Djalal menilai pemerintah perlu evaluasi serius arah politik luar negeri agar tetap relevan di tengah dinamika global dan menjaga kredibilitas diplomasi Indonesia.
  • Ia menyoroti tiga reality check: fokus kembali ke Asia Tenggara, penyesuaian hubungan dengan Amerika Serikat, serta peningkatan kualitas praktik diplomasi yang lebih substansial.
  • Dino menegaskan pentingnya reposisi strategi luar negeri dengan menyadari keterbatasan pengaruh Indonesia dan memperkuat peran sebagai mesin utama ASEAN, bukan sekadar simbol kekuatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, mengingatkan pemerintah Indonesia untuk melakukan evaluasi serius terhadap arah politik luar negeri di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Ia menilai, meskipun gencatan senjata di sejumlah konflik internasional memberi ruang jeda, Indonesia tetap perlu melakukan penyesuaian strategi.

Menurut Dino, ada tiga ‘reality check’ yang harus segera dilakukan pemerintah sejak pecahnya konflik global terbaru. Ia menilai langkah ini penting untuk menjaga kredibilitas dan efektivitas diplomasi Indonesia di kancah internasional.

“Terlepas dari gencatan senjata sementara ini, ada 3 reality check yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia semenjak pecahnya perang ini,” ujar Dino dalam video yang diunggah di sosial media FPCI, dikutip MInggu (12/4/2026).

Ia menekankan, tanpa evaluasi yang tepat, posisi Indonesia bisa melemah di tengah persaingan geopolitik global yang semakin tajam.

1. Fokus pada kawasan, hubungan global, dan gaya diplomasi

Founder FPCI Dino Patti Djalal. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
Founder FPCI Dino Patti Djalal. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Reality check pertama, menurut Dino, adalah pentingnya Indonesia kembali fokus pada kawasan Asia Tenggara sebagai prioritas utama diplomasi.

Reality check kedua menyangkut hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat, khususnya dengan Presiden Donald Trump. Dino menilai perlu ada penyesuaian pendekatan agar tidak merugikan kepentingan nasional.

Sementara reality check ketiga adalah perlunya perbaikan dalam praktik diplomasi Indonesia agar lebih matang, strategis, dan tidak sekadar mengejar visibilitas.

“Diplomasi bebas aktif Indonesia harus mencerminkan kelihaian, kehati-hatian, dan juga kematangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, diplomasi Indonesia seharusnya lebih menekankan substansi dibandingkan pencitraan. “Diplomasi yang lebih mementingkan bobot berbanding optik,” kata Dino.

2. Pentingnya reposisi di tengah geopolitik global

Bendera Iran yang rusak.
potret bendera Iran yang rusak (unsplash.com/Javad Esmaeili)

Dino juga menyoroti keterbatasan Indonesia dalam memengaruhi konflik besar di luar kawasan. Menurutnya, Indonesia tidak bisa terlalu jauh masuk ke konflik geopolitik Timur Tengah.

“Dalam perang Amerika, Israel, Iran, Indonesia tidak bisa berbuat banyak,” ujarnya.

Ia menekankan, setiap negara memiliki wilayah pengaruh masing-masing. Karena itu, Indonesia dinilai perlu melakukan “rekalibrasi” strategi dengan memprioritaskan kawasan sendiri.

“Kita harus menyadari keterbatasan Indonesia dalam dunia internasional,” kata Dino.

Menurutnya, langkah ini penting agar Indonesia tetap relevan dan efektif dalam memainkan peran diplomatiknya.

3. Tiga pesan utama untuk pemerintah

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump dalam penandatanganan Board of Peace Charter.
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump dalam penandatanganan Board of Peace Charter. (Dok. The White House)

Di akhir pernyataannya, Dino merangkum tiga pesan utama yang ia tujukan kepada pemerintah Indonesia. “Intinya Indonesia tidak perlu menjadi macan ASEAN, tapi Indonesia sangat perlu menjadi mesin ASEAN,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penyesuaian hubungan dengan Amerika Serikat serta perbaikan praktik diplomasi.

“Satu, urus kandang kita di Asia Tenggara. Dua, kurangi exposure terhadap Presiden Trump, dan tiga, benahi praktek diplomasi secara profesional,” tutupnya.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More