Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Diprotes Warga, Jepang Nekat Hidupkan Lagi PLTN Terbesar di Dunia

bendera Jepang (unsplash.com/Romeo A)
bendera Jepang (unsplash.com/Romeo A)
Intinya sih...
  • Penolakan masyarakat terhadap PLTN Kashiwazaki-Kariwa
  • Sejumlah kelompok menentang pengoperasian kembali pembangkit Kashiwazaki-Kariwa dengan petisi yang ditandatangani oleh hampir 40 ribu orang.
  • Sekitar 60 persen penduduk setempat menentang pengoperasian kembali pembangkit listrik tersebut.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Jepang bersiap untuk menghidupkan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) terbesar di dunia setelah 15 tahun ditutup. Tokyo Electric Power Co (TEPCO) mengatakan, pengoperasian kembali pembangkit Kashiwazaki-Kariwa yang berada di provinsi Niigata akan dilakukan pada Rabu (21/1/2026) pukul 19.00 waktu setempat.

Kepercayaan Tokyo terhadap infrastruktur energi nuklir hancur usai tiga kali peleburan inti reaktor di Fukushima pada 2011, setelah gempa bumi dan tsunami dahsyat. Peristiwa itu menjadi kecelakaan nuklir terburuk di dunia sejak insiden Chernobyl. Jepang menutup seluruh 54 reaktornya menyusul peristiwa tersebut.

Mengutip Al Jazeera, Kashiwazaki-Kariwa adalah pembangkit ke-15 yang akan dihidupkan kembali dari 33 pembangkit yang dapat beroperasi. Hanya satu dari tujuh reaktor yang akan dihidupkan kembali pada Rabu. Ketika beroperasi penuh, pembangkit tersebut akan menghasilkan 8,2 gigawatt listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik jutaan rumah tangga.

Negeri Sakura mengalihkan fokusnya kembali ke tenaga nuklir dengan tujuan memperkuat keamanan energi dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Gubernur provinsi Niigata telah memberi persetujuan pengoperasian kembali pembangkit Kashiwazaki-Kariwa pada bulan lalu, meskipun terdapat penolakan tajam masyarakat.

1. Penolakan masyarakat terhadap PLTN Kashiwazaki-Kariwa

Pada awal bulan ini, sejumlah kelompok yang menentang pengoperasian kembali pembangkit Kashiwazaki-Kariwa mengajukan petisi kepada TEPCO dan Otoritas Regulasi Nuklir Jepang, yang ditandatangani oleh hampir 40 ribu orang. Dokumen tersebut mencatat bahwa pembangkit listrik tersebut terletak di zona patahan seismik aktif dan pernah dilanda gempa bumi kuat pada 2007.

"Kita tidak bisa menghilangkan rasa takut akan dihantam gempa bumi tak terduga lainnya. Membuat banyak orang cemas dan takut untuk mengirimkan listrik ke Tokyo tidak dapat ditoleransi," bunyi petisi tersebut, dikutip dari France24.

Menurut survei yang dilakukan pada September lalu, sekitar 60 persen penduduk setempat menentang pengoperasian kembali pembangkit listrik tersebut. Para penduduk menyampaikan kekhawatirannya tentang risiko kecelakaan serius, dan menyebutkan seringnya skandal penutupan informasi, kecelakaan kecil, dan rencana evakuasi yang menurut mereka tidak memadai.

Bagi sebagian besar dari 420 ribu orang yang tinggal dalam radius 30 km dari Kashiwazaki-Kariwa, yang harus dievakuasi jika terjadi insiden seperti Fukushima, kembalinya Tepco ke PLTN dalam waktu dekat penuh dengan bahaya.

2. Keselamatan pengoperasian PLTN Kashiwazaki-Kariwa diragukan

Anggota dewan desa Kariwa, Kazuyuki Takemoto, mengatakan aktivitas seismik di wilayah barat laut Jepang menjadi alasan bahwa mustahil untuk menjamin keselamatan pembangkit listrik Kashiwazaki-Kariwa. Lebih dari 60 persen penduduk yang tinggal dalam radius 30 km mengaku tidak percaya bahwa syarat untuk menghidupkan kembali fasilitas tersebut telah terpenuhi.

"Tetapi belum ada diskusi yang tepat mengenai hal itu. Mereka mengatakan bahwa peningkatan keselamatan telah dilakukan sejak bencana Fukushima, tetapi saya rasa tidak ada alasan yang valid untuk menghidupkan kembali reaktor tersebut. Itu di luar pemahaman saya," kata Takemoto, mengutip The Guardian.

3. TEPCO siapkan serangkaian pencegahan

Industri nuklir Jepang juga menghadapi serangkaian skandal dan insiden dalam beberapa pekan terakhir, termasuk pemalsuan data oleh Chubu Electric Power untuk meremehkan risiko seismik. Selain itu, TEPCO juga mengabarkan pada Sabtu bahwa sempat terjadi kegagalan sistem alarm selama pengujian di pembangkit Kashiwazaki-Kariwa,.

"Keselamatan adalah proses yang berkelanjutan, yang berarti operator yang terlibat dalam tenaga nuklir tidak boleh sombong atau terlalu percaya diri," kata Presiden TEPCO, Tomoaki Kobayakawa.

Perusahaan utilitas tersebut mengatakan telah belajar dari kecelakaan Fukushima Daiichi. Pada awal tahun ini, pihaknya berjanji untuk menginvestasikan 100 miliar yen (sekitar Rp10,7 triliun) ke prefektur Niigata selama 10 tahun ke depan dalam upaya meredam penolakan masyarakat.

Pembangkit Kashiwazaki-Kariwa memiliki tembok laut dan pintu kedap air untuk memberikan perlindungan kuat terhadap tsunami. Selain itu, generator diesel portabel dan armada besar mobil damkar juga disiapkan untuk mendinginkan reaktor dalam keadaan darurat. Sistem penyaringan yang telah ditingkatkan juga telah dipasang untuk mengendalikan penyebaran bahan radioaktif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Megawati Ulang Tahun ke-79, Dirayakan di Istana Batu Tulis Bogor

23 Jan 2026, 09:11 WIBNews