Flu Singapura Tembus 100 Ribu Kasus, Vietnam Imbau Warga Waspada

- Vietnam mencatat lebih dari 100 ribu kasus flu Singapura hingga akhir Agustus 2026, 2,5 kali lipat dibanding periode sama tahun lalu, dengan lebih dari 3.000 kasus baru per minggu.
- Pemerintah Vietnam mengimbau keluarga dan sekolah menerapkan prinsip tiga bersih: menjaga makanan, lingkungan, serta rutin mencuci tangan; fasilitas pendidikan juga diminta mendisinfeksi perlengkapan.
- Orang tua dan guru diminta memantau gejala seperti demam, sariawan, dan ruam; anak bergejala harus beristirahat di rumah serta segera diperiksa bila muncul tanda bahaya.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Vietnam mengimbau warga untuk mewaspadai penyebaran penyakit tangan, kaki, dan mulut (HFMD) atau flu Singapura pada Selasa (25/8/2026). Peringatan ini sejalan dengan lonjakan infeksi yang bertepatan dengan masa persiapan anak-anak kembali masuk sekolah.
Kementerian Kesehatan mendorong kerja sama antara pihak keluarga dan lembaga pendidikan untuk memperkuat pencegahan dini demi mengendalikan gelombang wabah tersebut.
1. Lonjakan kasus infeksi capai ratusan ribu orang
Sistem pengawasan penyakit menular Vietnam mencatat peningkatan kasus flu Singapura yang tajam sepanjang 2026. Hingga akhir Agustus, akumulasi penderita menembus angka 100 ribu kasus. Jumlah ini melonjak drastis hingga 2,5 kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dalam satu bulan terakhir, tercatat lebih dari 3.000 kasus baru per minggu yang sebagian besar terkonsentrasi di kawasan selatan dan perkotaan padat. Puncak penularan virus ini diprediksi terjadi pada bulan September hingga Oktober.
"Penyakit ini sangat umum menyerang anak kecil dan bisa menyebar luas dengan cepat di lingkungan keluarga maupun sekolah," kata perwakilan Departemen Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Vietnam.
2. Penerapan prinsip tiga bersih untuk putus rantai penyebaran
Kementerian Kesehatan menginstruksikan pelaksanaan prinsip tiga bersih kepada masyarakat untuk menekan risiko penularan. Aturan ini mewajibkan warga menjaga kebersihan makanan, lingkungan tempat tinggal, dan merutinkan cuci tangan memakai sabun.
Keluarga diminta menyajikan makanan dan air yang dimasak hingga matang. Pihak sekolah juga wajib menyediakan fasilitas cuci tangan yang memadai serta menyemprotkan disinfektan secara rutin pada mainan dan alat belajar siswa. Selain itu, anak-anak harus menghindari penggunaan peralatan makan secara bergantian.
"Kedisiplinan mempraktikkan kebersihan di rumah maupun fasilitas pendidikan menjadi kunci utama untuk membatasi penularan sekaligus melindungi anak," ujar otoritas kesehatan Vietnam, dilansir dari The Star.
3. Pengawasan gejala klinis dan tindakan medis darurat
Guru dan orang tua diimbau untuk cermat memantau kondisi fisik anak setiap hari. Gejala klinis yang patut diwaspadai mencakup demam ringan, luka sariawan, serta ruam kemerahan yang muncul di area telapak tangan, telapak kaki, lutut, atau bokong anak.
Siswa yang bergejala wajib beristirahat penuh di rumah dan dilarang masuk sekolah untuk mencegah penularan ke murid lain. Orang tua disarankan langsung membawa anak tersebut ke klinik kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan secara menyeluruh.
"Segera cari pertolongan dokter apabila anak menunjukkan tanda bahaya seperti demam tinggi yang tak kunjung reda, sesak napas, hingga muntah berulang," pesan perwakilan otoritas kesehatan Vietnam.



















