Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Serangan Iran Rusak Situs Intelijen di Timur Tengah, AS Rugi Bandar

Serangan Iran Rusak Situs Intelijen di Timur Tengah, AS Rugi Bandar
ilustrasi situs intelijen (pexels.com/Francesco Ungaro)
  • Serangan balasan Iran sejak perang 28 Februari dilaporkan merusak situs intelijen AS di Riyadh dan Irak timur, serta radar di sejumlah negara Teluk.
  • Kerusakan parah pada fasilitas intelijen disebut menimbulkan kerugian miliaran dolar bagi AS dan berpotensi mengganggu tugas CIA serta otoritas intelijen lainnya.
  • Konflik AS-Iran mereda sejak akhir Juli; Washington berfokus pada operasi ekonomi Economic Outcast, sementara pejabat Iran menyampaikan respons berbeda soal sanksi balasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Serangan balasan Iran terhadap Amerika Serikat (AS) sejak perang meletus pada 28 Februari lalu dikabarkan telah merusak sejumlah situs dan perangkat intelijen AS yang ada di Timur Tengah. Laporan tersebut disampaikan oleh beberapa sumber internal AS kepada NBC News pada Rabu (26/8/2026).

Sumber tersebut mengatakan, kerusakan ini membuat AS mengalami kerugian miliaran dolar atau setara ratusan triliun rupiah. Sebab, kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan Iran cukup parah. Hal ini membuat jumlah dana yang harus digelontorkan Washington untuk memperbaiki kerusakan tersebut jadi sangat besar. 

  1. 1. Situs intelijen AS di Arab Saudi dan Irak ikut rusak parah

    Bendera Arab Saudi sedang berkibar.
    potret bendera Arab Saudi (pexels.com/aboodi vesakaran)

    Ada banyak situs dan perangkat intelijen AS di Timur Tengah yang rusak parah akibat serangan Iran. Beberapa di antaranya, seperti situs intelijen di Riyadh, Arab Saudi dan situs intelijen di Irak timur. Selain itu, sistem radar intelijen yang ada di sejumlah negara di Kawasan Teluk lainnya, seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA) juga dikabarkan rusak parah. 

    Serangan ini membuat otoritas intelijen AS seperti CIA dan yang lainnya terancam. Sebab, kerusakan pada situs dan perangkat intelijen tadi akan membuat otoritas intelijen AS tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik. Padahal, tugas intelijen, terutama dalam situasi konflik seperti saat ini sangatlah penting. Menurut NBC News, kerusakan ini menimbulkan keraguan akan kemampuan AS untuk menghalau serangan Iran. Sebab, sistem pertahanan AS yang sudah sangat canggih seharusnya bisa menghalau semua gempuran Iran agar tidak menyasar fasilitas-fasilitas vital.

  2. 2. Iran kerap menyerang fasilitas vital milik AS di Timur Tengah

    Pangkalan militer.
    ilustrasi pangkalan militer (pexels.com/Soly Moses)

    Sejak perang meletus, Iran memang kerap menyerang fasilitas vital milik AS yang tersebar di negara-negara Timur Tengah. Salah satunya adalah situs intelijen. Langkah ini dilakukan untuk menghancurkan kekuatan militer Washington agar tidak mampu melakukan serangan balik ke Teheran.

    Selain situs intelijen, Iran juga kerap menyerang pangkalan militer AS yang ada di sejumlah negara Timur Tengah. Beberapa di antaranya, seperti di Arab Saudi, UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Sayangnya, dalam praktiknya, serangan Iran tidak hanya menghantam markas militer AS saja, tetapi juga menghantam fasilitas publik dan warga sipil yang ada di negara-negara tersebut. 

  3. 3. Perang AS dan Iran sudah mereda

    Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
    ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

    Beruntungnya, perang antara AS dan Iran saat ini sudah mereda. Washington dan Teheran sudah tidak saling bertukar serangan lagi sejak akhir Juli lalu. Ini karena Presiden AS, Donald Trump, sudah sepakat untuk menahan serangan ke Iran selama beberapa waktu. Sebab, ia ingin fokus menyerang Iran secara ekonomi lewat operasi Economic Outcast. Operasi ini bertujuan untuk menghancurkan ekonomi Teheran agar mereka tidak bisa melanjutkan perang. 

    Menteri Ekonomi Iran, Seyed Ali Madanizadeh, mengatakan, operasi Economic Outcast tidak akan berpengaruh banyak terhadap ekonomi negaranya. Meski begitu, ia mengatakan akan membalas operasi tersebut dengan menyerang AS secara ekonomi. Caranya adalah dengan memberlakukan sejumlah sanksi ekonomi terhadap mereka. 

    Namun, dalam kesempatan lain, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan bahwa AS tidak akan mendapatkan sanksi ekonomi apa pun dari Iran. Sebab, menurutnya, hal tersebut tidak perlu dilakukan untuk memerangi AS. Sebab, menurutnya, AS saat ini sudah gagal memenangi perang melawan Iran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More