Ikuti Jejak El Salvador, Kosta Rika Bakal Bangun Penjara Raksasa

- Presiden El Salvador akan hadiri peletakan batu pertama pembangunan CACCO di Kosta Rika
- Pengadilan Elektoral Kosta Rika menolak masuknya Bukele menjelang pemilihan presiden
- Kosta Rika dan El Salvador setuju pada Pakta Pertahanan Gabungan untuk melawan organisasi kriminal
Jakarta, IDN Times - Kosta Rika, pada Sabtu (10/1/2026), mengumumkan pembangunan penjara raksasa bernama Centro de Alta Contención y Crimen Organizado (CACCO). Pembangunan penjara ini mengikuti keberhasilan El Salvador dalam menangani kasus kekerasan imbas aktivitas geng kriminal.
Dilansir The Tico Times, konstruksi penjara raksasa itu membutuhkan biaya 32 juta dolar AS (Rp538,9 miliar). Penjara yang didesain untuk mengisolasi narapidana berisiko tinggi tersebut ditargetkan dibuka pada Juni 2026.
Dalam setahun terakhir, Kosta Rika dilanda krisis keamanan imbas lonjakan kasus kriminalitas. Padahal, negara Amerika Tengah itu sebelumnya dikenal sebagai salah satu yang paling aman di Benua Amerika.
1. Bukele akan menghadiri peletakan batu pertama pembangunan CACCO
Presiden Kosta Rika, Rodrigo Chaves mengatakan bahwa Presiden El Salvador, Nayib Bukele akan menghadiri peletakan batu pertama pembangunan CACCO. Kehadiran Bukele untuk menginspeksi proyek penjara raksasa pertama di Kosta Rika.
Chaves menyebut, proyek tersebut memiliki peran penting dalam keamanan nasional. Penjara tersebut disebut akan melindungi warga Kosta Rika dari aktivitas organisasi kriminal yang semakin meresahkan.
Sementara, pembangunan CACCO menunjukkan perubahan kebijakan Kosta Rika untuk menangkap lebih banyak terduga pelaku kriminalitas. Penjara tersebut diperkirakan dapat menampung hingga 1.000 narapidana dan diutamakan untuk pelaku kekerasan dan kartel narkoba.
2. Pengadilan Elektoral Kosta Rika tolak masuknya Bukele
Pengadilan Elektoral Kosta Rika (TSE) menguji penolakan masuknya Bukele ke negaranya menjelang pemilihan presiden (pilpres). Kehadiran presiden El Salvador itu dikhawatirkan berisiko mengubah netralitas warga di Kosta Rika.
“TSE memiliki kepentingan dalam masalah pemilu dan berusaha mencegah kehadiran Bukele di Kosta Rika. Terdapat dugaan Bukele memiliki kecenderungan dukungan pada salah satu calon,” ungkap Presiden TSE, Eugenia Zamora.
Permintaan larangan masuk kepada Bukele ini atas permintaan dari Calon Presiden, Claudio Alpizar. Ia mengklaim, Bukele memberikan dukungan kepada Laura Fernandez yang berasal dari Partai Pueblo Soberano.
3. Kosta Rika dan El Salvador setujui Pakta Pertahanan Gabungan
Pada Desember, Chaves dan Bukele sudah menyetujui Perjanjian Pertahanan Coatepeque Declaration. Pembentukan pakta pertahanan ini untuk melawan organisasi kriminal dan memperkuat pertahanan regional.
“Kami dapat mengajarkan pengalaman, pengetahuan, dan apa yang kami capai di El Salvador dan dapat diterapkan sesuai dengan kondisi di Kosta Rika,” kata Bukele.
Perjanjian ini membuat kedua negara diperbolehkan untuk berbagi informasi intelijen dan mengadakan operasi melawan kelompok kriminal. Tak hanya itu, perjanjian ini untuk mendorong perdagangan, investasi, dan inovasi.

















