Inggris Kaji Larangan Media Sosial bagi Anak di Bawah 16 Tahun

- Inggris mempertimbangkan larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun.
- Pemerintah akan meninjau kebijakan Australia dan memperketat aturan penggunaan ponsel di sekolah.
- PM Starmer menghadapi tekanan dari anggota parlemen dan kritik terhadap wacana larangan media sosial.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Inggris meluncurkan konsultasi publik untuk mempertimbangkan larangan penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun pada Senin (19/1/2026). Perdana Menteri Keir Starmer dan jajaran menterinya kini melunakkan sikap mereka setelah mendapat tekanan dari anggota parlemen serta pegiat keselamatan anak.
Konsultasi bertujuan meninjau bukti dampak media sosial serta mengeksplorasi opsi pembatasan demi melindungi kesehatan mental generasi muda. Selain wacana larangan akses, pemerintah memperketat aturan penggunaan ponsel di lingkungan sekolah. Inggris berencana menjadikan kebijakan Australia sebagai rujukan utama dalam perumusan regulasi baru.
1. Berkaca dari kebijakan Australia

Dilansir Al Jazeera, Inggris akan mengirim para menterinya ke Australia untuk mempelajari penerapan larangan media serupa yang baru saja berlaku pada Desember 2025. Pemerintah ingin melihat langsung efektivitas kebijakan Negeri Kanguru sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan aturan semacam itu.
Menteri Teknologi Liz Kendall menyatakan pihaknya akan memeriksa cara meningkatkan akurasi teknologi verifikasi usia. Konsultasi akan mencakup tinjauan apakah batasan usia digital saat ini, yaitu 13 tahun, dianggap terlalu rendah untuk melindungi anak-anak dari konten berbahaya.
Pemerintah juga menyoroti fitur desain aplikasi yang memicu kecanduan pengguna. Fitur seperti infinite scrolling atau gulir tanpa batas dan sistem streaks yang membuat anak terus kembali ke aplikasi akan menjadi fokus utama evaluasi.
“Hukum ini tidak pernah dimaksudkan sebagai titik akhir, dan kami tahu orang tua masih memiliki kekhawatiran serius. Itulah sebabnya saya siap mengambil tindakan lebih lanjut,” ujar Kendall, dilansir Sky News.
2. PM Starmer hadapi tekanan di parlemen

Dorongan muncul dari Esther Ghey, ibu remaja korban pembunuhan Brianna Ghey, yang secara vokal mendesak pemerintah memberlakukan batasan usia ketat. Putrinya diketahui mengalami masalah kesehatan mental serius akibat konten berbahaya di media sosial sebelum kematiannya.
“Brianna mengalami kecanduan media sosial dan berjuang dengan kesehatan mentalnya sejak usia 14 tahun. Dia juga mengalami gangguan makan dan melukai diri sendiri, semua ini diperparah secara signifikan oleh konten berbahaya yang dia konsumsi secara online” tulis Esther Ghey dalam suratnya, dilansir The Guardian.
PM Starmer juga menghadapi tekanan dari anggota partainya sendiri dan pihak oposisi Konservatif. Saat ini, terdapat sebuah amandemen RUU Kesejahteraan Anak yang didukung lintas partai untuk memaksa platform media sosial mencegah akses anak di bawah 16 tahun.
Peluncuran konsultasi dianggap sebagai strategi pemerintah meredam pemungutan suara amandemen tersebut di House of Lords. Partai Buruh berpotensi terpojok jika menolak usulan yang mendapat dukungan luas dari publik dan ahli keamanan.
3. Kritik terhadap wacana larangan media sosial

Di sisi lain, tidak semua pihak setuju dengan larangan total karena beberapa akademisi dan badan amal memperingatkan risiko lain. Larangan menyeluruh dikhawatirkan membuat anak beralih ke ruang daring yang lebih sulit dipantau dan justru meningkatkan bahaya tersembunyi.
Sambil menunggu hasil konsultasi, Kementerian Pendidikan Inggris juga sedang berupaya menerapkan aturan bebas ponsel di lingkungan sekolah. Badan inspeksi sekolah atau Ofsted akan memeriksa kepatuhan institusi pendidikan terhadap aturan pelarangan gawai di kelas.
“Pesan saya kepada kepala sekolah adalah Anda sekarang memiliki semua dukungan untuk melarang ponsel di sekolah dengan segera,” tegas Kepala Ofsted Sir Martyn Oliver.


















