Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Iran Ajukan 6 Syarat Keras ke AS untuk Buka Selat Hormuz
ilustrasi negara bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)
  • Iran memblokade Selat Hormuz di tengah konflik dengan AS dan Israel, serta menyatakan jalur vital pasokan minyak global itu tetap tertutup hingga enam tuntutan dipenuhi.
  • Tuntutan Iran mencakup penghentian ancaman dan perang AS terhadap Iran serta sekutunya, kompensasi kerugian sanksi, dan pencairan seluruh aset Iran yang dibekukan.
  • Teheran juga menuntut AS mencabut blokade laut dan menarik armada dari Teluk Persia; negosiasi langsung dinilai buntu setelah dugaan pelanggaran kesepakatan sebelumnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran dikabarkan telah mengajukan enam syarat keras kepada Amerika Serikat (AS) sebelum mereka bersedia membuka kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran internasional yang sangat vital bagi pasokan minyak global tersebut saat ini diblokade oleh militer Iran di tengah konflik bersenjata aktif antara Iran melawan AS dan Israel. Keputusan tegas ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Agung Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, pada Sabtu (8/8/2026).

Langkah diplomasi sepihak ini diambil setelah perundingan damai antara Teheran dan Washington menemui jalan buntu akibat pelanggaran kesepakatan sebelumnya. Iran menegaskan bahwa jalur strategis tersebut tidak akan pernah dibuka jika AS tidak mengubah perilaku buruknya dan memenuhi semua tuntutan yang telah dirumuskan. Blokade ini juga memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah setelah beberapa kapal dagang dilaporkan terkena serangan rudal.

1. Tuntutan penghentian aksi militer dan ancaman amerika serikat

ilustrasi konflik AS dan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Syarat pertama yang diajukan oleh Iran berfokus pada penghentian total segala bentuk ancaman dan aksi militer dari pihak Washington. Mohammad Bagher Zolghadr menegaskan bahwa Amerika Serikat harus berjanji untuk tidak pernah lagi mengancam Iran dalam bentuk apa pun. Selain itu, AS juga dituntut untuk menghentikan perang secara permanen melawan Iran serta sekutu bersenjatanya di kawasan Timur Tengah. Tuntutan ini mencakup wilayah penting seperti Yaman, Lebanon, Palestina, dan juga Irak.

Dilansir The Guardian, syarat keras ini muncul di tengah kebuntuan perundingan yang sudah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Pihak militer Iran menyatakan bahwa jalur perdagangan energi dunia ini akan tetap ditutup hingga semua syarat dipenuhi. Ketegangan semakin meningkat setelah sebuah kapal tanker milik Uni Emirat Arab dilaporkan terkena serangan rudal di sekitar selat tersebut. Langkah tegas ini diambil Teheran sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan luar negeri yang terus menargetkan kedaulatan mereka.

2. Ganti rugi finansial serta pembebasan aset iran yang dibekukan

ilustrasi uang (pexels.com/John Guccione www.advergroup.com)

Tuntutan ekonomi juga menjadi salah satu syarat mutlak yang diajukan oleh pihak Teheran kepada Washington. Iran menuntut kompensasi penuh atas kerugian finansial yang mereka alami akibat sanksi sepihak dan agresi militer selama ini. Selain itu, Amerika Serikat harus segera mencairkan seluruh aset keuangan Iran yang dibekukan di berbagai bank internasional tanpa syarat. Jika tuntutan finansial ini tidak dipenuhi, militer Iran mengancam akan tetap menutup jalur pelayaran vital tersebut bagi kapal-kapal asing.

Dilansir CBS News, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa tidak ada peluang untuk melanjutkan negosiasi langsung dengan Amerika Serikat dalam waktu dekat. Teheran menganggap Washington telah berulang kali melanggar nota kesepahaman sementara yang sebelumnya ditandatangani pada Juni lalu. Sementara itu, dilansir Anadolu Agency, Zolghadr menyatakan bahwa tuntutan keras tersebut mencerminkan kehendak rakyat Iran, merujuk pada aksi unjuk rasa besar-besaran yang digelar masyarakat di berbagai kota selama enam hari terakhir.

3. Pencabutan blokade laut dan penarikan pasukan dari kawasan

Kapal AS di Selat Hormuz. (Specialist Noah Martin, Public domain, via Wikimedia Commons)

Syarat berikutnya berkaitan erat dengan kehadiran militer asing di perairan sekitar Iran yang dinilai sangat mengganggu stabilitas regional. Iran menuntut agar Amerika Serikat segera mengakhiri blokade laut yang saat ini membatasi aktivitas pelabuhan-pelabuhan utama mereka. Di samping itu, seluruh armada angkatan laut dan udara AS harus ditarik mundur dari wilayah Teluk Persia dan sekitarnya. Kehadiran kekuatan militer Barat dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan kedaulatan wilayah teritorial Iran.

Pihak militer Iran menegaskan bahwa mekanisme pembukaan kembali Selat Hormuz tidak memiliki hubungan dengan negosiasi koridor navigasi baru yang sedang berjalan antara Iran dan Oman. Kesepakatan dengan Muscat hanya mengatur jalur transit khusus, sementara keputusan membuka blokade selat sepenuhnya tetap menjadi wewenang militer Iran yang hanya akan melunak jika AS memenuhi syarat mereka. Pihak militer menegaskan aturan pengelolaan selat saat ini tidak dapat diganggu gugat oleh pihak luar. Selama Amerika Serikat tidak mengubah kebijakan luar negerinya yang agresif, Selat Hormuz akan tetap menjadi wilayah konflik yang tertutup bagi pelayaran internasional.

Kebuntuan diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat ini diprediksi akan terus berdampak buruk pada stabilitas ekonomi dunia, terutama sektor pasokan minyak global. Semua pihak kini hanya bisa menunggu apakah Washington bersedia melunak atau justru ketegangan bersenjata di Selat Hormuz akan semakin memanas dalam beberapa pekan mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article