Iran Ajukan Proposal Baru, Uji Keseriusan AS di Perundingan

- Iran mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat melalui mediator Oman dalam putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung di Jenewa sebagai ujian atas keseriusan diplomasi Washington.
- Pertemuan di Jenewa melibatkan Menlu Iran Abbas Araghchi dan Menlu Oman Badr Al-Busaidi, dengan pembahasan draf proposal serta penekanan pentingnya peran teknis IAEA untuk menjaga transparansi.
- Perundingan berlangsung di tengah meningkatnya tensi militer di Teluk Persia, menjadikannya momen krusial bagi Teheran dan Washington untuk menunjukkan komitmen nyata terhadap jalur diplomasi.
Jakarta, IDN Times - Iran mengajukan sebuah proposal kepada Amerika Serikat (AS) saat putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung di Jenewa, Swiss. Kantor berita resmi Iran, IRNA, menyebut langkah itu sebagai ujian atas keseriusan Washington dalam jalur diplomasi.
Menurut laporan tersebut, draf proposal diserahkan kepada pihak AS melalui mediator Oman, menjelang perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Kedutaan Besar Oman di Jenewa. Meski begitu, isi dari draf tersebut tak diungkapkan ke publik hingga saat ini.
"Menolaknya, sama saja dengan membenarkan kecurigaan awal, Amerika Serikat tidak sungguh-sungguh berkomitmen pada diplomasi dan sikap diplomatik mereka hanyalah permainan," begitu pernyataan IRNA menjelang putaran baru perundingan yang menentukan.
1. Pertemuan intensif AS-Iran di Jenewa

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tiba di Jenewa pada Rabu (25/2/2026), didampingi Wakil Menteri Luar Negeri Urusan Politik, Majid Takht-Ravanchi, serta tim ahli di bidang nuklir, hukum, dan ekonomi.
Setibanya di Swiss, Araghchi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi, untuk membahas garis besar perundingan serta draf proposal yang akan diajukan.
Menurut laporan media, Araghchi menegaskan, keberhasilan perundingan memerlukan keseriusan pihak lain dan menghindari perilaku dan sikap yang kontradiktif.
Dilansir dari Anadolu, Jumat (27/2/2026), Kementerian Luar Negeri Oman menyatakan kedua diplomat meninjau proposal yang akan disampaikan delegasi Iran dalam perundingan, yang bertujuan mencapai kesepakatan berdasarkan prinsip-prinsip panduan yang telah disepakati dalam putaran sebelumnya.
2. Oman tekankan peran IAEA dalam perundingan nuklir ini

Delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Utusan Khusus, Steve Witkoff, juga tiba di Jenewa pada Kamis (26/2/2026) dan bertemu dengan Busaidi setelah kedatangannya. Seperti putaran sebelumnya, delegasi AS turut melibatkan Jared Kushner, menantu Presiden Donald Trump.
Oman mengonfirmasi dimulainya putaran baru perundingan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS di Jenewa pada Kamis.
Pembicaraan dimulai bersamaan dengan pertemuan antara Busaidi dan Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Grossi.
Busaidi menekankan pentingnya peran IAEA yang profesional dan teknis serta perlunya memastikan transparansi, kredibilitas, dan tata kelola tepat dalam prosedur relevan.
3. Perundingan terjadi di tengah tensi militer meningkat

Sebelum keberangkatannya, Araghchi menyatakan Iran akan melanjutkan perundingan untuk mencapai kesepakatan yang adil secepat mungkin. Dia menyebut putaran baru ini sebagai kesempatan bersejarah untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pada dua putaran sebelumnya, di Muscat dan Jenewa pada 17 Februari, dinilai positif oleh kedua pihak karena menghasilkan kesepakatan mengenai prinsip-prinsip panduan.
Namun, perundingan berlangsung di tengah peningkatan signifikan kehadiran militer AS di kawasan Teluk Persia serta latihan militer terbaru yang dilakukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Sejak diplomasi nuklir kembali dimulai bulan lalu melalui mediasi Oman, Teheran dan Washington telah menjalani dua putaran pembicaraan tidak langsung sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan. Putaran ketiga di Jenewa kini menjadi tahapan lanjutan yang disebut-sebut sebagai ujian nyata atas komitmen kedua pihak terhadap diplomasi.
















