CIA Rilis Video Rekrutmen untuk Ajak Warga Iran Jadi Informan

- CIA merilis video rekrutmen berbahasa Persia di media sosial untuk mengajak warga Iran menjadi informan, lengkap dengan panduan keamanan digital agar komunikasi tetap terlindungi dari pelacakan aparat.
- Pemerintah Iran mengecam langkah CIA sebagai bentuk intervensi asing, sementara otoritas setempat menyita peralatan komunikasi satelit yang ditemukan dalam koper diplomat Belanda di Bandara Imam Khomeini.
- Video tersebut muncul menjelang perundingan nuklir AS-Iran di Jenewa, di tengah meningkatnya ketegangan dan ancaman militer dari Washington terhadap program nuklir sipil Teheran.
Jakarta, IDN Times - Central Intelligence Agency (CIA) merilis video rekrutmen berbahasa Persia di media sosial pada Selasa (24/2/2026). Video berdurasi lebih dari dua menit tersebut ditujukan untuk merekrut warga Iran sebagai informan intelijen bagi Amerika Serikat (AS). Upaya ini dilakukan di tengah memanasnya ketegangan antara Washington dan Teheran menjelang jadwal perundingan nuklir.
CIA menyebarkan pesannya melalui platform X, Instagram, Facebook, Telegram, dan YouTube. Mereka mencari individu yang memiliki akses terhadap informasi sensitif atau mempunyai keahlian unik terkait operasi di Iran.
1. Warga Iran diajari cara menghubungi CIA dengan aman

CIA memberikan instruksi mengenai cara menghubungi agen mereka secara virtual. Warga Iran diminta menggunakan jaringan Tor atau Virtual Private Network (VPN) yang terpercaya guna mengenkripsi data. Calon informan disarankan untuk tidak menggunakan VPN yang bermarkas di Rusia, China, maupun Iran.
CIA juga memperingatkan agar calon informan tidak menghubungi mereka dengan perangkat komputer kantor atau telepon genggam pribadi.
“Gunakan perangkat baru sekali pakai, jika memungkinkan, dan waspadai lingkungan sekitar Anda,” tutur CIA, dilansir The Straits Times.
Selain itu, warga Iran yang tertarik diimbau memakai peramban web privat dalam mode penyamaran saat mengakses portal komunikasi rahasia. Riwayat penelusuran internet dan histori perangkat wajib segera dihapus setelah melakukan kontak dengan agen. Berbagai langkah keamanan ini dinilai penting untuk melindungi informan dari pelacakan aparat Iran.
2. Iran kecam campur tangan CIA

Kedutaan Besar Iran di Belanda mengecam video rekrutmen CIA tersebut. Mereka menilai manuver intelijen AS ini sebagai wujud intervensi terang-terangan terhadap urusan dalam negeri Iran. Pihak kedutaan menyinggung standar ganda negara-negara Barat terkait operasi intelijen asing. Mereka menilai negara Barat akan bereaksi lebih keras jika hal serupa dilakukan oleh intelijen Iran.
Bersamaan dengan beredarnya video tersebut, otoritas keamanan di Bandara Internasional Imam Khomeini menyita sejumlah peralatan komunikasi satelit. Barang-barang yang dinilai mencurigakan itu ditemukan tersembunyi di dalam sebuah koper milik seorang diplomat asal Belanda.
Petugas bea cukai secara resmi menemukan tiga unit modem Starlink beserta tujuh telepon satelit di dalam barang bawaan diplomat bersangkutan. Seorang diplomat kedua yang berusaha mengurus koper tersebut pada akhirnya ditolak masuk ke wilayah Iran.
3. Negosiasi nuklir di tengah ancaman militer

CIA merilis video tersebut menjelang perundingan nuklir putaran ketiga antara AS dan Iran. Pertemuan ini akan dimediasi langsung oleh Kesultanan Oman dan dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Kamis.
Ketegangan antara kedua belah pihak terus meningkat menyusul penempatan dua armada kapal induk AS di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump juga telah berulang kali mengancam akan melancarkan aksi militer apabila kesepakatan pembatasan nuklir Iran gagal tercapai.
Delegasi Iran akan dipimpin secara langsung oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi untuk memperjuangkan program nuklir sipil negaranya. Sementara itu, kubu Washington akan diwakili oleh utusan khusus Steve Witkoff serta Jared Kushner.
Menteri Luar Negeri Iran menegaskan bahwa negaranya sama sekali tidak berniat mengembangkan senjata nuklir. Namun, pemerintah Iran tetap bersikeras untuk mempertahankan haknya dalam pengembangan teknologi nuklir sipil.
“Kami telah membuktikan bahwa kami tidak akan berhenti melakukan apa pun untuk menjaga kedaulatan kami dengan berani,” tutur Abbas Araghchi, dilansir TRT World.
















