PDIP Minta Prabowo Tak Asal Bahasa Negara Dikunjungi Jadi Kurikulum

- PDIP melalui Djarot Saiful Hidayat meminta Presiden Prabowo tidak sembarangan memasukkan bahasa negara yang dikunjungi ke dalam kurikulum sekolah di Indonesia.
- Djarot menekankan perlunya kajian mendalam sebelum menentukan bahasa asing wajib dan pilihan, serta mengingatkan agar kebijakan tidak hanya bersifat satu arah dari presiden.
- Saat bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron, Prabowo menyatakan hubungan bilateral kedua negara sangat baik dan menginstruksikan agar Bahasa Prancis diajarkan di semua tingkatan sekolah di Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan (DPP PDIP) meminta Presiden Prabowo Subianto tidak asal menginstruksikan agar bahasa negara tertentu masuk dalam kurikulum pelajaran sekolah di Indonesia.
Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat, menanggapi pernyataan Prabowo saat mengunjungi Prancis. Saat itu, Prabowo mengatakan, bahasa Prancis didorong untuk masuk dalam kurikulum sekolah.
Sebelumnya, saat Prabowo menjamu Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva di Jakarta, Prabowo juga menginstruksikan agar bahasa Portugis dijadikan mata pelajaran di sekolah.
1. PDIP sentil tak semua bahasa negara yang dikunjungi Prabowo harus masuk kurikulum sekolah

Djarot mengatakan, tak seharusnya semua bahasa negara yang dikunjungi Prabowo serta merta masuk kurikulum sekolah. Namun, dia tak memungkiri bahasa Prancis penting untuk dipelajari.
"Untuk masalah Bahasa Prancis itu, ya, penting juga, tapi kan tidak bisa serta-merta begitu Presiden berkunjung ke Prancis, kemudian beliau berbicara akan mewajibkan pendidikan Bahasa Prancis di semua tingkatan sekolah. Kemudian nanti kalau beliau ke mana lagi, Afrika, bahasa Afrika itu yang harus diajarkan. Kan tidak begitu," kata dia.
2. Perlu kajian mendalam

Menurut Djarot, dalam merumuskan apa saja bahasa yang masuk ke dalam kurikulum wajib di sekolah harus melalui kajian mendalam. Dia mengatakan, pemerintah Indonesia harus berbenah mengubah pola pengambilan kebijakan. Dia mengatakan, tak semua keputusan bersifat satu komando hanya dari atas, dalam hal ini presiden ke jajarannya di bawah.
"Maka perlu kajian secara mendalam, bahasa-bahasa asing yang harus dikuasai oleh anak-anak kita itu apa? Yang wajib apa? Yang pilihan apa? Bolehlah yang wajib misalnya bahasa Inggris. Pilihannya bolehlah Prancis, Belanda, Mandarin, Jepang, Spanyol, Portugis gitu ya. Serahkan itu kepada user-nya, sekolahnya, kementeriannya melakukan kajian apa yang paling penting ya, yang perlu diajarkan kepada anak-anak kita," kata dia.
"Kita harus juga mengubah pola supaya semuanya itu tidak langsung turun dari atas, dari atas, dari atas. Bawah ini kan juga harus didengarkan," sambung Djarot.
Djarot lantas memberikan contoh buruknya instruksi Presiden yang hanya bersifat satu arah ke bawah. Salah satunya, program Koperasi Desa Merah Putih yang terkesan dipaksakan dan mencekik anggaran pemerintah daerah.
"Kayak Koperasi Desa Merah Putih, kan tidak bisa seperti itu dipaksakan. Karena koperasi itu (harusnya) tumbuh dari bawah, dari anggota, bukan dari atas. Maka daripada itu ya, agak aneh misalnya kalau koperasi ini dari atas dan kemudian daerah-daerah ini wajib membangun gerai-gerai Koperasi Merah Putih. Ini yang kasihan, yang susah itu pemerintah daerah dan yang berbahaya apabila terjadi alih fungsi lahan. Di mana sebenarnya lahan terbuka hijau dan subur, kemudian digunakan untuk bangunan tadi," ucap dia.
3. Di depan Macron, Prabowo instruksikan sekolah di RI belajar bahasa Prancis

Sebelumya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan, Indonesia dan Prancis memiliki banyak kesamaan pandangan dalam berbagai isu. Menurut dia, hubungan bilateral kedua negara saat ini berjalan sangat baik berkat dukungan langsung Presiden Prancis Emmanuel Macron.
“Dalam beberapa hal, Indonesia dan Prancis memiliki sikap yang sama, dan saat ini hubungan bilateral kita sangat baik. Ini tidak lain adalah karena dukungan langsung dari Presiden Macron,” ujar Prabowo saat bertemu Macron di Istana Élysée, Paris dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (28/5/2026).
Prabowo mengatakan, kerja sama Indonesia dan Prancis terus berkembang di berbagai bidang, mulai dari pertahanan, sains dan teknologi, hingga pendidikan.
“Di bidang pertahanan, hubungan kita sangat baik. Di bidang kerja sama sains dan teknologi juga sangat baik. Di bidang pendidikan, kita ingin lebih ditingkatkan lagi,” kata dia.
Prabowo juga mengungkapkan dirinya telah menginstruksikan agar sekolah-sekolah di Indonesia mulai mempelajari bahasa Prancis. Menurut dia, hal tersebut penting untuk melihat perkembangan dunia ke depan.
“Sekarang, saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan,” ucap dia.















