Israel Serang Pusat Komando Militer Iran di Teheran

- Pasukan Israel menyerang pusat komando militer Iran di Teheran serta fasilitas rudal dan pertahanan udara untuk melumpuhkan kekuatan Iran agar tak bisa membalas ke Israel dan AS.
- Sebelumnya, IDF juga menggempur fasilitas nuklir Iran di Arak, Bushehr, dan Ardakan menggunakan puluhan jet tempur yang menyebabkan kerusakan namun minim korban jiwa.
- Ketegangan meningkat karena perang Iran dengan AS dan Israel masih berlanjut, sementara milisi Houthi dari Yaman ikut menyerang Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran.
Jakarta, IDN Times - Pasukan Israel (IDF) dilaporkan menyerang pusat komando sementara militer Iran yang ada di Teheran. Menurut keterangan IDF pada Minggu (29/3/2026), serangan tersebut dilakukan pada Sabtu (28/3/2026).
Selain menyerang pusat komando militer, IDF juga menyerang pabrik dan fasilitas penyimpanan rudal balistik, sistem pertahanan udara, serta pos pengamatan militer Iran di Teheran. Semua serangan ini dilakukan untuk membuat kekuatan Iran lumpuh agar mereka tidak bisa lagi melakukan serangan balasan ke Israel dan Amerika Serikat.
1. IDF sebelumnya sudah menyerang fasilitas nuklir Iran

Sebelumnya, IDF sudah menyerang fasilitas nuklir Iran di Arak dan Bushehr. Serangan itu dilakukan pada Jumat (27/3/2026). Pada saat yang sama, IDF juga melancarkan serangan ke fasilitas penjernihan uranium milik Iran di Ardakan.
Semua serangan tersebut dilakukan dengan bantuan jet tempur 50 IAF milik IDF. Jet-jet tempur tersebut meluncurkan serangan udara menggunakan rudal-rudal dengan daya ledak yang cukup tinggi.
Serangan IDF di fasilitas nuklir Arak dan fasilitas penjernihan uranium Ardakan dilaporkan menimbulkan sejumlah kerusakan. Namun, serangan Israel di fasilitas nuklir Iran di Bushehr tidak menimbulkan korban jiwa dan kerusakan apa pun.
2. Perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlanjut

Semua serangan tadi terjadi di saat perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlanjut. Bahkan, Negeri Paman Sam kini berencana untuk melakukan serangan darat besar-besaran terhadap Iran.
Saat ini, Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) juga sedang mempersiapkan ribuan pasukan untuk melakukan serangan tersebut. Menurut Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, persiapan ini membutuhkan waktu berminggu-minggu sehingga serangan tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat ini.
“Merupakan tugas Pentagon untuk melakukan persiapan agar Panglima Tertinggi memiliki pilihan maksimal,” kata Leavitt, seperti dilansir Anadolu Agency.
3. Houthi Yaman turut membantu Iran melawan Israel

Perang antara Iran dengan AS dan Israel kini juga makin panas karena Houthi ikut terlibat. Sebab, pada Sabtu (28/3/2026), milisi asal Yaman tersebut meluncurkan serangan rudal ko Kota Beersheba, Israel.
Itu merupakan serangan perdana Houthi terhadap Israel. Serangan ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas Houthi untuk membantu Iran yang sedang berperang melawan AS dan Israel. Sebab, Houthi sudah menjadi sekutu Iran sejak lama.
Sebelum serangan terjadi, Houthi telah menegaskan siap membantu Iran untuk berperang melawan AS dan Israel. Jika diminta Iran, Houthi tidak akan segan-segan untuk melancarkan serangan kepada kedua negara tersebut.
"Kami sepenuhnya siap secara militer dengan semua opsi. Adapun detail lain yang berkaitan dengan penentuan waktu yang tepat, itu diserahkan kepada pimpinan dan kami memantau serta mengikuti perkembangannya. Kami akan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk bergerak," ujar petinggi Houthi yang enggan disebut namanya dilansir Jerusalem Post pada Jumat.



















