Selain berprofesi sebagai jurnalis, Pauken juga merupakan seorang penulis buku dan pengamat politik. Menurut pengadilan, Pauken sudah tinggal di China selama lebih dari satu dekade. Selama itu, ia telah menjadi agen mata-mata yang bekerja di bawah naungan Kementerian Keamanan China.
Jurnalis AS Didakwa karena Jadi Agen Mata-mata China

- Thomas Wier Pauken II, jurnalis asal AS, didakwa menjadi agen mata-mata China selama tujuh tahun dan bekerja di bawah Kementerian Keamanan China.
- Pauken mengakui keterlibatannya dalam konspirasi pengumpulan informasi rahasia AS bersama individu yang bekerja untuk pemerintah China.
- Ia ditangkap pada Maret 2026 setelah penyelidikan sejak Desember 2025, diketahui tinggal di China sejak 2010 dan menerima bayaran atas informasi sensitif yang dikirim ke Beijing.
Jakarta, IDN Times - Seorang jurnalis berkebangsaan Amerika Serikat bernama Thomas Wier Pauken II didakwa karena telah menjadi mata-mata China selama kurang lebih tujuh tahun. Dakwaan tersebut diberikan oleh pengadilan AS pada Selasa (26/5/2026).
1. Pauken mengakui dirinya menjadi agen mata-mata China

Pauken sendiri sudah mengakui bahwa dirinya merupakan agen mata-mata China. Pengakuan itu disampaikan dalam wawancara bersama Agen Khusus FBI, Timothy Healy, beberapa waktu lalu.
Dalam wawancara itu, Pauken mengaku pernah berkunjung ke AS untuk bertemu dengan seorang bernama Cathy. Saat itu, ia memberikan Cathy ponsel dan laptop untuk bertukar informasi sensitif soal Pemerintah AS untuk diberikan ke Pemerintah China.
“Pauken mengakui selama wawancara sukarela bahwa pekerjaannya dengan Cathy dan individu lain yang ia akui juga bekerja untuk pemerintah China adalah bagian dari konspirasi untuk mendapatkan informasi rahasia dari Pemerintah Amerika Serikat,” jelas Healy, seperti dilansir The Hill.
2. Pauken sudah ditangkap sejak awal Maret

Pauken sendiri sudah ditangkap oleh polisi AS pada awal Maret 2026 lalu. Sebelum melakukan penangkapan, polisi AS sebetulnya sudah mulai menginvestigasi Pauken sejak Desember 2025.
Kala itu, Pauken datang ke AS dari China untuk bertemu Cathy. Namun, petugas Bandara Internasional Washington Dulles menemukan kejanggalan saat ia datang. Sebab, ia datang dengan membawa dua telepon genggam, laptop, dan uang tunai sebesar 3.000 dolar AS atau setara Rp53,3, juta.
Saat ditanya oleh petugas bandara, Pauken menjawab tujuannya datang ke AS adalah untuk bertemu seseorang. Namun, Pauken tidak menjelaskan siapa orang yang dimaksud. Kala itu, ia bercerita bahwa akan tinggal di AS selama tiga hari. Setelah itu, ia akan kembali lagi ke Beijing.
3. Pauken pindah dan tinggal di China sejak 2010

Menurut pengadilan AS, Pauken sudah pindah dan tinggal di China sejak 2010. Sejak pindah ke China, Pauken bekerja sebagai seorang jurnalis di Hongkong. Selain itu, ia juga pernah bekerja di sejumlah stasiun televisi dan radio di China. Pada 2024, Pauken bekerja sebagai editor di salah satu media kawakan China, Xinhua News.
Sepanjang 2019 hingga 2025, Pauken dilaporkan sudah berkali-kali berkunjung ke AS untuk mengumpulkan informasi sensitif. Informasi tersebut dikabarkan pernah beberapa kali dikirim ke Presiden China, Xi Jinping. Ia pun mendapat bayaran sebesar 100 ribu dolar AS atau Rp1,7 miliar berkat info rahasia tersebut.



















