Harimau Lepas di Jerman Ditembak Polisi, Satu Penjaga Terluka

- Seekor harimau bernama Sandokan lepas dari kandang di Schkeuditz, Jerman, menyerang penjaga berusia 72 tahun sebelum akhirnya ditembak mati oleh polisi demi keselamatan warga.
- Fasilitas milik mantan pelatih sirkus Carmen Zander dikritik karena dianggap tidak layak, dengan catatan beberapa harimau sebelumnya juga mati dan kandangnya dinilai terlalu sempit.
- Pemerintah daerah dan kejaksaan menyelidiki dugaan kelalaian serta mendesak penutupan fasilitas pemeliharaan harimau untuk mencegah insiden serupa dan memastikan keamanan masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Seekor harimau bernama Sandokan dilaporkan lepas dari kandangnya di kota Schkeuditz, dekat Bandara Leipzig, Jerman, pada Minggu (17/5/2026). Harimau tersebut merupakan hewan peliharaan milik seorang mantan pelatih sirkus, Carmen Zander, yang dipelihara secara pribadi di fasilitas kawasan industri setempat.
Akibat insiden ini, pihak kepolisian setempat mengambil tindakan tegas dengan melumpuhkan harimau tersebut demi keselamatan masyarakat luas. Sementara itu, seorang penjaga hewan berusia 72 tahun dilaporkan mengalami luka-luka usai diserang dan tengah menjalani perawatan medis di rumah sakit.
1. Harimau berhasil keluar dari fasilitas pribadi dan memasuki area perkebunan warga
Peristiwa ini bermula ketika Sandokan, harimau campuran Benggala-Siberia berusia sembilan tahun berbobot 280 kilogram, menyerang seorang penjaga di dalam area kandang. Setelah insiden tersebut, harimau berhasil keluar dari fasilitas pribadi dan memasuki area perkebunan warga. Masyarakat yang melihat keberadaan satwa tersebut langsung melapor kepada pihak berwajib.
"Area kebun warga terdampak oleh kejadian ini," kata Silvia Kaempf, salah satu pemilik gubuk di sekitar kebun tersebut, dilansir The Guardian.
Polisi yang tiba di lokasi segera mencari titik keberadaan satwa tersebut. Mengingat petugas di lapangan tidak membawa perlengkapan bius, polisi mengambil langkah melumpuhkan harimau yang sedang berbaring di dekat pagar kebun. Hewan tersebut dinyatakan mati sekitar 30 menit setelah keluar dari kandang.
2. Fasilitas pemeliharaan pribadi dinilai kurang layak
Fasilitas pemeliharaan harimau tersebut dimiliki oleh Carmen Zander (52), yang telah memelihara delapan ekor harimau di daerah Dölzig sejak tahun 2016. Saat insiden terjadi, Zander sedang tidak berada di lokasi.
"Kejadian ini merupakan hal yang tidak diharapkan oleh pelatih hewan, dan seluruh pekerja kami sebenarnya telah diberikan arahan keamanan sesuai prosedur," kata Carmen Zander menanggapi insiden tersebut.
Fasilitas milik Zander ini sebelumnya sudah mendapat sorotan dari pemerintah dan aktivis lingkungan. Tercatat, tiga ekor harimau lainnya dilaporkan mati di fasilitas tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Organisasi perlindungan hewan meminta pemerintah meninjau kelayakan kandang besi yang dinilai terlalu sempit dan tidak memenuhi standar tempat tinggal satwa liar.
3. Desakan agar tempat pemeliharaan harimau segera ditutup
Saat ini, pihak kejaksaan tengah menyelidiki dugaan kelalaian terkait standar keamanan kandang yang menyebabkan harimau bisa keluar dari fasilitas tersebut. Merespons kejadian ini, pemerintah daerah setempat mendesak agar tempat pemeliharaan harimau itu segera ditutup.
"Pemerintah harus mengambil langkah antisipasi agar insiden serupa tidak terulang dan membahayakan masyarakat di fasilitas tersebut," kata Wali Kota Dölzig, Thomas Druskat.
Pemerintah juga menginstruksikan pemilik untuk menyesuaikan ukuran kandang sesuai regulasi jika ingin tetap beroperasi. Untuk memastikan keamanan pasca-kejadian, kepolisian telah menyisir lokasi menggunakan pesawat tanpa awak (drone).
"Kondisi di lapangan saat ini sudah terkendali dan aman bagi masyarakat sekitar," kata juru bicara kepolisian setempat.



















