Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Konflik Kekuasaan di Yaman Selatan Berujung Penutupan Bandara Aden

ilustrasi pesawat (pexels.com/Pixabay)
ilustrasi pesawat (pexels.com/Pixabay)
Intinya sih...
  • Kementerian perhubungan STC menuduh Arab Saudi memicu penghentian penerbangan dengan aturan baru.
  • Perpecahan STC dan dampaknya bagi koalisi teluk, termasuk dukungan UEA terhadap STC di Yaman selatan.
  • Sikap STC dan latar belakang konflik Yaman, termasuk perang saudara sejak 2014 antara Houthi dan pemerintah resmi.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Aden, Yaman, berhenti sepenuhnya pada Kamis (1/1/2026), seiring meningkatnya ketegangan antara Dewan Transisi Selatan (STC) dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi serta diakui komunitas internasional. Pada hari itu, seluruh penerbangan yang dijadwalkan dari dan menuju Aden dibekukan tanpa pengecualian. Akibatnya, penumpang tertahan di dalam terminal sambil menanti kepastian jadwal keberangkatan berikutnya.

Selama ini, Bandara Aden menjadi gerbang utama menuju wilayah Yaman yang berada di luar kendali kelompok Houthi. Di antara penumpang yang terdampak terdapat Awadh al-Subaihi, yang sedianya berangkat ke Kairo untuk menjalani perawatan medis.

“Kami sedang menderita, dan banyak pasien serta orang lanjut usia lainnya di sini sedang menunggu dalam situasi yang sulit,” kata al-Subaihi, dikutip dari CNBC.

1. Kementerian perhubungan STC dan sengketa aturan penerbangan

ilustrasi kawasan Timur Tengah (pexels.com/Lara Jameson)
ilustrasi kawasan Timur Tengah (pexels.com/Lara Jameson)

Kementerian Perhubungan yang berada di bawah pengaruh STC menuding Arab Saudi sebagai pihak yang memicu penghentian penerbangan melalui penerapan aturan baru. Kebijakan tersebut mewajibkan seluruh penerbangan dari dan ke Aden menjalani pemeriksaan terlebih dahulu di Jeddah, yang disebut mengejutkan pihak kementerian.

Tak lama berselang, otoritas Saudi memberikan klarifikasi bahwa pembatasan hanya diberlakukan untuk rute Aden–Uni Emirat Arab (UEA). Sumber dari Saudi bahkan membantah keterlibatan negaranya dan menyebut syarat tersebut justru ditetapkan oleh pemerintah Yaman yang diakui dunia internasional untuk penerbangan menuju UEA.

Dilansir dari Al Jazeera, penasihat presiden Yaman, Thabet al-Ahmadi, menyatakan bahwa pemerintah memang membatasi satu jalur penerbangan dari Aden guna mencegah penyelundupan dana milik STC. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tak menginginkan penutupan menyeluruh dan berharap aktivitas penerbangan tetap dapat berlangsung normal.

Menurut sumber Saudi lainnya, kementerian yang dikuasai kelompok selatan kemudian memilih menghentikan seluruh penerbangan karena menolak mematuhi larangan rute ke dan dari UEA. Tuduhan tersebut dibantah oleh pejabat kementerian, yang menyebut menteri tak pernah mengeluarkan perintah penutupan bandara, sementara sejumlah sumber Yaman pada hari yang sama mengatakan rute ke negara selain UEA akan segera kembali dibuka.

2. Perpecahan STC dan dampaknya bagi koalisi teluk

ilustrasi senjata api (pexels.com/Specna Arms)
ilustrasi senjata api (pexels.com/Specna Arms)

STC sebelumnya bergabung dalam koalisi pimpinan Arab Saudi yang sejak 2015 memerangi penguasaan Houthi atas sebagian besar wilayah Yaman. Namun belakangan, kelompok itu justru mendorong pembentukan negara terpisah di wilayah selatan. Pada Desember lalu, STC memperluas operasi militernya hingga ke provinsi Hadramaut dan al-Mahra yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi, dengan dukungan dari Uni Emirat Arab (UEA) yang membantu STC menguasai sebagian besar Yaman selatan dari pemerintah resmi.

Arab Saudi menuduh UEA memasok senjata kepada STC serta mendorong ekspansi ke Hadramaut dan al-Mahra yang dinilai mengancam keamanan nasionalnya. Tuduhan itu dibantah oleh UEA, yang menyatakan tetap berkomitmen mendukung keamanan Arab Saudi, di tengah perselisihan yang disebut sebagai krisis terdalam antara dua negara Teluk tersebut dalam beberapa dekade.

Pada pekan ini, UEA mengumumkan rencana penarikan sisa pasukan kontraterorismenya dari Yaman secara sukarela. Pengumuman itu muncul setelah Riyadh melancarkan serangan udara terhadap kiriman senjata yang diduga terkait UEA di pelabuhan Mukalla, sementara Rashad al-Alimi selaku kepala pemerintah Yaman yang diakui internasional memperingatkan bahwa upaya STC memperkuat posisinya di provinsi-provinsi tersebut akan menghadapi konsekuensi serius.

3. Sikap STC dan latar belakang konflik Yaman

ilustrasi perang (pexels.com/Polina Tankilevitch)
ilustrasi perang (pexels.com/Polina Tankilevitch)

STC menegaskan akan terus mempertahankan keberadaannya di provinsi-provinsi yang telah dikuasai. Juru bicara STC, Mohammed al-Naqeeb, menyampaikan bahwa kelompoknya tetap berkoordinasi dengan pasukan Homeland Shield, yang sebelumnya menjadi kekuatan keamanan utama di wilayah tersebut dan berafiliasi dengan pemerintah Yaman serta koalisi pimpinan Arab Saudi.

Yaman sendiri terjerumus dalam perang saudara sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Hingga kini, Houthi masih menguasai sebagian besar wilayah barat laut, sementara STC dan pemerintah resmi terus bersaing memperebutkan pengaruh di kawasan selatan dan timur negara tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Fenomena Supermoon, BPBD DKI Waspadai Banjir Rob hingga 7 Januari

04 Jan 2026, 08:44 WIBNews