Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Krisis Kemanusiaan Terus Berlangsung, Warga Palestina di Gaza Gelar Demo

ilustrasi warga Palestina di Gaza (pixabay.com/hosnysalah)
ilustrasi warga Palestina di Gaza (pixabay.com/hosnysalah)
Intinya sih...
  • Kondisi tidak higienis picu penyebaran penyakit menular
  • Israel terus halangi masuknya bantuan kemanusiaan
  • Hamas sebut Israel berupaya halangi proses menuju fase kedua gencatan senjata
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Warga Palestina di Jalur Gaza melakukan unjuk rasa pada Minggu (11/1/2026) untuk memprotes memburuknya kondisi kemanusiaan dan lingkungan di wilayah tersebut.

Dilansir dari Anadolu, massa berkumpul di kamp pengungsian di Kota Gaza, dengan membawa poster-poster bertuliskan “Cukup dengan ketidakadilan dan pengabaian,” “Epidemi mengancam kita,” dan “Sampah ada di mana-mana.” Mereka menuntut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memenuhi tanggung jawabnya dan memberikan dukungan kepada rakyat Gaza di tengah krisis yang semakin parah.

“Kami tinggal di tenda yang tidak memberikan perlindungan dari panas atau dingin. Anak-anak dan orang-orang sekarat karena penyakit, hewan pengerat, dan suhu dingin yang ekstrem. Kami ingin membangun kembali kehidupan kami dan kami membutuhkan rumah yang dapat melindungi kami," kata Eylin, warga Palestina yang terpaksa mengungsi akibat serangan Israel.

1. Kondisi yang tidak higienis picu penyebaran penyakit menular

Said Akluk, pejabat di Kementerian Kesehatan Gaza, menyoroti kurangnya sistem pengelolaan sampah yang memadai. Ia mengatakan, serangan Israel membuat proses pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir di luar area permukiman tidak dapat dilakukan secara higienis.

Tenda-tenda pengungsian juga disebut tidak memenuhi standar kebersihan minimum, sehingga berkontribusi terhadap penyebaran penyakit menular. Selain itu, jumlah hewan pengerat dan serangga meningkat karena Israel melarang produk pengendalian hama masuk ke wilayah tersebut.

Akluk juga menyampaikan bahwa pihak berwenang telah menerima laporan tentang serangan hewan liar, terutama yang melibatkan anak-anak.

2. Israel terus halangi masuknya bantuan kemanusiaan

Meski gencatan senjata telah diberlakukan sejak 10 Oktober 2025, Israel tetap membatasi aliran bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza, bahkan ketika musim dingin tiba.

Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan ratusan ribu warga Palestina harus bertahan hidup di tenda-tenda darurat tanpa perlindungan dari cuaca dingin, hujan dan angin yang parah. Selain itu, keterbatasan tempat tinggal, layanan kesehatan, dan pemanas juga menyebabkan bayi dan anak-anak, khususnya, menghadapi risiko yang mengancam jiwa.

Sejak awal musim, sedikitnya 21 warga Palestina dilaporkan telah meninggal akibat kedinginan di wilayah tersebut. Sebagian besar di antaranya adalah anak-anak.

3. Hamas sebut Israel berupaya halangi proses menuju fase kedua gencatan senjata

Israel juga terus melanjutkan serangan, dengan menewaskan lebih dari 442 warga Palestina sejak gencatan senjata. Secara keseluruhan, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 71.400 warga Palestina dan melukai 171.318 lainnya sejak perang meletus pada Oktober 2023.

Meski gencatan senjata hendak memasuki fase kedua, militer Israel dilaporkan tengah merencanakan serangan baru pada Maret. Dilaporkan oleh The Times of Israel, operasi yang dipusatkan di Kota Gaza tersebut bertujuan memperluas wilayah Gaza yang berada di bawah kendali Israel.

Dilansir dari MEE, juru bicara Hamas, Hazem Qassem, pada Sabtu (10/1/2026), mengatakan bahwa kelompok tersebut telah sepakat untuk membubarkan badan-badan pemerintahan yang mengelola Gaza dan menyerahkan tanggung jawab mereka kepada komite teknokratis.

Hamas menuduh Israel melanggar perjanjian gencatan senjata dan menghalangi proses menuju fase kedua dari rencana perdamaian yang didukung Amerika Serikat (AS), yang mencakup pengerahan pasukan stabilisasi internasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Kedutaan AS Desak Warganya Segera Tinggalkan Iran

14 Jan 2026, 07:10 WIBNews