Krisis Pangan Meluas di Iran, Presiden Masoud Sebut Warga Susah Makan

- Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan banyak warga Iran kesulitan memenuhi kebutuhan pangan akibat perang yang berlangsung dan mendesak konflik segera diakhiri.
- Konflik Iran dengan AS dan Israel sejak serangan 28 Februari memicu balasan regional, pembatasan Selat Hormuz, blokade pelabuhan Iran, serta gagalnya upaya gencatan senjata.
- Di tengah sinyal kemungkinan serangan baru AS, Garda Revolusi Iran menyatakan siap merespons agresi, termasuk tindakan terbatas, dengan balasan yang lebih besar.
Jakarta, IDN Times – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan bahwa banyak warga negaranya kesulitan menyediakan makanan akibat perang yang masih berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato yang diunggah melalui situs resminya pada Sabtu (24/10/2026).
Pezeshkian menggambarkan beban yang harus ditanggung masyarakat akibat konflik tersebut.
“Ada banyak orang di masyarakat ini yang berjuang untuk menaruh makanan di atas meja karena perang yang kita hadapi, karena kondisi masa perang yang sedang kita jalani,” ujar Pezeshkian, dikutip Fristpost.
1. Iran hadapi kebuntuan dalam konflik dengan Amerika Serikat

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art) Pezeshkian menilai situasi perang saat ini semakin rumit dan perlu segera diakhiri, meski ia tak memaparkan langkah konkret untuk mewujudkannya. Konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) mengalami kebuntuan setelah Washington mengurangi operasi militernya dan mengalihkan tekanan ke sektor ekonomi.
Pimpinan Iran juga berpandangan bahwa perundingan damai hanya dapat berjalan apabila kedua pihak berdialog tanpa tekanan maupun ancaman.
2. Iran membalas serangan AS dan Israel di kawasan

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons) Konflik tersebut berawal pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah komandan senior militer. Iran membalas serangan dengan menyasar aset AS di kawasan dan wilayah Israel, sekaligus membatasi pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi pasokan energi global.
Washington kemudian memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menekan ekspor minyak dan aktivitas perdagangan negara tersebut. Pakistan sempat memediasi upaya gencatan senjata pada pertengahan Juni sebagai langkah awal menuju perundingan, tetapi kesepakatan itu akhirnya gagal setelah kedua pihak saling menuduh melanggar ketentuan.
3. Garda revolusi Iran menyiapkan respons terhadap ancaman serangan baru

ilustrasi militer (pexels.com/Somchai Komkamsri) Kekhawatiran akan meningkatnya konflik kembali mencuat setelah muncul sinyal kemungkinan serangan baru dari AS. Dalam siniar yang dipandu Mario Nawfal, Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack menyampaikan bahwa serangan terhadap Iran berpotensi dilanjutkan dalam waktu dekat, bahkan pada akhir pekan ini.
Menanggapi potensi tersebut, juru bicara Garda Revolusi Iran menyatakan kepada Fars News Agency bahwa angkatan bersenjata negaranya siap menghadapi segala bentuk agresi baru.
“Bahkan jika musuh mengambil tindakan terbatas, respons Iran akan beberapa kali lebih besar,” kata juru bicara itu, dikutip The Hindu.






















