Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ada Gerakan Selasa Bersarung di Kemenag, Apa Itu?

4 min read
Ada Gerakan Selasa Bersarung di Kemenag, Apa Itu?
Menteri Agama, Nasaruddin Umar menggunakan sarung dan peci (dok. Kemenag)
  • Kemenag mendorong penggunaan sarung dan peci untuk melestarikan tradisi pesantren serta memperkuat identitas budaya bangsa.

  • Gerakan Selasa Bersarung diusulkan Basnang Said sebagai kebiasaan satu hari kerja dalam sepekan, tetapi tidak harus menjadi kewajiban.

  • Sarung dan peci dipandang memuat nilai kebersamaan, kehormatan, kerendahan hati, serta tidak menentukan ukuran modern seseorang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Kementerian Agama (Kemenag) mendorong gerakan penggunaan sarung dan peci di lingkungan kerja sebagai upaya melestarikan tradisi pesantren sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa. Salah satu gagasan yang muncul ialah gerakan “Selasa Bersarung”, yakni ajakan mengenakan sarung pada hari Selasa di lingkungan Kemenag.

Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menyampaikan dukungannya terhadap gagasan tersebut saat membuka Festival Sarung dan Peci Santri 2026 di halaman Kantor Kemenag, Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026) malam. Kegiatan yang digelar Direktorat Jenderal Pesantren itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026.

Nasaruddin menilai, penggunaan sarung dan peci dapat dikembangkan menjadi kebiasaan di lingkungan Kemenag. Meski demikian, ia menekankan gagasan tersebut tidak harus menjadi kewajiban bagi seluruh pegawai.

"Festival sarung dan peci ini sebetulnya harus menjadi sebuah kegiatan rutin di Kementerian Agama. Saya setuju kalau seandainya teman-teman sepakat, sekali seminggu kita pakai sarung dan peci," ujar Nasaruddin dalam keterangannya.

Menurut dia, sarung dan peci bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan filosofi. Pelestarian kedua busana tersebut juga menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas bangsa di tengah perkembangan zaman.

  1. 1. Menag sebut sarung dan peci bagian dari identitas bangsa

    IMG-20261024-WA0002(1).jpg
    Menteri Agama, Nasaruddin Umar menggunakan sarung dan peci (dok. Kemenag)

    Nasaruddin Umar mengatakan, ada nilai budaya yang terkandung dalam sarung dan peci. Ia memandang kedua busana tersebut memiliki kedudukan penting dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Indonesia.

    Sarung misalnya, mencerminkan kebersamaan, kesetaraan, dan kebebasan. Penggunaannya yang melintasi berbagai kelompok masyarakat memperlihatkan bagaimana pakaian sederhana dapat menjadi bagian dari identitas budaya yang menyatukan.

    Sementara itu, peci memiliki makna kehormatan dan kewibawaan serta telah berkembang menjadi bagian dari identitas kebangsaan. Penggunaannya tidak terbatas pada komunitas keagamaan, tetapi juga hadir dalam berbagai kegiatan kenegaraan.

    "Peci itu adalah pakaian kebangsaan, pakaian spiritual, pakaian budaya, pakaian kehormatan," ucap Nasaruddin.

    Ia juga menyoroti kekayaan busana tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Sarung Samarinda, sarung Bugis, sarung batik, dan beragam kain tenun memiliki motif serta karakteristik yang mencerminkan identitas masyarakat setempat.

    Begitu pula dengan peci dan berbagai penutup kepala tradisional yang berkembang di Aceh, Kalimantan, Sulawesi, serta wilayah Nusantara lainnya. Keragaman tersebut menunjukkan tradisi berpakaian di Indonesia tumbuh melalui perjalanan sejarah dan interaksi antarmasyarakat.

    Nasaruddin berharap, generasi muda tidak hanya bangga mengenakan sarung dan peci, tetapi juga memahami nilai serta filosofi yang terkandung di dalamnya.

  2. 2. Dirjen Pesantren usulkan gerakan Selasa Bersarung

    Dirjen Pesantren, Basnang Said menggunakan sarung dan peci (dok. Kemenag)
    Dirjen Pesantren, Basnang Said menggunakan sarung dan peci (dok. Kemenag)

    Gagasan Selasa Bersarung disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Pesantren Kemenag, Basnang Said. Ia mengusulkan penggunaan sarung selama satu hari kerja dalam sepekan sebagai bentuk penghargaan terhadap tradisi pesantren yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

    Basnang menyampaikan usulan tersebut dalam laporannya kepada Menag. Menurut dia, gerakan ini dapat dimulai di lingkungan Direktorat Jenderal Pesantren dengan memilih satu hari khusus bagi pegawai untuk mengenakan sarung saat bekerja.

    "Direktorat Jenderal Pesantren merencanakan, jika disetujui oleh Pak Menteri Agama, kami akan mencoba menetapkan satu hari kerja khusus di lingkungan Ditjen Pesantren untuk menggunakan sarung," kata Basnang.

    Hari Selasa dipertimbangkan sebagai waktu pelaksanaan karena dinilai cocok dipadukan dengan pakaian kerja berwarna putih yang biasa dikenakan pegawai.

    "Semoga bisa kita anggap Selasa Bersarung. Kenapa? Karena kalau Selasa masih menggunakan baju putih, apa pun bentuk sarungnya tetap nyambung dengan bajunya," ucap dia.

    Basnang menjelaskan, gagasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pilihan busana, tetapi juga upaya menghidupkan kembali nilai-nilai pesantren dalam keseharian. Sarung dan peci selama ini lekat dengan aktivitas santri, mulai dari beribadah, mempelajari kitab kuning, mengikuti pengajian, hingga menjalani kegiatan pendidikan.

    Menurut dia, kesederhanaan sarung dan peci menyimpan makna yang lebih luas, seperti kerendahan hati, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap nilai spiritual dan sosial.

  3. 3. Sarung bukan simbol keterbelakangan

    Direktur Jenderal Pesantren Kemenag, Basnang Said (IDN Times/Ilman Nafi'an)
    Direktur Jenderal Pesantren Kemenag, Basnang Said (IDN Times/Ilman Nafi'an)

    Basnang mengatakan, masih ada pandangan yang mengaitkan penggunaan sarung dengan kehidupan tradisional yang dianggap kurang modern. Menurut dia, cara pandang tersebut perlu diluruskan karena kemajuan seseorang tidak ditentukan oleh pakaian yang dikenakan.

    Ia menilai kualitas pemikiran, keluasan pengetahuan, serta kontribusi terhadap masyarakat jauh lebih penting dalam menilai kemajuan seseorang. Tradisi dan modernitas juga tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan.

    "Padahal, ukuran modern atau tradisional itu bukanlah terletak pada pakaian yang kita kenakan, melainkan pada cara berpikir dan cara kita memandang sesuatu," ujar Basnang.

    Basnang menambahkan, banyak kiai dan santri tetap mengenakan sarung serta peci dalam keseharian, tetapi memiliki pemikiran maju dan mampu memberikan pandangan untuk menjawab persoalan masyarakat.

    Karena itu, pelestarian busana pesantren dinilai dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Generasi muda diharapkan tetap mengenali akar budayanya sekaligus terbuka terhadap perubahan zaman.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More