Menlu RI: Krisis Myanmar Uji Ketangguhan dan Kredibilitas ASEAN

- Krisis Myanmar menguji ketangguhan dan kredibilitas ASEAN
- Indonesia mengapresiasi peran Filipina dalam dialog dengan pihak di Myanmar
- Indonesia siap memfasilitasi dialog inklusif untuk membangun stabilitas di Myanmar
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menghadiri Extended Informal Consultation on the Implementation of the Five-Point Consensus yang digelar di sela rangkaian Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri (ASEAN Ministerial Meeting/AMM) Retreat ASEAN di Cebu, Filipina.
Pertemuan tersebut menjadi forum penting bagi negara-negara anggota ASEAN untuk membahas perkembangan terkini situasi di Myanmar serta mengevaluasi implementasi Konsensus Lima Poin (Five-Point Consensus/5PC) yang telah disepakati ASEAN.
Dalam kesempatan itu, Menteri Luar Negeri Filipina selaku Utusan Khusus Ketua ASEAN untuk Myanmar memberikan paparan mengenai kondisi terbaru di Myanmar, termasuk hasil pertemuan dengan berbagai pemangku kepentingan di negara tersebut. Diskusi berlangsung mendalam dengan fokus pada langkah konkret ASEAN ke depan dalam mendukung penyelesaian krisis Myanmar secara damai, inklusif, dan berkelanjutan.
1. Krisis Myanmar jadi ujian bagi ASEAN

Dalam pernyataannya, Menlu Sugiono menegaskan situasi di Myanmar merupakan tantangan serius bagi ketangguhan dan kredibilitas ASEAN sebagai organisasi kawasan.
“Situasi di Myanmar merupakan salah satu tantangan bagi ketangguhan dan kredibilitas ASEAN,” ujar Menlu RI dalam pertemuan tersebut.
Ia menilai keterlibatan aktif Utusan Khusus ASEAN ke Myanmar mencerminkan komitmen bersama negara-negara anggota untuk menjaga isu rekonsiliasi Myanmar tetap menjadi prioritas utama.
“Hal ini menunjukkan komitmen ASEAN untuk memastikan bahwa rekonsiliasi di Myanmar tetap menjadi prioritas utama,” ujar Sugiono.
2. Apresiasi Indonesia atas peran Filipina
Secara khusus, Indonesia menyampaikan apresiasi terhadap upaya Menteri Luar Negeri Filipina yang secara aktif melakukan pertemuan dengan berbagai pihak di Myanmar.
Dikutip dari siaran pers Kementerian Luar Negeri RI, Kamis (29/1/2026). Langkah tersebut dinilai Indonesia sebagai kontribusi nyata dan relevan dalam menciptakan ruang dialog serta membangun kepercayaan di tengah kompleksitas situasi politik dan keamanan Myanmar.
Menurut Menlu RI, keterlibatan langsung dan komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan menjadi elemen penting dalam mendorong implementasi Konsensus Lima Poin secara efektif. ASEAN, lanjutnya, perlu terus terlibat secara konstruktif, konsisten, dan berorientasi pada hasil nyata demi perdamaian dan stabilitas kawasan.
3. Indonesia siap fasilitasi dialog inklusif
Menatap ke depan, Menlu Sugiono menekankan perlunya upaya yang lebih terukur dan kreatif untuk membangun stabilitas yang langgeng dan inklusif di Myanmar. Upaya tersebut dinilai penting untuk membentuk fondasi yang kokoh bagi proses pembangunan bangsa (nation-building) Myanmar dalam jangka panjang.
Sebagai bentuk komitmen konkret, Indonesia menyatakan kesiapan untuk berperan aktif memfasilitasi dialog inklusif yang melibatkan seluruh pihak terkait di Myanmar.
“Indonesia juga terbuka untuk menawarkan dukungan praktis, termasuk berbagi pengalaman berharga kami dalam pembangunan bangsa, proses rekonsiliasi, dan penyelenggaraan otonomi daerah,” tuturnya.

















