Meski Gagal di Pakistan, RI Minta Dialog AS-Iran Diteruskan

- Indonesia mendorong AS dan Iran melanjutkan dialog diplomatik meski perundingan di Pakistan gagal, menilai komunikasi tetap penting untuk meredakan ketegangan antarnegara.
- Pemerintah RI menekankan penyelesaian konflik harus berlandaskan hukum internasional serta menghormati kedaulatan negara demi menjaga stabilitas dan tatanan global.
- Negosiasi AS-Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, namun peluang pertemuan lanjutan masih terbuka meski situasi kawasan makin kompleks.
Jakarta, IDN Times - Indonesia mendorong Amerika Serikat dan Iran untuk melanjutkan jalur diplomasi meski perundingan terakhir di Islamabad, Pakistan, belum membuahkan hasil. Pemerintah menilai dialog tetap menjadi kunci untuk meredakan konflik yang terus memanas.
Kementerian Luar Negeri RI menegaskan kegagalan mencapai kesepakatan dalam putaran awal negosiasi tidak seharusnya menghentikan upaya perdamaian. Justru, proses tersebut dipandang sebagai langkah awal yang penting dalam membangun komunikasi antara kedua negara.
Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menyampaikan, Indonesia menyayangkan hasil perundingan yang belum mencapai titik temu, meskipun telah difasilitasi oleh Pakistan.
“Indonesia menyesalkan belum tercapainya kesepakatan dalam perundingan antara AS dan Iran, terlepas dari kerja keras yang dilakukan oleh Pakistan dalam memfasilitasi dialog antara kedua pihak,” kata Yvonne di Jakarta, Kamis (15/4/2026).
Meski demikian, Indonesia melihat adanya peluang yang tetap terbuka dari proses tersebut. “Namun demikian, Indonesia memandang perundingan tersebut merupakan langkah awal yang tepat dan sangat penting, sehingga harus dilanjutkan,” ujarnya.
1. Diplomasi dinilai masih jadi jalan utama

Indonesia menekankan penyelesaian konflik melalui dialog harus tetap menjadi prioritas, terutama di tengah eskalasi yang berpotensi meluas ke kawasan lain.
Yvonne menegaskan, pemerintah terus mendorong semua pihak untuk menahan diri agar konflik tidak semakin memburuk dan berdampak pada stabilitas global. “Indonesia juga senantiasa mendesak semua pihak yang terlibat untuk terus menahan diri demi mencegah meluasnya dampak konflik terhadap stabilitas dan perdamaian dunia,” tuturnya.
Selain itu, Indonesia kembali menegaskan pentingnya pendekatan diplomatik dalam menyelesaikan sengketa internasional. Jalur militer dinilai hanya akan memperpanjang konflik dan meningkatkan risiko bagi kawasan.
“Indonesia senantiasa mendorong semua pihak agar mengedepankan dialog dan diplomasi dalam menyelesaikan konflik,” ujar Yvonne.
Dalam konteks ini, Indonesia juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap norma internasional sebagai fondasi utama dalam menjaga ketertiban global.
2. Tekankan hukum internasional dan kedaulatan

Pemerintah Indonesia mengingatkan setiap upaya penyelesaian konflik harus tetap berpijak pada prinsip-prinsip hukum internasional, termasuk penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Hal ini dinilai penting untuk mencegah preseden yang dapat merusak tatanan global dan memicu konflik baru di masa depan.
“Dalam upaya tersebut, Indonesia menyerukan agar senantiasa menghormati kedaulatan dan integritas wilayah, serta hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” ujar Yvonne.
Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung berbagai upaya diplomasi yang sedang berlangsung, baik secara langsung maupun melalui forum internasional.
“Indonesia juga menyatakan kembali komitmen untuk terus mendukung upaya-upaya diplomasi yang dilakukan terkait isu konflik ini,” lanjutnya.
Sikap ini mencerminkan posisi Indonesia yang konsisten mendorong penyelesaian damai dalam berbagai konflik global.
3. Negosiasi mandek

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah memulai putaran pertama negosiasi di Islamabad setelah adanya kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan.
Namun, perundingan tersebut berakhir tanpa hasil. Wakil Presiden AS J.D. Vance menyatakan delegasi negaranya kembali tanpa kesepakatan dengan pihak Iran.
Di saat yang sama, situasi justru semakin kompleks setelah Presiden AS Donald Trump mengambil langkah lanjutan dengan memblokade Selat Hormuz.
Langkah tersebut mencakup perintah kepada Angkatan Laut AS untuk mengejar dan mencegat kapal-kapal yang membayar untuk melintasi selat strategis tersebut.
Meski demikian, peluang dialog belum sepenuhnya tertutup. Trump menyatakan bahwa putaran negosiasi berikutnya antara Washington dan Teheran masih memungkinkan digelar kembali di Pakistan dalam waktu dekat.


















