Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ganggu Ekonomi Global, Menkeu 11 Negara Ingin Perang Iran Segera Usai

Ganggu Ekonomi Global, Menkeu 11 Negara Ingin Perang Iran Segera Usai
ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)
Intinya Sih
  • Sebanyak 11 menteri keuangan dunia mendesak Amerika Serikat segera mengakhiri perang dengan Iran karena dinilai memperburuk stabilitas ekonomi global dan mengancam keamanan energi di Selat Hormuz.
  • Negosiasi damai tahap pertama antara AS dan Iran di Islamabad gagal setelah Iran menolak syarat penghentian program senjata nuklir yang diajukan AS sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian.
  • Meskipun negosiasi lanjutan dijadwalkan, Israel justru bersiap melanjutkan perang dengan Iran dan menegaskan tuntutan penghapusan kemampuan pengayaan uranium serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Sebanyak 11 menteri keuangan (menkeu) dunia kompak menyatakan keinginannya agar perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel segera usai. Sebab, mereka menilai perang tersebut hanya akan membuat kondisi ekonomi global makin carut marut. 

Oleh karena itu, dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Rabu (15/4/2026), 11 menkeu tersebut mendesak AS untuk mengakhiri perang dengan Iran secara permanen. Terlebih, gencatan senjata yang sudah disepakati AS dan Iran pada pekan lalu hanya bersifat sementara dan akan berakhir pada 22 April mendatang. Jika gencatan senjata berakhir, perang bisa kembali meletus. 

“Kembalinya permusuhan, meluasnya konflik, dan gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz akan menimbulkan risiko tambahan yang serius bagi keamanan energi global, rantai pasokan, serta stabilitas ekonomi dan keuangan,” bunyi pernyataan resmi yang dibuat oleh Menteri Keuangan Australia, Jepang, Swedia, Belanda, Finlandia, Spanyol, Norwegia, Irlandia, Polandia, Selandia Baru, dan Inggris, seperti dilansir Times of Israel.

1. Negosiasi damai tahap pertama antara AS dan Iran gagal total

Kegagalan
ilustrasi kegagalan (pexels.com/Ann H)

Untuk mengakhiri perang, AS sebetulnya sudah melakukan negosiasi damai dengan Iran. Negosiasi tersebut dihelat di Islamabad, Pakistan, pada pekan lalu. AS mengutus Wakil Presiden JD Vance untuk memimpin delegasi dalam negosiasi tersebut.

Sayangnya, usai digelar selama kurang lebih 21 jam, perundingan damai antara AS dan Iran dinyatakan gagal. Menurut Vance, gagalnya negosiasi di Pakistan pekan lalu disebabkan Iran tidak mau menyetujui syarat perdamaian yang diberikan AS. Padahal, jika Iran setuju dengan syarat tersebut, kesepakatan perdamaian kemungkinan besar bisa diraih.

Jadi, jika ingin berdamai, AS meminta Iran untuk menyetop program pengembangan senjata nuklir mereka. Sebab, program senjata nuklir dianggap mengganggu stabilitas keamanan global, khususnya di Kawasan Timur Tengah. Namun, Iran memutuskan untuk menolak syarat tersebut.  

2. AS bersiap melanjutkan negosiasi damai dengan Iran

Negosiasi damai.
ilustrasi negosiasi damai (pexels.com/Markus Winkler)

Meski sempat gagal, negosiasi antara AS dan Iran dikabarkan bakal berlanjut pada Kamis (16/4/2026) waktu AS atau Jumat (17/4/2026) waktu Indonesia. Perundingan tersebut juga bakal digelar di tempat yang sama, yakni di Islamabad, Pakistan.  

Negosiasi tahap kedua yang dilakukan AS dan Iran membuat Presiden Donald Trump merasa yakin bahwa perang akan segera berakhir. Sebab, ia yakin Iran pasti akan memilih damai daripada melanjutkan perang dengan AS dan Israel. 

“Saya rasa, ini (perang antara AS dan Iran) sudah hampir berakhir, ya. Saya menganggapnya sudah sangat dekat dengan akhir,” kata Trump saat diwawancara dalam acara Mornings with Maria bersama Fox Business pada Selasa (14/4/2026) dikutip Jerusalem Post.

3. Israel siap melanjutkan perang melawan Iran

Benjamin Netanyahu sedang berbicara kepada orang banyak.
potret Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (flickr.com/Hudson Institute via commons.wikimedia.org/Hudson Institute)

Namun, sikap berbeda justru ditunjukkan Israel. Alih-alih ingin perang segera usai, negara mayoritas Yahudi tersebut malah ingin melanjutkan perang melawan Iran. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan pihaknya juga sudah menyiapkan kekuatan besar untuk melanjutkan perang melawan Iran.  

“Kami ingin melihat material uranium yang diperkaya milik Iran disingkirkan. Kami juga ingin melihat penghapusan kemampuan pengayaan uranium di Iran. Tentu saja, kami juga ingin melihat pembukaan kembali Selat Hormuz,” kata Netanyahu dalam sebuah video yang diunggah pada Rabu.

Dalam pernyataannya, Netanyahu juga mengingatkan Trump untuk jangan terlalu optimistis dengan hasil perundingan damai antara AS dan Iran. Sebab, perundingan tersebut bisa kembali gagal. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More