- Utara (Lumbung Suara Modi): Penduduknya membludak, sehingga jika dihitung ulang, kursi mereka akan bertambah sangat banyak.
- Selatan (Oposisi): Penduduknya stabil karena berhasil menjalankan program KB dan pendidikan. Jika dihitung ulang, pengaruh suara mereka akan menciut dibanding wilayah Utara yang makin dominan.
Modus Politik Modi: Pakai Isu Perempuan demi Tambah Kursi Parlemen

- Pemerintah Narendra Modi gagal meloloskan amandemen konstitusi karena tidak mencapai mayoritas dua pertiga, meski mengusung isu keterwakilan perempuan sebagai alasan utama.
- Oposisi menilai BJP memanfaatkan kuota 33 persen bagi perempuan untuk melakukan delimitation yang menguntungkan wilayah Utara pendukung pemerintah dan melemahkan pengaruh Selatan.
- Negara bagian di India Selatan menolak rencana tersebut karena dianggap menciptakan ketimpangan politik, sementara hasil voting menunjukkan oposisi berhasil menggagalkan langkah strategis Modi.
Jakarta, IDN Times - Pemerintahan Narendra Modi baru saja mengalami salah satu kekalahan legislatif terbesar dalam satu dekade terakhir. Amandemen konstitusi yang diusulkan partai penguasa, Bharatiya Janata Party (BJP), gagal disahkan setelah tidak mencapai ambang batas mayoritas dua pertiga di parlemen. Meski dibungkus dengan janji manis keterwakilan perempuan, oposisi mencium adanya "modus politik" besar di baliknya.
1. Memahami konsep 'Delimitation': Penghitungan ulang yang mengancam kursi

Sebelum masuk ke inti konflik, kita perlu memahami apa itu delimitation. Di India, jumlah kursi parlemen ditentukan berdasarkan jumlah penduduk di setiap wilayah. Konsep delimitation adalah proses menghitung ulang batas wilayah dan menambah jumlah kursi jika penduduknya bertambah banyak.
Masalahnya, pemerintah Modi ingin menggabungkan jatah kursi perempuan dengan proses ini. Rencananya, kursi parlemen akan ditambah dari 543 menjadi 850 kursi.
2. Isu keterwakilan perempuan jadi 'pintu masuk'

Modi menggunakan kuota 33 persen bagi perempuan sebagai alasan untuk melakukan delimitation besar-besaran tersebut. Ia berargumen bahwa penambahan kursi diperlukan agar keterwakilan perempuan bisa diwujudkan tanpa harus mengurangi jatah kursi bagi politisi laki-laki yang sudah ada saat ini.
Namun, langkah ini langsung memicu kecurigaan. Melansir The Guardian dan Al Jazeera, pihak oposisi menuduh BJP sengaja menyandera isu gender demi merombak peta kekuatan suara nasional. Oposisi menilai Modi sedang berusaha mengamankan kemenangan pemilu hingga puluhan tahun ke depan dengan memperbanyak kursi di wilayah utara yang pro-pemerintah.
3. Ancaman marjinalisasi wilayah Selatan

Bagi negara-negara bagian di India Selatan, rencana ini adalah bentuk ketidakadilan. Mereka merasa "dihukum" karena telah sukses mengelola kependudukan dan ekonomi dengan baik. Menukil laporan The Hindu, jika rencana Modi lolos, wilayah Utara akan memiliki kekuasaan mutlak di parlemen, sehingga aspirasi dari wilayah Selatan yang lebih maju tidak akan lagi terdengar.
"Ini bukan tentang perempuan, ini tentang mencuri suara rakyat," tegas pemimpin oposisi dari wilayah Selatan. Mereka tetap mendukung kuota perempuan, namun menuntut agar hal tersebut dilakukan tanpa harus menunggu proses penghitungan ulang wilayah yang berbau politis.
4. Kegagalan bersejarah di meja voting

Dalam pemungutan suara yang dramatis pada 17 April 2026, pemerintah hanya berhasil mengumpulkan 298 suara setuju, sementara 230 anggota parlemen dengan tegas menolak. Karena ini menyangkut perubahan konstitusi, dibutuhkan 355 suara (dua pertiga) untuk lolos.
Kegagalan ini membuat Modi berang. Ia langsung melancarkan serangan verbal dengan menyebut pihak oposisi "anti-perempuan" dan "penghambat kemajuan bangsa." Di sisi lain, kemenangan oposisi ini dianggap sebagai keberhasilan dalam menjaga keseimbangan kekuatan politik antara wilayah Utara dan Selatan.
















